Oleh : Nanny Ummu Umaroin
Memahami Brain Rot
Istilah "brain rot" pertama kali muncul pada tahun 1854, dalam buku "Walden" karya Henry David Thoreau, di mana ia menggunakan istilah tersebut untuk mengkritik kecenderungan orang-orang untuk lebih menyukai hal-hal sederhana daripada pemikiran yang kompleks. Brain root adalah istilah yang menggambarkan struktur dasar yang menjadi landasan kerja otak. Hal ini mencakup cara otak memproses informasi, membentuk kebiasaan, dan mengatur emosi. Pada masa anak-anak dan remaja, otak berada dalam fase yang sangat plastis, artinya mudah dipengaruhi oleh rangsangan eksternal. Pola pembelajaran, pengalaman, dan interaksi sosial akan membentuk jalur saraf yang nantinya menentukan kecerdasan emosional, kemampuan kognitif, serta kesehatan mental seseorang.
Dalam konteks teknologi modern, stimulasi terhadap brain rot semakin kompleks. Akses informasi yang cepat melalui internet dan media sosial menciptakan berbagai tantangan baru, salah satunya adalah paparan konten receh yang mendominasi konsumsi sehari-hari generasi muda. Konten receh biasanya bersifat ringan, menghibur, dan sering kali kurang bermakna secara intelektual, tetapi sangat menarik perhatian karena sifatnya yang menghibur.
Pada generasi muda, brain rot mulai terbentuk sejak masa kanak-kanak dan terus berkembang hingga dewasa. Stimulasi yang diterima otak, baik positif maupun negatif, berperan besar dalam pembentukan pola pikir, kreativitas, serta pengambilan keputusan. Namun, di era digital saat ini, pengaruh konten di media sosial, khususnya konten ringan atau receh, menjadi salah satu faktor yang signifikan terhadap perkembangan brain rot generasi muda.
Dampak Brain Rot pada Generasi Muda
Paparan konten yang terus-menerus dapat menyebabkan otak lebih terfokus pada hal-hal yang bersifat instan dan tidak melibatkan analisis mendalam. Hal ini berdampak pada kemampuan generasi muda dalam berpikir kritis, memahami informasi secara menyeluruh, serta mengembangkan ide-ide kreatif. Selain itu, penggunaan waktu yang berlebihan untuk mengonsumsi konten receh juga berisiko mengurangi waktu yang seharusnya digunakan untuk aktivitas produktif, seperti membaca, belajar, atau berinteraksi secara langsung dengan lingkungan sosial.
Konten receh juga memberikan pengaruh pada mental generasi muda. Konten receh di media sosial kini menjadi salah satu bentuk hiburan yang sangat populer, terutama di kalangan remaja. Jenis konten ini mencakup video pendek, meme, atau unggahan yang mengutamakan humor sederhana dan sering kali tidak memiliki nilai edukatif. Meskipun mampu memberikan hiburan sesaat, paparan yang berlebihan terhadap konten semacam ini memiliki dampak jangka panjang terhadap perkembangan mental generasi muda. Menumpulnya otak akibat kecanduan menggemari konten receh di medsos, brain rot akan semakin buruk dampaknya bagi seseorang yang memiliki literasi yang rendah. Kenapa bisa kecanduan?
1.dopamine rush
Konten receh biasanya berdurasi pendek, lucu, dan menimbulkan rasa happy instan, otakpun jadi terbiasa mendapatkan "reward" cepat, sehingga pengen lagi dan lagi.
2.fomo (fear of missing out)
Takut ketinggalan tren atau video viral membuat seseorang terus-terusan menkonsumsi medsos
3.mudah diakses
Tinggal scroll, tanpa perlu effort untuk berfikir.
Demokrasi Penyebab Rusaknya Akal
Permasalah brain rot tidak akan pernah terjadi jika negara memberikan fasilitas media sosial yang positif dan tersaring dari hal hal yang negatif. Namun negara Demokrasi yang memiliki paham liberalisme tidak akan pernah memberikan fasilitas media sosial yang sehat, karena masyarakat diberikan kebebasan untuk berekspresi membuat konten-konten murahan terlepas baik buruk nya konten tersebut. Dan investor juga diberikan kebebasan mengembangkan usahanya di dunia digital seperti pinjol, judol sampai pada protitusi online. Dan dari investor inilah negara juga mendapatkan pemasukan cuan yang lumayan besar. Negara demokrasi tidak pernah memikirkan bagaimana dampak negatif yang muncul dari video-video konten receh di sosmed bagi generasi muda. Serta negara demokrasi juga lepas tanggung jawab jika generasi muda akal nya rusak atau tidak berfungsi lagi. Brain rot emang dipelihara oleh negara agar generasi muda tetap bodoh dan tidak mampu lagi untuk berfikir kritis, sehingga pemerintah bisa trus eksis.
Bagi generasi muda yang suda FOMO, justru menjadi konsumen bagi produsen. Para pengkonsumsi medsos berlomba lomba memenuhi tuntutan nafsu nya agar tidak ketinggalan trend. Para produsen juga berlomba lomba untuk memproduksi semua pemuasan nafsu masyarakat nya. Sistem ekonomi Kapitalis pun berjalan sesuai dengan kaidah nya, memproduksi sebanyak mungkin selama masih ada konsumen nya. Akal generasi muda pun tidak mampu lagi berfikir jernih, hanya untuk memenuhi tuntutan nafsu rela melakukan segala cara. Para pelajar sampai menjadi pelacur, dan para mahasiswa sampai menjadi mafia. Ada juga suami yang menjual istri nya, bahkan ada juga orang tua yang tega menjual anak nya, semua itu demi FOMO.
Negara demokrasi juga memiliki paham sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan) ini pangkal utama dari brain root, karena jika manusia masih memiliki perasaan adanya hubungan dirinya dengan Sang pencipta nya maka dia butuh dengan aturan dari Sang pencipta nya. Namun didalam sistem sekuler manusia tidak butuh dengan aturan Allah dalam mengurusi urusan dunia nya. Sehingga manusia bebas berbuat sesuka hati, yang terpenting hati nya senang. Hilangnya rasa malu, rasa peduli, rasa menghormati, rasa menghargai hingga mati rasa. Emosi muda tersulut sperti boom yang kapan dan dimana saja siap meledak. Manusia yang brain root juga mudah sekali melepaskan tanggung jawab seolah olah tidak ada hari pertanggung jawaban diakhirat kelak.
Sistem Islam Sangat Menjaga Akal
Islam memandang akal sebagai karunia Allah yang sangat berharga dan harus dijaga serta dipelihara. Menjaga akal merupakan bagian dari prinsip-prinsip utama dalam ajaran Islam (maqasid syariah) dan sangat ditekankan. Akal yang sehat memungkinkan manusia untuk berpikir jernih, membedakan yang baik dan buruk, serta menjalankan fungsi kekhalifahan di muka bumi.
Pentingnya menjaga akal dalam Islam, karena menjaga akal (hifz al-aql) adalah salah satu dari lima tujuan utama syariat Islam, yang bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan dan kebahagiaan manusia. Akal juga sebagai pembeda Manusia dengan Makhluk Lain, Dengan akal, manusia dapat berpikir, memahami, dan mengambil keputusan. Akal membantu manusia membedakan antara yang baik dan buruk, benar dan salah, sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat. Akal yang sehat memungkinkan manusia menjalankan tugasnya sebagai khalifah di bumi, yaitu memakmurkan dan menjaga alam serta beribadah kepada Allah. Menjaga akal berarti menjauhi hal-hal yang dapat merusak akal, seperti minuman keras, narkoba, dan perbuatan maksiat lainnya. Islam mendorong umatnya untuk terus menuntut ilmu dan mengembangkan potensi akal untuk kemaslahatan diri dan masyarakat.
Cara Daulah Khilafah Menjaga Akal Generasi
Daulah khilafah menghilangkan hal-hal yang merusak akal, dengan menyaring sosmed dari video-video yang negatif. Kholifah juga menutup serapat mungkin untuk konten-konten murahan, semua sosmed bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah dan untuk dakwah serta jihad.
Kemudian menghilangkan minuman keras, narkoba, dan segala sesuatu yang dapat merusak fungsi akal. Dan bagi orang yang dengan sengaja merusak akal nya dengan minum khamr, narkoba, maka Kholifah akan memberikan sanksi tegas kepada mereka. Khalifah memberikan fasilitas pendidikan yang baik dan gratis sehingga seluruh masyarakat memperoleh ilmu yang bermanfaat, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan umum, untuk mengembangkan potensi akal. Menggunakan akal untuk berpikir secara kritis, analitis, dan objektif dalam menghadapi berbagai masalah. Dan Khalifah juga menjaga kesehatan fisik dan mental masyarakat nya dengan memenuhi kebutuhan primer perindividu seperti kebutuhan sandang pangan dan papan. Sehingga masyarakat akan senantiasa melakukan perbuatan baik dan menjauhi perbuatan buruk untuk menjaga kesucian akal dan hati. Dengan menjaga akal, manusia dapat menjalankan peran dan tugasnya dengan baik, serta meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Israa’ : 70).
Dari ayat tersebut dapat dikatakan bahwa akal merupakan kelebihan yang diberikan Allah SWT kepada manusia dan sekaligus menjadi faktor pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya. Karena itu, Allah SWT mendorong manusia agar bersedia menggunakan akalnya untuk berpikir. Tidak sedikit ayat-ayat dalam Al Qur’an yang menunjukkan dorongan kepada manusia agar menggunakan akalnya untuk hal-hal yang berguna. Salah satunya adalah surat An-Nahl ayat 12 yang artinya, “Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.”
Wallahu ‘alam bishowab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.
0 Komentar