Oleh : Adrina Nadhirah
Kasus bullying saat ini semakin mengkhawatirkan. Perilaku yang sebagian orang menganggap sebagai candaan, kini menjelma menjadi tragedi mengerikan di berbagai daerah. Salah duanya adalah di Aceh Besar, santri membakar asrama karena jadi korban bullying, kemudian ada siswa SMAN 72 di Jakarta diduga melakukan ledakan di sekolah karena sering menjadi korban perudungan. Dua kasus ini menggambarkan betapa dalamnya luka yang ditinggalkan oleh budaya bullying, luka yang bisa berujung pada tindakan nekat dan membahayakan.
Harus kita sadari, bahwa bullying bukan lagi permasalahan peribadi, namun problem sistemik pendidikan. Dunia pendidikan dimana pun sekarang sedang mengalami krisis yang mendasar yaitu krisis keperibadian. Hilangnya adab dan lemahnya moral para pelajar adalah disebabkan fokus utama pendidikan sekarang bukan untuk membina karakter, tapi lebih kepada mengejar materi dan standar sosial yang tinggi. Generasi yang lahir bisa pandai secara kognitif tapi miskin empati. Parahnya lagi, media sosial memperkuat budaya ejekan dan konten hinaan seolah hal itu wajar, bahkan lucu. Inilah buah dari sistem pendidikan yang sekuler dan materialistik yaitu mencetak manusia pintar, tapi tanpa nurani.
Di kebanyakan kasus, korban bullying tidak hanya sakit secara fisik, tapi juga batin. Mereka sering mengalami tekanan psikologis berat, seperti depresi, dendam, dan tindakan menyakiti diri. Tidak hanya itu, mereka juga cenderung mengalami trauma jangka panjang, kehilangan rasa percaya diri, bahkan nekat melakukan kekerasan sebagai pelampiasan. Hal ini didukung pula oleh masyarakat yang kurang sensitif dengan kasus buli, ibarat sedang menciptakan bom waktu yang bakal meledak kapan saja.
Islam punya solusi yang jelas. Sejak dari awal, tujuan sistem pendidikan islam adalah membentuk keperibadian islami atau syakhsiyyah islam. Islam memandang pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tapi pembentukan karakter yang beradab. Rasulullah SAW telah mencontohkan bagaimana baginda membina para sahabat dengan pola pembinaan intensif (tatsqif). Cara baginda adalah dengan menanamkan pola pikir dan pola sikap yang islami melalui keteladanan dan nilai akhlak yang kuat.
Kurikulum Islam menempatkan adab di atas ilmu, dan menumbuhkan empati, tanggung jawab, serta rasa hormat. Dalam sistem Islam, negara berperan sebagai penjamin pendidikan dan pembina moral masyarakat. Sebagaimana sabda Nabi ï·º: “Sesungguhnya imam (khalifah) itu adalah perisai; di belakangnya umat berlindung dan berjuang.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Bukti nyata ada pada keberhasilan peradaban Islam khususnya Khilafah Abbasiyyah yang pernah mencetak ilmuwan yang tidak hanya cerdas tapi juga bertakwa, seperti Al-khawarizmi, Ibnu Sina, Ibnu Firnas dan sebagainya. Tokoh-tokoh ilmuwan islam ini menjadi panutan dan rujukan dalam perkembangan ilmu pengetahuan hingga ke hari ini.
Maka, sebagai refleksi buat kita semua, bahwa kasus buli merupakan alarm keras penanda bangsa ini sedang kehilangan arah moral. Akibat sistem sosial dan pendidikan yang diatur dengan selain hukum Allah, cacat celanya terlihat dimana-mana. Dampak berantainya menyebar dari sekecil-kecil individu sampai sebesar-besar negara. Sudah saatnya sistem pendidikan kita dikembalikan kepada nilai-nilai Islam, agar lahir generasi yang bukan hanya cerdas, tapi juga berakhlak mulia.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar