Oleh : Rina Apriliani
Sejak awal kelahirannya, pesantren selalu menjadi mercusuar bagi umat Islam. Institusi ini tidak hanya menanamkan ilmu agama, tetapi juga berfungsi sebagai benteng penjaga kemurnian akidah dan marwah perjuangan umat. Dari rahim pesantrenlah lahir generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan memiliki semangat juang tinggi.
Namun, seiring berjalannya waktu, terjadi pergeseran fundamental dalam arah perjalanan pesantren. Banyak pesantren kini lebih dikenal sebagai pusat kegiatan ekonomi, pelatihan kewirausahaan, atau lembaga penggerak sosial. Fokus pada agenda modernisasi dan tuntutan dunia industri ini, tanpa disadari, sering kali menggerus ruh perjuangan Islam yang melekat padanya. Peran esensial pesantren sebagai pusat pembinaan ideologis umat mulai memudar, tergeser oleh tujuan pragmatis yang cenderung materialistis.
Dalam sejarah panjang Islam di Nusantara, pesantren adalah sumber utama kebangkitan. Para kiai pada masa itu bukanlah sekadar guru agama, melainkan pemimpin perjuangan yang menyalakan semangat kemerdekaan dan membangkitkan harga diri umat Islam. Mereka memahami bahwa kemerdekaan sejati melampaui bebas dari penjajahan fisik; ia juga menuntut pembebasan dari penjajahan pemikiran. Oleh karena itu, pesantren mendidik santri tidak hanya agar mahir membaca kitab, melainkan agar memiliki kesadaran ideologis bahwa Islam adalah sistem kehidupan (dien) yang wajib diperjuangkan penegakannya secara kaffah.
Saat ini, modernisasi sering dijadikan pembenaran untuk mengubah wajah pesantren secara radikal. Dorongan agar pesantren menjadi “lebih terbuka,” “lebih moderat,” atau “lebih relevan dengan dunia kerja” berisiko menjauhkan pesantren dari peran aslinya sebagai benteng ideologi Islam.
Adaptasi memang dibutuhkan, tetapi pesantren tidak boleh kehilangan ruh dan jati dirinya. Santri boleh menguasai teknologi, ekonomi, dan berbagai ilmu kontemporer, namun semua harus dilandaskan pada akidah yang kokoh dan visi perjuangan Islam. Tanpa fondasi ini, pesantren hanya akan melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual tetapi kosong secara spiritual, ideologis, dan semangat perjuangan.
Kebangkitan umat Islam adalah keniscayaan jika pesantren kembali menegaskan dan memperkuat jati dirinya. Kekuatan pesantren tidak diukur dari kemegahan gedungnya, melainkan dari visi dan arah pendidikannya yang jelas, yaitu melahirkan kader-kader pejuang Islam yang berpikir jernih, berakhlak mulia, dan siap memperjuangkan kebenaran.
Kebangkitan umat bukanlah proyek sesaat, melainkan hasil dari proses pendidikan ruh, akal, dan amal yang panjang dan konsisten. Pesantren harus kembali berperan sebagai fondasi peradaban dengan kembali berdiri di garis depan: menjaga kemurnian akidah, memperjuangkan syariat, dan membangun kesadaran ideologis umat.
Pesantren adalah napas perjuangan umat Islam. Kini, saat dunia Islam menghadapi berbagai krisis moral dan ideologis, pesantren harus kembali menegaskan perannya: bukan sekadar lembaga pendidikan tradisional, tetapi poros sentral kebangkitan peradaban Islam.
"Selama pesantren menjaga akidah dan perjuangan, selama itu pula umat akan terus memiliki harapan untuk bangkit."
Wallahu alam..
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar