Kapitalisme Bertanggungjawab terhadap Tingginya Food Loss and Waste


Oleh : Kanti Rahmillah, M.Si

Persoalan sampah masih menjadi PR yang belum terselesaikan. Sudah banyak pakar dan aktivis lingkungan bersuara akan hal tersebut lantaran angkanya yang terus bertambah signifikan. United Nations Environment Programme (UNEP) melalui laporan Food Waste Index Report 2024 memperlihatkan bahwa Indonesia adalah negara penghasil sampah makanan rumah tangga terbanyak se-Asia Tenggara, tepatnya 14,73 juta ton per tahun.

Data Sistem Informasi Pengendalian Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) 2024 mencatat sisa makanan menyumbang 39,36% dari total 35,02 juta ton sampah nasional. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, persentasenya bahkan lebih tinggi, mencapai 52,55%.

Lantas apa yang menjadi akar persoalan tingginya food loss and waste di Indonesia?


Akibat Kapitalisme

Food loss adalah kehilangan kuantitas kualitas makanan dari tingkat produksi-distrribusi. Terjadi sebelum makanan mencapai konsumen (misalnya saat panen, pascapanen, pengolahan, dan distribusi). Food waste yakni kehilangan makanan dari Tingkat ritel-konsumsn. Terjadi di tingkat ritel dan konsumen, saat makanan dibuang meskipun masih layak dikonsumsi.

Sistem kapitalisme memicu tingginya food loss dan waste, sebab; 1, Dalam sistem kapitalis, perusahaan pertanian dan industri makanan termotivasi untuk memproduksi sebanyak mungkin agar dapat memenuhi pasar, menguasai pangsa, dan menurunkan biaya satuan produksi (economies of scale). Ini sering menyebabkan produksi berlebih, yang tidak terserap oleh pasar, dan akhirnya terbuang (food loss).

Dari sisi konsumen, kapitalisme mendorong perilaku Konsumerisme alias dorongan Konsumsi Tanpa Batas. Kapitalisme tidak hanya memproduksi barang, tapi juga menciptakan hasrat dan kebiasaan konsumsi yang berlebihan. Akibatnya, banyak makanan dibeli, tidak habis, kemudian dibuang (food waste).Budaya konsumtif ini menormalkan pemborosan sebagai gaya hidup modern.

Begitupun dari sisi distribusi, kapitalisme menjadikan negara lepas tangan dan distribusi diserahkan seluruhnya pada pasar. Walhasil distribusi jauh dari kata merata. Kelaparan bukan karena kekurangan makanan, tapi karena distribusi yang tidak adil. Kapitalisme tidak menjamin distribusi makanan berdasarkan kebutuhan. Sebaliknya, makanan pergi ke pasar yang mampu membayar, bukan ke wilayah yang membutuhkan. Akibatnya surplus makanan di satu tempat dan minus alias kekurangan dan kelaparan di tempat lain.


Solusi Islam 

Islam memandang makanan adalah amanah dan rezeki dari Allah Swt sehingga manusia harus bersyukur dan jangan menyia-nyiakannya. Makanan pun bukan semata komoditas yang keberadaanya hanya itung-itungan profit sehingga sah dihambur-hamburkan demi keuntungan semata. Dengan pemahaman demikian akan menjadi control internal seseorang untuk membuang-buang makanan.

Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31) 

Selain prilaku yang tidak konsumtif dan mubazir, islam pun mendorong pelaku ekonomi untuk memproduksi secara proposional. Tidak boleh berlebihan jika tahu itu akan mubazir. Islam pun mendorong agar produksi fokus pada kebutuhan bukan akumulasi profit. Sehingga peningkatan produksi akan maksimal dilakukan dengan perencanaan yang matang dan berbasis kebutuhan umat. 

Negara memiliki peran sentral dalam menyelesaikan persoalan sampah sebab ini adalah persoalan yang menyangkut kehidupan umat manusia. Banyaknya sampah akan menimbulkan banyak penyakit. Misalnya negara menyediakan infrastruktur pertanian dan distribusi seperti cold storage, gudang, transportasi agar food loss berkurang. 

Negara pun akan menimbang dengan cermat seluruh kebijakan yang ditetapkan agar kebijakan tersebut mampu menyelesaikan persoalan dan tidak menimbulkan persoalan baru.


Khatimah

Oleh karena itu, Persoalan food loss and waste akan tetap ada dan makin parah selama sistem kapitalisme menjadi platform tata Kelola. Maka sudah saatnya beralih pada sistem sohih buatan sang pencita yaitu sistem islam. 

Waallualam




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar