Oleh: Sarinah
Lembaga Negara dibentuk untuk menjamin hak-hak rakyat dan menjadi garda terdepan untuk melindungi rakyat serta menjamin keamanan masyarakat.
Media sosial tengah viral oleh unggahan akun Rashtriya Janata Dal (RDJ). Pada unggahan itu, terlihat seorang menteri India yang secara tiba-tiba melepas paksa cadar yang dikenakan seorang dokter perempuan di sebuah acara seremoni yang digelar di ibu kota Patna India.
Video yang beredar luas di media sosial, Nitish Kumar Kepala Menteri negara bagian Bihar India mencopot paksa penutup wajah sang perempuan yang saat itu sedang menerima surat pengangkatan sebagai dokter. Ia menunjuk cadar yang dikenakan sang dokter dan meminta melepasnya.
Nitish Kumar menarik paksa cadar tersebut sehingga terlihat wajah sang dokter. Upaya Kumar sempat dihentikan oleh seorang Mentri yang berdiri di sebelahnya, namun sang Mentri ikut tertawa bersama orang lain usia cadar sang dokter terbuka (CNN Indonesia 19 Desember 2025).
Sungguh disayangkan, para pejabat yang seharusnya menjadi pelindung rakyat dan menjadi garda terdepan untuk melindungi hak-hak rakyat malah bertindak sebagai pelaku pelanggaran hak rakyat dan kehormatannya.
Sebelumnya pernah terjadi kampanye menentang penggunaan hijab oleh perempuan Muslim di ruang kelas, pada 2022 di negara bagian Karnataka India. Padahal sistem demokrasi sekuler Kapitalisme yang saat ini bercokol di seluruh dunia menggembor-gemborkaHak Asasi Manusia, namun nyatanya hal itu tidak berpihak sama sekali kepada kaum muslim di seluruh penjuru dunia termasuk India.
Apa yang terjadi di India adalah bentuk persekusi terhadap warga Muslim India, padahal Hampir 18 persen dari 127 juta penduduk Bihar adalah Muslim. Namun nyatanya kaum muslim tak berdaya. RSS (Rashtriya Swayamsevak Sangh, adalah organisasi yang bertujuan mengubah India secara konstitusional menjadi Sekuler negara Hindu. Sehingga kaum muslim di India menjadi target serangan rezim, meskipun mayoritas penduduknya adalah muslim.
Keadaan kaum muslim saat ini benar-benar tidak berdaya menghadapi rezim yang sengaja mempersekusi dan menghalangi kelestariannya.
Penduduk Muslim saat ini benar-benar dalam himpitan yang dahsyat, dalam kondisi yang benar-benar memprihatikan, selalu menjadi target persekusi meskipun keberadaannya adalah sebagai agama mayoritas.
Di sisi lain kondisi kaum muslim saat ini melemah dalam hal keimanan dan aqidah, kaum muslim saat ini benar-benar jauh dari kepribadian, dan jati diri seorang muslim. Beragama tanpa sadar dan tidak memahami hakikat agamanya dengan benar. Rasulullah Saw bersabda, "Hampir saja bangsa-bangsa memperebutkan kalian (umat Islam) seperti orang-orang lapar memperebutkan makanan di atas hidangan. Seorang sahabat bertanya, "Apakah karena jumlah kami sedikit pada saat itu?" Rasulullah Saw menjawab "Bahkan jumlah kalian saat itu banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan." (HR Abu Dawud).
Begitulah keadaan kaum muslim saat ini, seperti buih di lautan yang tampak banyak namun ringan dan mudah terombang-ambing arus.
Selain itu, tidak adanya peran negara dalam menjamin kelestarian terhadap aqidah serta menjamin kebebasan dan hak-hak kaum muslim membuat masyarakat muslim saat ini semakin terpojok.
Seharusnya negara hadir sebagai penyelenggara dan penjamin diterapkannya hukum-hukum Allah bagi setiap muslim, bukan malah menjadi pelaku persekusi dan membuat masyarakat jauh dari Tuhannya atau bahkan menggadaikan agamanya demi kehidupan duniawi.
Dalam pandangan Islam pemimpin adalah junnah (perisai) bagi rakyatnya dimana rakyat berlindung dari segala bahaya. Rasulullah Saw bersabda dalam hadis riwayat al-Bukhari no.2957 "Sesungguhnya al-imam (pemimpin) itu merupakan junnah (perisai) di mana orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung".
Dengan itu, maka pemimpin seharusnya berperan sebagai pelindung masyarakat dan benar-benar meriayah rakyat sehingga rakyat dalam keadaan aman, dan membina masyarakat agar menjadi individu yang taat beragama. Karena sesungguhnya setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya atas apa yang dipimpinnya. "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya atas apa yang dipimpinnya." (HR.Bukhari dan Muslim)
Allahu a'lam bishawwab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar