Oleh: Endang Mustikasari
Berdasarkan data dan laporan dari Kementerian Ketenagakerjaan serta Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), lebih dari 23 ribu pekerja telah di PHK per Mei 2026. Adapun data PHK terbesar terjadi di lima provinsi yaitu, Jawa Barat 5.044, Banten 2.596, Jawa Timur 2.332, Kalimantan Selatan 1.841dan Kalimantan Timur 1.831 pekerja yang di PHK. Badai PHK ini diperkirakan akan terus berlanjut dan bertambah pada beberapa bulan kedepan. Bahkan bisa menembus diangka sembilan ribu pada sepuluh perusahaan terbesar di Indonesia.
Wakil presiden KSPI Bapak Kahar S.Cahyono menyatakan pekerja yang di PHK ini terutama dalam sektor manufaktur dan otomotif. Adapun pemicu utamanya adalah tekanan biaya produksi akibat kenaikan bahan bakar industri, melemahnya nilai tukar rupiah yang mendorong lonjakan biaya bahan baku impor. (Okezone, 5- 6- 2026)
Melemahnya nilai rupiah yang telah menembus 18.000 ribu persatu dolar membuat Indonesia diambang batas krisis moneter. Mengapa ini bisa terjadi di negeri yang kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusia? Negeri kita tidak kekurangan apapun dan orang ahli juga tidak sedikit. Ya. Semua ini terjadi karena penerapan sistem kapitalisme yang dianut negeri ini dan menjadi ideologi dunia.
PHK terjadi karena buah kapitalisme di terapkan. Pekerja hanya jadi komoditas para pemilik modal. Sedangkan negara tidak hadir sebagai pembuat kebijakan yang pro terhadap rakyat. Negara hadir sebagai regulator antara pengusaha dan rakyat.
Negara dengan sistem kapitalisme ini tidak mampu menciptakan lapangan kerja karena bergantung pada pemilik modal dan pengusaha. Sedangkan pengusaha hanya membuka lowongan pekerjaan jika mereka membutuhkan saja.
Dari sinilah PHK seringkali jadi badai yang tak terbendung kadang kala. Bayangkan jika badai PHK ini terus berlanjut, maka akan berdampak kepada daya beli masyarakat. Dan kian diperparah dengan melemahnya rupiah sebagai nilai tukar barang.
Dari sinilah, kita butuh mengganti sistem ini. Islam hadir dengan membawa solusi yang tepat. Negara harus mengubah sistem kapitalisme ini menjadi sistem Islam di setiap lininya. Negara bisa hadir sebagai pelayan umat. Menutup kran impor, menciptakan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan keahlian bagi pencari nafkah, mengelola sumber daya alam sendiri. Serta menciptakan distribusi yang merata dengan baik.Sehingga terciptalah kesinambungan. Meratanya distribusi dan produksi.
Kembali kepada sistem Islam dengan Baitul Maal sebagai ladang pengelolaan ekonomi. Bukan pajak. Bukan pula hutang luar negeri dengan bunga riba. Baitul maal akan menciptakan kesejahteraan bagi setiap individu masyarakat baik dalam pendidikan, kesehatan dan keamanan serta terciptanya kesejahteraan umat.
Pembiayaan negara. dengan hutang luar negeri akan membuat negara tidak mempunyai kedaulatannya sendiri. Semua diatur oleh pemilik modal yaitu negara Asing dan Aseng.
Dari sinilah, Islam hadir dan menjadi solusi setiap permasalahan hidup. Tidakkah kita merindukannya? Kembali kepada Islam sebagai sistem dalam setiap lini kehidupan. Baik individu, masyarakat dan bernegara. Negara mempunyaikedaulatannya sendiri. Berdiri dengan kemampuan sumber daya alam dan sumber daya manusianya.
Sehingga terbentuklah negara yang rahmatan Lil alamin. Seperti yang termaktub dalam Al Qur'an surat Al a'raf ayat 96.
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ ٩٦
"Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan"
Saatnya kita merapatkan barisan, menegakkan kembali hukum- hukum Islam dalam setiap lini kehidupan. Agar tercipta kesejahteraan, tidak ada korupsi, tidak ada lagi generasi yang putus sekolah dan tidak ada PHK massal bagi pencari nafkah.
Allahu a'lam bishowab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar