Oleh: Ummu Faruq
Kehidupan generasi muda dalam ancaman kerusakan dan kemaksiatan. Berbagai kemaksiatan meliputi narkoba, tawuran, pembegalan, pergaulan bebas, bahkan dalam mengendalikan dirinya sendiri pun mengalami persoalan serius. Konflik internal dalam diri generasi hari ini pun makin meningkat, mulai dari kecemasan, ketakutan, insecure, dan berbagai permasalahan hati yang juga berdampak pada permasalahan fisik.
Inilah salah satu bukti gagalnya sistem pendidikan sekuler-kapitalis dalam membentuk generasi berkepribadian Islam. Karena memang tujuan output dari pendidikan sekuler hari ini bukanlah menghasilkan generasi berkepribadian Islam, melainkan menciptakan mesin produksi yang siap bekerja di industri kapitalis dan menghasilkan pundi-pundi rupiah sehingga bisa balik modal dari biaya pendidikan yang telah dikeluarkan.
Maka tidak heran, jika generasi yang dihasilkan jauh dari kepribadian Islam, tidak tahu jati dirinya sebagai muslim, sehingga tidak faham bagaimana harusnya berfikir dan bertindak yang benar sesuai misi penciptaan. Mereka berfikir dan bertindak tidak atas standar Islam, melainkan atas standar materi dan trend yang sedang booming pada hari ini. Akibatnya hidupnya tak tentu arah dan tujuan, padahal masa muda adalah masa emas dalam mengukir peran untuk Peradaban.
Kemunduran ini disebabkan oleh banyak faktor, bukan hanya faktor lingkungan sosial yang tidak supportif membentuk kepribadian generasi. Media hari ini pun bebas kontrol dalam memuat berbagai pemikiran yang merusak generasi. Arus media sosial begitu deras, bebas, dan cepat. Siapapun bisa terjun kesana, tanpa memandang apakah yang dibawa baik atau buruk. Berbagai hal bebas di share di media sosial, mulai dari pergaulan bebas, konten membuka aurat, judol, pinjol, bahkan zina pun sudah nampak biasa disana. Jika para generasi sudah terbiasa melihat konten rusak semacam ini, dampak lebih lanjut mereka akan menikmati, mewajarkan, atau bahkan ikut turut berperan aktif mengikuti konten yang terbiasa mereka lihat. Maka wajar jika hari ini generasi muda melihat LGBT, pacaran, zina, pergaulan bebas, dan berbagai kemaksiatan lainnya menjadi suatu hal yang biasa. Karena memang itulah yang mereka lihat dalam smartphone mereka.
Berbagai persoalan generasi hari ini sangatlah kompleks, sehingga membutuhkan sistem yang komprehensif pula. Yakni penerapan sistem Islam secara sempurna dibawah institusi negara yang disebut negara Khilafah.
Islam memiliki sistem yang sempurna dalam mengatur kehidupan manusia. Sistem pendidikan Islam tidak hanya berfokus pada nilai akademik, melainkan juga membentuk kepribadian Islam pada generasi. Tujuan besar Pendidikan dalam Islam adalah terbentuknya generasi yang berkepribadian Islam, yaitu mereka yang memiliki pola fikir (aqliyah) Islam dan pola sikap (nafsiyah) Islam. Sehingga generasi yang dihasilkan bukan hanya memiliki ilmu Islam, melainkan juga akan memiliki pemikiran Islam dan menjadikan syariat Islam sebagai standar melakukan perbuatan.
Generasi seperti ini akan faham siapa dirinya, untuk apa dirinya diciptakan, dan kemana dirinya setelah kehidupan. Mereka akan memiliki visi dan misi yang jelas, sehingga kehidupannya akan terarah dan tidak hanya sekedar ikut trend tanpa arah dan tujuan yang jelas.
Bukan hanya dalam lingkup sekolah, dalam lingkup masyarakatpun negara akan berperan dalam mensuasanakan lingkungan ketaatan. Masyarakat akan dibina sesuai syariat, hingga tercipta lingkungan yang Amar ma'ruf nahi Munkar. Dari sini masyarakat pun akan memahami Islam dan terbentuklah suasana ketaatan dalam generasi.
Negara Islam juga akan mengontrol media sebagai sarana edukasi dan dakwah semata. Berbagai konten yang bertentangan dengan syara akan dibasmi tanpa pandang bulu. Tidak akan lagi ditemukan konten-konten yang merusak atau mengarah kepada kemaksiatan, seperti judol, pinjol, pornografi, dan berbagai konten yang merusak pemikiran.
Demikianlah kesempurnaan Islam dalam mengatur generasi, tiada yang dapat memahami manusia selain Islam. Karena Islam datang dari Allah, Sang Pencipta Seluruh Alam. Wallahu a'lam bish-shawab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.
0 Komentar