Anak Gaza Tercabik Luka, Akankah Umat Tetap Membisu dari Perjuangan Khilafah?


Oleh : Mekar Sari (Ibu Generasi)

Banyak anak Gaza yang saat ini bukan hanya kehilangan rumah dan orang tua, tetapi juga kehilangan suaranya sendiri. Trauma yang mereka alami terlalu dalam, sampai kata-kata pun enggan keluar dari mulut kecil yang seharusnya riang. Sementara dunia sibuk rapat dan mengutuk tanpa tindakan, kapan sebenarnya kepedulian itu berubah jadi pembelaan nyata? Kapan umat Islam yang katanya satu tubuh akan berhenti diam dan bersatu untuk menghentikan ini? Harus berapa banyak lagi tubuh mungil yang tercabik dan masa depan yang terkubur sebelum kebiadaban Zionis Israel benar-benar kita lawan, bukan sekadar kita ratapi?

Menurut kementerian setempat, sedikitnya 846 orang yang terdiri dari perempuan dan anak-anak tewas di Gaza dalam rentetan serangan Israel sejak genjatan senjata. Sementara menurut UNICEF, sejak Oktober 2023 pasukan Israel dilaporkan telah membunuh lebih dari 20.000 anak Gaza dan mengakibatkan lebih dari 41.000 terluka. Jadi, menurut kementerian kesehatan Gaza serangan-serangan Israel telah menewaskan lebih dari 72.000 orang yang mayoritasnya warga sipil dan melukai lebih dari 172.000. 

Kekerasan, kehancuran, dan genosida di Gaza membuat sejumlah anak merespon penderitaan yang luar biasa itu dengan diam. Katrin Glatz Brubakk, seorang psikoterapis anak dari Norwegia, mengatakan, tidak ada satu pun anak di Gaza yang tidak trauma. Ada lebih dari satu juta anak yang telah menderita trauma parah. 

Katrin telah melakukan dua misi kemanusiaan ke Gaza pada 2024 dan 2025 bersama Médecins Sans Frontières (MSF), untuk melayani anak-anak yang kehilangan kemampuan berbicara akibat konflik. Walau Katrin tak mengetahui dengan pasti berapa banyak anak di Gaza yang berhenti berkomunikasi. Akan tetapi, Katrin mengaku menemukan puluhan kasus serupa di Gaza. (BBC.com, 29-5-2026)


Tangis yang Membisu, Jawaban yang Terus Ditunda

Derita sunyi yang dialami anak-anak Gaza hingga mereka kehilangan kemampuan bicara adalah dampak kejahatan entitas zionis yang terus menyerang, membunuh, dan menghancurkan Gaza. Trauma yang membungkam anak-anak Gaza merupakan dampak dari kekerasan berkepanjangan yang menghancurkan kehidupan, keluarga, dan masa depan mereka. Skenario genosida rakyat Gaza dilakukan untuk menghancurkan fisik dan mental sehingga mengancam lahirnya generasi yang tumbuh dalam luka yang begitu dalam.

Dunia tak mampu menghentikan kejahatan entitas Zionis ini, kecuali sedikit bantuan kemanusiaan. Sementara penguasa Muslim justru melakukan pengkhianatan terhadap perjuangan Muslim Palestina. Lembaga internasional dan negara-negara di dunia hingga kini belum mampu menghentikan penderitaan yang terus berlangsung. Bantuan kemanusiaan yang diberikan belum menyentuh akar persoalan, yaitu penjajahan dan agresi yang terus terjadi di Gaza.

Umat Islam kehilangan perisai yang melindungi, yaitu Khilafah Islam. Negeri-negeri Muslim yang memiliki kekuatan besar belum menunjukkan langkah politik dan militer yang mampu menghentikan tragedi kemanusiaan tersebut. Kondisi ini menunjukkan absennya kekuatan politik umat yang mampu melindungi kaum Muslimin dan membela wilayah yang terjajah yaitu Palestina.

Derita anak-anak Palestina harus segera diakhiri. Solusi yang dibutuhkan bukan sekadar terapi trauma atau bantuan kemanusiaan darurat, meskipun itu penting untuk meringankan penderitaan mereka. Namun, solusi yang dibutuhkan harus menyentuh akar persoalannya yaitu menghapuskan dan mengakhiri penjajahan, agresi militer, dan perampasan hak hidup yang terus berlangsung di tanah Palestina. Selama penjajahan masih bercokol, trauma, ketakutan, kehilangan keluarga, kelaparan, dan penderitaan akan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. 

Umat sudah terlalu lama percaya bahwa kutukan, donasi, dan resolusi PBB bisa menghentikan peluru Zionis. Faktanya, tiap tahun jumlah anak korban makin bertambah. Dunia memang tidak akan peduli selama kepentingannya tidak terusik, dan umat Islam tidak akan bersatu selama masih terpecah dalam batas negara-bangsa (nation state) buatan penjajah. Sejarah mencatat, ketika Palestina dahulu berada di bawah naungan Khilafah Utsmaniyah, darah kaum Muslimin di sana terjaga karena ada negara yang benar-benar berfungsi sebagai pelindung dan perisai. Maka pertanyaannya bukan lagi "mampukah kita menolong Gaza?", tetapi "masih beranikah kita menunda penerapan sistem yang memang diturunkan untuk melindungi nyawa dan kehormatan umat?"


Akhiri Derita Gaza dengan Jihad dan Khilafah

Untuk pembebasan Palestina dari penjajahan menjadi kebutuhan mendesak tidak bisa ditunda agar anak-anak Palestina dapat kembali hidup aman, memperoleh pendidikan yang layak, tumbuh dalam lingkungan yang sehat, dan menikmati masa depan sebagaimana anak-anak di belahan dunia lainnya. Mengakhiri penderitaan mereka menuntut penyelesaian akar masalah, yaitu berakhirnya penjajahan dan terwujudnya keadilan bagi rakyat Palestina.

Dunia tidak boleh hanya menyaksikan dan mengobati luka-luka yang terus diproduksi oleh konflik. Hal yang lebih penting adalah menghentikan sumber luka tersebut. Anak-anak Palestina tidak membutuhkan belas kasihan semata, tetapi mereka membutuhkan hak untuk hidup merdeka, aman, dan bermartabat di tanah air mereka sendiri. Sementara penjajah harus segera pergi dari bumi Palestina, bumi para Nabi, dan tempat yang disucikan.

Kejahatan entitas zionis harus dilawan dengan jihad fii sabiilillah. Untuk itu, dibutuhkan institusi Khilafah yang akan mengirimkan tentaranya untuk membebaskan Palestina. Umat Islam perlu memiliki kesadaran bahwa pembebasan Palestina membutuhkan kekuatan politik yang mampu menyatukan potensi umat dan melindungi kaum Muslimin. Persatuan umat di bawah kepemimpinan Islam dipandang sebagai instrumen strategis untuk menghadirkan perlindungan, kekuatan, dan pembelaan terhadap negeri-negeri Muslim yang terjajah. Kesadaran politik umat untuk memperjuangkan tegaknya syariat Islam secara menyeluruh dan mewujudkan persatuan umat menjadi bagian penting dalam upaya pembebasan Palestina.

Derita sunyi anak-anak Gaza harus menjadi panggilan bagi umat Islam untuk bergerak, bersatu, dan memperjuangkan hadirnya kepemimpinan yang mampu menjadi perisai bagi umat serta pembebas negeri Palestina. Ketika anak-anak Gaza kehilangan suara karena trauma dan penjajahan, umat Islam tidak boleh kehilangan suara dalam perjuangannya. Gaza membutuhkan pembebasan, dan umat membutuhkan persatuan serta kepemimpinan yang menjadi perisai bagi seluruh kaum muslimin.

Islam memerintahkan kaum Muslim untuk hidup di bawah kepemimpinan yang menerapkan syariat dan mengurus urusan umat berdasarkan hukum Allah. Rasulullah ï·º bersabda bahwa "Imam/khalifah adalah junnah (perisai), yang berfungsi melindungi umat dan menjaga agama." (HR. Bukhari dan Muslim)


Khatimah 

Keberadaan pemimpin umum bagi kaum Muslim bukan sekadar urusan politik, tetapi bagian dari pengaturan kehidupan yang diperintahkan syariat. Ketika institusi Khilafah tidak ada, fungsi perlindungan terhadap agama, jiwa, harta, kehormatan, dan persatuan umat tidak berjalan secara sempurna sebagaimana yang diperintahkan Islam. Berbagai persoalan yang menimpa kaum Muslim menunjukkan pentingnya adanya kekuatan politik yang mampu menjaga kepentingan umat dan menerapkan syariat secara menyeluruh. Oleh karena itu, dakwah untuk meningkatkan kesadaran umat terhadap kewajiban penerapan syariat Islam dan pentingnya kepemimpinan Islam dipandang sebagai bagian dari upaya menjalankan ajaran Islam secara kaffah.

Hilangnya Khilafah bukan sekadar hilangnya sebuah institusi politik, tetapi hilangnya perisai umat yang berfungsi menjaga agama, melindungi kaum Muslim, dan menerapkan hukum Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Karena itu, kesadaran akan pentingnya kepemimpinan Islam menjadi bagian dari upaya mengembalikan kehidupan Islam yang diridai Allah Swt. Allahua'lam Bishawab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar