Oleh: Safira Luthfia
Realitas Meningkatnya Angka Perceraian dan Dampaknya bagi Generasi
Tingginya jumlah perceraian di berbagai kalangan, termasuk di antara pasangan muda dan yang lebih tua, menjadi tanda bahwa ketahanan keluarga mengalami masalah serius. Banyak pasangan yang menikah tanpa dasar pemahaman yang benar, serta tanpa kesiapan emosional maupun mental, sehingga saat terjadi pertengkaran, mereka dengan mudah memilih untuk berpisah. Masalah seperti pertikaian, beban ekonomi, perilaku buruk, perselingkuhan, dan pengaruh judi online turut memperburuk situasi.
Situasi ini bukan sekadar masalah antara suami dan istri, tetapi berdampak pada generasi yang ada. Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang bermasalah seringkali kehilangan kestabilan emosional dan kepastian dalam kepribadian mereka. Mereka melihat konflik, merasakan ketidakamanan, dan tumbuh dengan beban psikologis yang mengurangi percaya diri serta kemampuan mereka untuk menjalin hubungan sosial yang sehat. Ketika masalah ini terjadi secara luas, lahirlah generasi yang lemah dari segi moral dan mental, jauh dari contoh baik yang seharusnya mereka dapatkan dalam keluarga.
Akar Masalah dalam Sistem Sekuler Kapitalis
Masalah perceraian tidak bisa dilihat hanya sebagai kegagalan komunikasi atau hilangnya komitmen. Akar permasalahannya jauh lebih kompleks, yaitu pengaruh pandangan sekuler kapitalis yang membentuk pola pikir masyarakat. Sistem pendidikan saat ini tidak memfokuskan diri untuk membina kepribadian Islam yang solid. Pendidikan lebih difokuskan pada aspek teknis dan keberhasilan materi, sementara nilai-nilai akhlak, ketakwaan, dan kesiapan untuk membangun keluarga sering kali terabaikan. Akibatnya, banyak orang dewasa secara fisik, namun belum matang dalam kepribadian.
Sistem pergaulan sekuler memberikan kebebasan berinteraksi yang sangat leluasa, yang mengganggu komitmen dan kehormatan keluarga. Media sosial, gaya hidup yang permisif, dan hilangnya batasan dalam bersosialisasi menyebabkan munculnya banyak perilaku menyimpang yang merusak hubungan rumah tangga. Di sisi lain, sistem ekonomi kapitalis menekan keluarga dengan biaya hidup yang tinggi, ketidakpastian pendapatan, dan tuntutan sosial yang tidak realistis. Semua ini menciptakan suasana yang memicu pertengkaran, yang sering berujung pada perceraian.
Dalam pandangan Islam, kerusakan dalam keluarga adalah akibat dari sistem yang mengesampingkan nilai-nilai ketakwaan dan menggantikannya dengan ukuran kebahagiaan yang berorientasi pada materi dan kebebasan individu. Selama komunitas masih terjebak dalam sistem semacam ini, angka perceraian akan terus meningkat dan generasi yang lahir akan semakin rapuh.
Solusi Islam untuk Menguatkan Keluarga dan Generasi
Islam memberikan solusi komperhensif, karena keluarga dilihat bukan hanya sebagai urusan pribadi, melainkan sebagai bagian penting dari tatanan masyarakat. Sistem pendidikan Islam dirancang untuk menanamkan akidah yang kuat sebagai dasar berfikir, sehingga individu bisa berkembang dengan kepribadian yang tangguh, memahami makna pernikahan, dan siap menjalankan peran sebagai suami atau istri dengan penuh tanggung jawab. Pernikahan tidak dianggap sebagai pelarian emosi, tetapi sebagai suatu ibadah dengan konsekuensi yang besar.
Sistem pergaulan dalam Islam membatasi interaksi antara pria dan wanita dalam batasan yang jelas, sehingga resiko penyimpangan dapat ditekan. Ini menjadi benteng penting untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Selain itu, sistem ekonomi Islam juga memberikan kepastian dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat dan mencegah ketidakadilan ekonomi, sehingga tekanan finansial tidak menjadi pemicu konflik dalam kehidupan rumah tangga.
Dengan penerapan syariah secara menyeluruh, keluarga dapat menjadi semakin kuat. Pasangan lebih siap menghadapi tantangan pernikahan, anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang stabil dan penuh teladan, serta masyarakat dibentuk dari individu-individu yang menjadikan ketakwaan sebagai panduan hidup. Inilah pondasi bagi terlahirnya generasi yang kuat, matang secara emosional, berwawasan jauh ke depan, dan siap membawa umat menuju kebangkitan.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar