Malapetaka Remaja dan Ancaman Narkoba: Sebuah Renungan untuk Kita Semua


Oleh : Mia

Baru baru ini, Indonesia kembali digemparkan oleh kabar yang sangat memprihatinkan: 15 orang siswa SMP di Surabaya dinyatakan positif mengonsumsi narkoba. Dan lebih menyedihkan lagi, kasus ini berkaitan dengan sebuah kawasan yang dijuluki “Kampung Narkoba” di Jalan Kunti, tempat transaksi gelap dan pesta sabu berlangsung nyaris tanpa pengawasan memadai. Fakta ini bukan hanya menyentak, membuat kita terbelalak kaget,tetapi juga mengingatkan kita bahwa perang terhadap narkoba belum selesai, dan yang menjadi korbannya kini bukan lagi orang dewasa saja, tetapi anak-anak kita yang menjadi generasi masa depan bangsa.


Remaja sebagai Korban: Kerapuhan yang Sering Diabaikan

Remaja adalah fase pencarian jati diri. Di usia ini, rasa ingin tahu tinggi, emosi labil, serta keinginan untuk diakui sering kali membuat mereka rentan terhadap pengaruh buruk lingkungan. Dan ketika mereka hidup di area yang dekat dengan akses mudahnya mendapatkan narkoba, atau ketika pengawasan orang tua dan negara melemah, maka runtuhlah benteng pelindung mereka.

Dalam kasus Surabaya, sangat jelas bahwa narkoba sudah merasuk ke dalam sistem sosial masyarakat, mulai dari peredaran, transaksi, hingga lokasi yang secara terbuka berubah menjadi pusat kejahatan. Ini bukan semata merupakan kegagalan individu, tetapi juga kegagalan struktur sosial dan utamanya negara dalam melindungi warganya, terutama remaja.


Narkoba Merusak Nilai Keimanan dan Kebahagiaan Hakiki

Salah satu analisis penting dari fenomena yang terjadi adalah hilangnya nilai keimanan dan kebahagiaan hakiki pada sebagian remaja. Ketika jiwa kosong, ketika cinta dan perhatian di rumah menipis, ketika pendidikan moral hanya menjadi teori tanpa keteladanan, maka remaja mudah mencari pelarian. Dan narkoba menawarkan pelarian semu itu.

Padahal, Islam dengan tegas mengharamkan segala hal yang merusak akal, tubuh, dan kehidupan manusia. Al-Qur’an dengan jelas mengingatkan: “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, perjudian, berhala dan undian adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan, maka jauhilah agar kalian beruntung.” ( QS. Al-Ma’idah: 90).

Meski ayat tersebut menyebutkan khamr, ulama sepakat bahwa semua zat memabukkan dan merusak akal termasuk narkoba termasuk dalam larangan ini. Rasulullah SAW juga menegaskan: "Segala sesuatu yang memabukkan adalah haram." (HR. Muslim)

Jika orang dewasa saja dilarang keras mengonsumsi zat yang merusak akal, apalagi anak-anak yang masih dalam fase perkembangan otak dan moral. Narkoba bukan hanya menghancurkan fisik mereka, tetapi juga masa depan, akhlak, dan potensi besar yang seharusnya diraih.


Kampung Narkoba: Ketika Pembiaran Berbuah Malapetaka

Salah satu masalah mendasar adalah pembiaran. Kawasan yang dikenal publik sebagai “Kampung Narkoba” semestinya menjadi prioritas aparat dan pemerintah. Namun faktanya, peredaran tetap terjadi, anak-anak sekolah bisa mengakses barang haram itu, bahkan transaksi dilakukan secara terbuka.

Pembiaran semacam ini adalah bentuk kelalaian yang dampaknya luar biasa besar. Kelalaian terhadap narkoba bukan sekadar mengancam satu atau dua orang, tetapi mengancam keberlangsungan generasi bangsa. Jika dibiarkan, jumlah remaja yang rusak karena narkoba akan terus bertambah, dan kedepannya Indonesia akan menghadapi krisis moral, ekonomi, dan sosial yang jauh lebih besar.


Negara dan Keluarga: Dua Pilar yang Tidak Boleh Kalah

Ada tiga kekuatan utama yang harus terlibat dalam perang melawan narkoba:
1. Keluarga: Benteng Pertama
Remaja membutuhkan perhatian, pengawasan, kasih sayang, dan ruang dialog. Banyak kasus narkoba terjadi karena anak kehilangan tempat bercerita atau merasa tidak dihargai di rumah. Pendidikan spiritual dan moral harus dimulai dari keluarga, bukan hanya di sekolah.

2. Negara: Jangan Lemah dalam Penegakan Hukum
Negara wajib melindungi warganya dari bahaya narkoba. Aparat tidak boleh kompromi terhadap pengedar, bandar, atau jaringan yang merusak bangsa. Narkoba bukan sekadar kejahatan, tapi perang terhadap generasi. Penegakan hukum harus tegas, konsisten, dan bebas dari korupsi.

3. Masyarakat: Jangan Apatis
Masyarakat harus peduli. Melaporkan aktivitas mencurigakan, menjaga lingkungan, serta menciptakan ruang positif bagi remaja adalah kontribusi nyata. Jika masyarakat diam, maka kejahatan akan tumbuh subur.


Islam Mewajibkan Kita Menjaga Generasi

Allah SWT berfirman: “Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada kalian.” ( QS. An-Nisa: 29).
Ayat ini menegaskan larangan melakukan sesuatu yang merusak diri sendiri, baik fisik maupun akal. Narkoba adalah bentuk pembunuhan diri secara perlahan.

Rasulullah SAW juga bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, orang tua bertanggung jawab atas anaknya, pemerintah atas rakyatnya, masyarakat atas lingkungannya.


Kita Tidak Boleh Menyerah

Kasus siswa SMP di Surabaya harus menjadi alarm keras bagi kita semua. Ini bukan hanya tragedi, tetapi tanda betapa rapuhnya perlindungan kita terhadap generasi muda. Kita tidak boleh diam. Tidak boleh lengah. Dan tidak boleh menyerah.

Perang melawan narkoba adalah perang yang harus dimenangkan demi masa depan anak-anak kita, demi akhlak bangsa, dan demi Indonesia yang lebih kuat. Wallohu a'lam bishowab




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar