Oleh : Thoyibah (Muslimah Pejuang Peradaban)
Israel berencana mengambil alih sepenuhnya jalur Gaza secara militer. Kepala Hak Asasi Manusia (HAM) PBB Volker Turk pada jum'at (8/8/2025) mengecam rencana tersebut dan mendesak supaya rencana tersebut segera dihentikan.
Menurut Volker langkah ini bertentangan dengan putusan Mahkamah Internasional yang menyerukan agar Israel segera mengakhiri pendudukan secepat mungkin.
Kecaman juga datang dari Kementerian Luar negeri Turki, yang menyebut langkah tersebut sebagai genosida oleh Pemerintahan Netanyahu. Yang akan mengancam Perdamaian global.
Australia turut menyerukan kekhawatiran. Menteri Luar Negeri Penny Wong menyatakan bahwa negaranya mendesak Israel agar tidak melanjutkan langkah tersebut karena hanya akan memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza.
Pemerintah Indonesia sendiri ikut mengecam keputusan Israel mengambil alih Gaza. Langkah ini turut menambah daftar negara-negara dunia yang mengkritik langkah Israel.
Pernyataan ini menambah daftar kecaman internasional terhadap Israel dan negara-negara dunia termasuk Kerajaan Bersatu (UK), Prancis, dan Kanada, Australia, Turki, serta China. Dan, Jerman mengambil tindakan menghentikan ekspor perlengkapan militer Israel.
Meski mendapatkan berbagai kecaman dari berbagai Negara, Netanyahu dalam pernyataan resminya mengonfirmasi bahwa pengambilalihan kota Gaza telah disetujui. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) disebutkan akan bersiap mengambil alih kota Gaza, sembari tetap menyediakan bantuan kemanusiaan bagi warga sipil di luar zona Pertempuran. (Beritasatu.com).
Pernyataan Netanyahu segera memicu kecaman dari Hamas. Dalam keterangannya, kelompok tersebut menyebut rencana Israel sebagai "kudeta secara terang-terangan terhadap proses negosiasi."
"Rencana Netanyahu untuk memperluas agresi menegaskan tanpa keraguan bahwa ia berusaha menyingkirkan tawanannya dan mengorbankan mereka," Kata Hamas dalam pernyataan resmi. (CNBC.com).
Gaza saat ini berada dalam kendali pemerintahan sendiri di bawah Hamas. Pada 2005, Israel menarik mundur semua warga dan tentaranya dari Gaza. Akan tetapi Israel mempertahankan kendali terhadap perbatasan hingga wilayah udara. Blokade perbatasan ini menyebabkan Gaza bak penjara terbesar di dunia. (KumparanNEWS. Com).
Blokade berkepanjangan yang dilakukan oleh Israel telah menghambat bantuan kemanusiaan dan mengisolasi 2 juta warga dari dunia luar. WHO melaporkan, setidaknya ada 63 kasus malnutrisi apda Juli 2025, termasuk 24 di antaranya dialami oleh balita. Tingkat malnutrisi akut global di Gaza meningkat tiga kali lipat sejak Juni, dengan hampir satu dari lima nak di bawah lima tahun mengalami malnutrisi akut.
Pada Maret 2024, UNICEF mencatat malnutrisi akut pada anak di bawah dia tahun naik dari 15,6 persen menjadi 31 persen dalam kurun sebulan di Gaza Utara. Setidaknya 23 anak meninggal akibat krisis itu. (Tirto.com).
Pernyataan Netanyahu tentang Full Occupation adalah upaya untuk menggiring opini bahwa selama ini Zionis tidak ingin mengambil alih Gaza. Pernyataan ini sedikit banyak mempengaruhi berjalannya opini tentang pembebasan Palestina yang sudah berjalan.
Umat harus sadar bahwa Palestina telah dijajah sejak 75 tahun lalu. Dan Gaza sebagai sasaran perluasan Wilayah jajahan Zionis.
Umat harus memahami dan mengembalikan pemahaman yang benar tentang penjajahan. Yaitu penjajahan harus dilawan sampai penjajah disingkirkan.
Gaza dan Palestina hanya akan bisa dibebaskan dengan kekuatan militer dan aktivitas jihad fii sabilillah. Jihad fii sabilillah hanya bisa dilakukan secara sempurna dengan adanya komando dari seorang Khalifah yang melaksanakan kewajiban Jihad dari Alloh.
Umat muslim harus terus berjuang untuk mewujudkan adanya khilafah, dengan melakukan dakwah berjamaah Bersama jamaah dakwah ideologis.
Wallahu alam bissawab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.
0 Komentar