Ambisi Israel Raya untuk Rampas Palestina, Rebut Al-Aqsa


Oleh: Ummu Hanif Haidar

Agresi entitas zionis terhadap Palestina terus berlangsung tanpa menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Meskipun berbagai seruan gencatan senjata disampaikan oleh masyarakat internasional, serangan militer ke Gaza tetap dilakukan. Bahkan Israel masih melancarkan serangan ke wilayah lain seperti Lebanon tidak lama setelah kesepakatan gencatan senjata diumumkan (Metro TV News, Juni 2026). Di saat yang sama, pembangunan dan perluasan permukiman ilegal di Tepi Barat terus berjalan. Sedikitnya 2.162 unit permukiman baru kembali dibangun di wilayah pendudukan (Antara News, 5/6/2026). Berbagai tindakan provokatif di Masjid Al-Aqsa juga semakin sering terjadi, termasuk upaya mengambil alih hak pengelolaan Al-Aqsa dari Yordania (CNN Indonesia, 5/6/2026). Semua ini menunjukkan bahwa yang terjadi bukan sekadar konflik biasa, melainkan bagian dari ambisi yang lebih besar untuk menguasai seluruh wilayah Palestina dan mewujudkan proyek yang dikenal sebagai Israel Raya.

Perluasan permukiman ilegal di Tepi Barat menjadi bukti nyata bahwa entitas zionis tidak pernah berhenti merampas tanah rakyat Palestina. Bahkan muncul kekhawatiran terhadap skenario penguasaan hingga 70 persen wilayah Gaza oleh Israel (Metro TV News, 2026). Sementara itu, warga Palestina semakin terdesak dari tanah mereka sendiri. Di Gaza, serangan militer yang berkepanjangan telah menghancurkan rumah-rumah, rumah sakit, sekolah, tempat ibadah, serta berbagai fasilitas publik lainnya. Ribuan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, menjadi korban. Citra satelit terbaru bahkan menunjukkan pembangunan pos-pos militer baru Israel di wilayah Gaza yang mengindikasikan upaya memperkuat pendudukan jangka panjang. Berbagai lembaga kemanusiaan internasional menyebut situasi di Gaza sebagai salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia saat ini.

Apa yang dilakukan entitas zionis merupakan bentuk kejahatan kemanusiaan dan kerusakan besar di muka bumi. Bahkan jumlah warga Palestina yang hilang akibat genosida di Gaza dilaporkan telah menembus 9.500 orang. Allah SWT telah mengingatkan tentang karakter para perusak yang menjadikan kerusakan sebagai bagian dari agenda mereka. Allah SWT berfirman: "Dan apabila dia berpaling (dari engkau), dia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, serta merusak tanam-tanaman dan hewan ternak. Dan Allah tidak menyukai kerusakan." (QS Al-Baqarah: 205)

Penghancuran permukiman, fasilitas kesehatan, sarana pendidikan, serta pembunuhan warga sipil yang terus berlangsung di Palestina merupakan gambaran nyata dari kerusakan yang dilarang oleh Allah SWT.

Sayangnya, berbagai kecaman dunia internasional sejauh ini belum mampu menghentikan agresi tersebut. Dukungan politik, ekonomi, dan militer dari negara-negara besar, terutama Amerika Serikat, membuat entitas zionis tetap leluasa menjalankan berbagai kebijakannya. Bahkan berbagai solusi yang ditawarkan sering kali hanya mengarah pada pengakuan terhadap fakta penjajahan yang sudah berlangsung puluhan tahun melalui berbagai skema politik yang tidak menyentuh akar persoalan. Akibatnya, penderitaan rakyat Palestina terus berlanjut tanpa penyelesaian yang mendasar.

Di sisi lain, tragedi Palestina juga memperlihatkan lemahnya posisi dunia Islam saat ini. Negeri-negeri muslim terpecah dalam batas-batas nasionalisme dan kepentingan politik masing-masing. Padahal Allah SWT telah menegaskan bahwa umat Islam adalah satu kesatuan. "Sesungguhnya umat ini adalah umat kamu semua, umat yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku." (QS Al-Mu'minun: 52)

Allah SWT juga berfirman: "Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai." (QS Ali Imran: 103)

Namun realitas yang terjadi justru sebaliknya. Umat Islam terpecah ke dalam puluhan negara yang berdiri sendiri-sendiri sehingga tidak mampu menghadirkan kekuatan politik, ekonomi, dan militer yang cukup untuk menghentikan penjajahan atas Palestina.

Padahal Allah SWT telah memerintahkan kaum muslimin untuk membela saudara-saudaranya yang tertindas. Allah SWT berfirman: "Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang berdoa: 'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zalim...'" (QS An-Nisa: 75)

Ayat ini menunjukkan bahwa pembelaan terhadap kaum muslim yang tertindas bukan sekadar persoalan kemanusiaan, melainkan kewajiban syar'i yang harus ditunaikan oleh umat Islam.

Karena itu, persoalan Palestina tidak cukup diselesaikan dengan kecaman, demonstrasi, atau bantuan kemanusiaan semata. Akar masalahnya adalah penjajahan yang didukung kekuatan global di satu sisi, serta tercerai-berainya umat Islam di sisi lain. Solusi mendasarnya adalah kembali kepada penerapan syariat Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.

Penerapan syariat Islam kaffah akan menyatukan umat Islam dalam satu kepemimpinan yang menghapus sekat-sekat nasionalisme. Dengan persatuan tersebut, potensi besar umat Islam yang tersebar di berbagai negeri dapat diarahkan untuk melindungi darah, kehormatan, dan wilayah kaum muslimin. Politik luar negeri akan dibangun berdasarkan akidah Islam dan kewajiban menjaga kemuliaan umat, bukan berdasarkan tekanan negara-negara adidaya atau kepentingan pragmatis sesaat.

Selain itu, syariat Islam juga mewajibkan negara membangun kekuatan yang mampu melindungi umat. Allah SWT berfirman: "Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi..." (QS Al-Anfal: 60)

Dengan kekuatan politik, ekonomi, dan militer yang dibangun berdasarkan syariat Islam, pembelaan terhadap Palestina tidak lagi berhenti pada pernyataan simpati, tetapi diwujudkan dalam langkah nyata untuk menghentikan penjajahan dan membebaskan Masjid Al-Aqsa dari cengkeraman entitas zionis.

Oleh karena itu, tragedi yang menimpa Palestina hari ini semestinya menyadarkan umat Islam akan pentingnya kembali kepada syariat Islam secara kaffah. Hanya dengan persatuan umat di bawah aturan Allah SWT, kekuatan kaum muslimin dapat dibangun kembali, penjajahan dapat dihentikan, dan Palestina serta Masjid Al-Aqsa dapat dibebaskan dari kezaliman yang telah berlangsung begitu lama.

Wallahua'lam bisshowab




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar