Hijrah Cahaya Umat Sepanjang Zaman


Oleh: Isnawati (Muslimah Penulis Peradaban)

Perjalanan sejarah Islam mencatat tahun 622 Masehi sebagai momentum yang sangat menentukan. Pada tahun tersebut, Rasulullah SAW meninggalkan Mekkah dan menuju Madinah dalam peristiwa agung yang dikenal dengan hijrah. Beberapa tahun sesudahnya, pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab RA, para sahabat mengadakan musyawarah untuk menetapkan awal kalender Islam. Dalam pembahasan itu, Ali bin Abi Thalib RA mengemukakan pendapat agar hijrah dijadikan titik permulaan penanggalan Hijriah. Usulan tersebut diterima karena hijrah dipandang sebagai penanda yang tegas antara masa dakwah yang penuh tekanan dengan masa tegaknya kehidupan Islam di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW.

Sebelum keberangkatan Rasulullah SAW ke Madinah, sejumlah sahabat telah lebih dahulu meninggalkan Mekkah. Akan tetapi, hijrah yang dilakukan Rasulullah SAW memiliki kedudukan yang jauh lebih besar. Peristiwa tersebut bukan sekadar perpindahan tempat tinggal, melainkan menjadi awal lahirnya masyarakat Islam yang memiliki kepemimpinan, kekuatan, dan tatanan kehidupan yang nyata.

Tekanan yang terus meningkat dari kaum Quraisy terhadap kaum Muslim justru berbanding terbalik dengan keadaan di Yatsrib. Penduduk kota itu menunjukkan penerimaan yang baik terhadap dakwah Islam. Pada tahun kesebelas kenabian, enam orang dari Yatsrib menyatakan keimanan mereka kepada Islam. 

Perkembangan dakwah kemudian melahirkan Baiat Aqabah pertama yang diikuti dua belas orang. Setelah peristiwa tersebut, Rasulullah SAW mengutus Musab bin Umair RA ke Yatsrib untuk mengajarkan Islam sekaligus membina masyarakat yang mulai menerima risalah Islam.
Perkembangan dakwah semakin pesat pada musim haji berikutnya. Sebanyak tujuh puluh lima orang dari Yatsrib datang menemui Rasulullah SAW dan melakukan Baiat Aqabah kedua. Baiat ini menjadi bukti kesiapan mereka untuk menerima kepemimpinan Rasulullah SAW sekaligus memberikan perlindungan penuh kepada beliau dan dakwah Islam.


Jejak Awal Perubahan Besar

Berbagai riwayat yang tercantum dalam kitab-kitab hadis menerangkan bahwa baiat tersebut berisi janji untuk menaati Rasulullah SAW dalam berbagai keadaan, melaksanakan amar makruf nahi mungkar, membela Islam, serta menjaga keselamatan beliau sebagaimana mereka menjaga keluarga sendiri. Atas kesungguhan itu, Rasulullah SAW memberikan kabar gembira berupa surga bagi mereka yang menunaikan janji tersebut.

Pada 26 Safar tahun pertama Hijriah yang bertepatan dengan 9 September 622 Masehi, Rasulullah SAW bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq RA memulai perjalanan menuju Madinah. Perjalanan itu berakhir pada 2 Rabiul Awal tahun pertama Hijriah atau 24 September 622 Masehi beliau tiba dengan selamat di kota tersebut.

Dari Madinah inilah Rasulullah SAW memimpin masyarakat yang terdiri atas kaum Muhajirin, Anshar, dan berbagai kelompok lainnya. Kota itu kemudian berkembang menjadi pusat peradaban Islam yang pengaruhnya menyebar ke berbagai penjuru dunia. Sejarah mencatat bahwa dari kota tersebut lahir salah satu peradaban terbesar yang pernah dikenal umat manusia.

Fakta-fakta sejarah itu menunjukkan bahwa hijrah tidak dapat dipahami hanya sebagai perpindahan dari satu wilayah ke wilayah lain. Hijrah merupakan langkah besar yang mengubah arah perjalanan umat Islam. Dari peristiwa inilah kehidupan yang berlandaskan akidah Islam mulai terwujud secara nyata di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW.

Sesampainya di Madinah, Rasulullah SAW segera melakukan berbagai langkah penting untuk membangun masyarakat Islam. Beliau mendirikan Masjid Nabawi sebagai pusat pembinaan umat, mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, menyusun Piagam Madinah sebagai aturan kehidupan bersama, serta membangun sistem pertahanan untuk menjaga keamanan negara. Berbagai kebijakan tersebut memperlihatkan bahwa Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga memberikan pedoman bagi kehidupan sosial, politik, dan kemasyarakatan.

Dari peristiwa hijrah dapat dipahami bahwa perubahan yang diajarkan Islam selalu memiliki arah yang jelas. Hijrah mengandung makna bergerak dari kondisi yang lemah menuju keadaan yang lebih kuat, dari keterbatasan menuju kemuliaan, dan dari tekanan menuju kehidupan yang lebih baik. Perubahan seperti itu memerlukan tujuan yang pasti, kepemimpinan yang kuat, dan aturan yang mampu menjaga kehidupan masyarakat.

Realitas yang dihadapi kaum Muslim saat ini menunjukkan bahwa pelajaran hijrah tetap memiliki relevansi yang sangat besar. Berbagai persoalan masih membelit umat, mulai dari konflik yang berkepanjangan, kemiskinan, ketidakadilan, krisis moral, hingga berbagai bentuk tekanan yang menimpa kaum Muslim di sejumlah wilayah. Padahal umat Islam memiliki jumlah yang besar dan sumber daya yang melimpah. Namun potensi tersebut sering kali belum mampu menjadi kekuatan bersama karena terhalang oleh kepentingan politik, batas-batas negara, dan berbagai perbedaan yang melemahkan persatuan.


Pelajaran Untuk Umat Sekarang 

Keadaan tersebut melahirkan berbagai konsekuensi yang nyata. Ketika persatuan umat melemah, tekanan ekonomi, politik, maupun militer menjadi lebih mudah menghantam mereka. Ketika Islam tidak dijadikan pedoman kehidupan secara menyeluruh, persoalan sosial terus muncul tanpa solusi yang mendasar. Ketika ukhuwah Islamiah semakin rapuh, penderitaan kaum Muslim di berbagai wilayah dunia tidak memperoleh dukungan yang kuat untuk menghadirkan perubahan yang berarti.

Sungguh, hikmah terbesar yang dapat dipetik dari hijrah adalah pentingnya melakukan perubahan berdasarkan ajaran Islam. Umat membutuhkan persatuan yang kokoh, kepemimpinan yang mampu menghimpun seluruh kekuatan kaum Muslim, serta kesungguhan untuk menjadikan syariat Islam sebagai pedoman kehidupan. Menerapkan syariah dan khilafah solusi yang dapat menyatukan umat sekaligus menghadirkan pengaturan kehidupan berdasarkan wahyu Allah SWT secara menyeluruh.

Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah semestinya menjadi saat yang tepat untuk melakukan muhasabah dan membangun kesadaran tentang pentingnya perubahan. Hijrah mengajarkan keberanian meninggalkan keburukan menuju kebaikan, meninggalkan kelemahan menuju kekuatan, serta meninggalkan perpecahan menuju persatuan. Nilai-nilai itulah yang harus terus dihidupkan dalam kehidupan umat.

Jika hijrah pada masa Rasulullah SAW mampu mengubah masyarakat yang tertindas menjadi peradaban yang memimpin dunia, maka semangat yang sama seharusnya mampu menginspirasi umat Islam pada masa sekarang. Selama umat tetap berpegang teguh kepada ajaran Islam, peluang untuk menghadirkan keadilan, keamanan, keberkahan, dan kemuliaan akan selalu terbuka. Itulah pesan hijrah yang tidak lekang oleh waktu: bergerak dari kegelapan menuju cahaya, dari kelemahan menuju kekuatan, dan dari keterpurukan menuju kebangkitan yang diridhai Allah SWT.

Wallahualam bissawab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar