Penjajahan dalam Monopoli Media Massa


Oleh : Deby Lelyana

Berita meninggalnya jurnalis Al Jazeera di Gaza, Anas Al Sharif menggema di berbagai media. Tendanya di bom dengan sengaja oleh Israel. Isi surat wasiat Anas pun mengguncang sisi kemanusiaan setiap orang yang membaca atau mendengarnya. “Jika kalian mendengar ini, aku sudah tidak ada lagi di dunia ini." Awal kalimat surat wasiat yang menggetarkan hati. Ia pun menceritakan tentang alasannya tetap berada di Gaza. Sejatinya Anas tahu bahwa dia sudah menjadi target pembunuhan Israel dan bisa meninggal kapan saja.

Kegigihan Anas dalam memberikan informasi secara jujur mengenai kondisi Gaza dianggap sebuah ancaman oleh Israel. Teror pun kerap kali dia terima. Bahkan Anas sendiri yang menyiarkan berita gugurnya sang ayah. Hal ini sudah terprediksi karena sebelumnya Israel memberikan ancaman pembunuhan sang ayah jika Anas tidak berhenti menyiarkan berita tentang Gaza.

Kendati memiliki kesempatan untuk pergi dari Gaza dalam keadaan selamat, tetapi Anas memilih untuk tetap berjuang bersama penduduk Gaza lainnya. Ibu, anak-anak, dan istri yang telah dia tinggalkan menjadi saksi besarnya dedikasi Anas terhadap pekerjaan.

Keberadaan jurnalis dalam peperangan sama pentingnya dengan pejuang. Berita dalam sebuah peperangan berpotensi untuk mengobarkan semangat atau sebaliknya memecah-belah. Media merupakan senjata yang ampuh dalam mengubah pola pikir seseorang. Israel menyadari hal tersebut dan berusaha mati-matian untuk membungkam perjuangan dari dunia maya. Meski harus mengancam, memfitnah, dan membunuh sekali pun.

Keberadaan jurnalis sebagai ujung tombak informasi memang sangat rentan. Setidaknya 239 jurnalis dan awak media telah meninggal sejak perang meletus 7 Okober 2023 silam. Jumlah itu belum termasuk yang terluka dan hilang. (herald.id, 19/08/2025)

Salah seorang dosen komunikasi UNPAD Maimon Herawati telah mengadakan penelitian terkait isi media dalam masa perang Palestina-Israel. Ditemukan bahwa sejumlah media mainstream yang terafiliasi dengan Zionis telah melakukan pemutarbalikan fakta. Selain itu riset juga menemukan keberpihakan media tersebut melalui kata-kata yang digunakan dalam berita. Misal kata konflik yang digunakan berulang kali. Kata ini tentu tidak pas mewakili apa yang terjadi di Gaza karena apa yang sedang berlangsung adalah penjajahan dan genosida.

Lebih lanjut Maimon mengatakan bahwa sangat sedikit yang mengambil berita dari WAFA, Al Jazeera, atau pun Anadolu Agency. Media-media tersebut lebih memiliki simpati kepada perjuangan Palestina. Hal ini membuat terjadinya berbagai transliterirasi yang salah kaprah.
(khazanah.republika.co.id, 19/08/202/)

Sebagai muslim, Islam mewajibkan kita untuk cermat dalam menerima informasi. Sumber yang sudah dikenal kefasikannya dalam hal ini media-media yang terafiliasi dengan Isarel sebaiknya diabaikan saja.

Al-Quran memotret secara gamblang mengenai hal ini pada QS. Al Hujurat ayat 6 : “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Kepemilikan media secara otomatis memengaruhi informasi yang diberikan. Idealnya media massa memberikan manfaat kepada masyarakat melalui informasi yang benar dan sesuai dengan fakta. Namun, pada kenyataannya hal ini masih sulit diwujudkan dengan adanya monopoli media. Ketika sekelompok orang atau perusahaan mendominasi produksi dan distribusi konten media di berbagai platform maka akan berimbas pada banyak hal. 

Pembatasan keberagaman, kurangnya akuntabilitas, pengaruh politik, dan ekonomi adalah hal yang kerap muncul dalam fenomena ini. Konten media yang kita konsumsi akan ikut memiliki andil dalam membentuk gaya hidup dan cara berfikir. Maka penting bagi masyarakat untuk bijak memilah dan memilih konten media yang akan dikonsumsi. Kebijakan dan kecermatan ini akan muncul melalui edukasi yang didapatkan dari pendidikan dan pengajaran, baik formal maupun non formal.

Islam memiliki sistem yang mampu menjamin pendidikan berkualitas untuk setiap warga negaranya. Diharapkan melalui sistem ini masyarakat dari segala lapisan memilki literasi media yang baik.

Terkait konten media pun ada sistem yang mengatur keberadaan arus informasi yang akan beredar. Tidak ada konten sampah, pornografi, dan sejenisnya. Penekanan tanggung jawab diberikan kepada pemilik media dan tim redaksi atas informasi yang diberitakan. Pemilik media harus paham akan konsekuensi dan mendapat sanksi berat jika menyebarkan informasi yang menyesatkan atau tidak sesuai dengan kaidah-kaidah Islam. Peraturan ini hanya akan berjalan dengan baik jika ada Islam telah diterapkan secara sempurna dalam Khilafah.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar