Rendahnya Nilai TKA, Antara Ketidakmampuan Siswa Atau Kegagalan Sistem Pendidikan Kapitalistik


Oleh : Siti Rima Sarinah
 
Nilai Tes Kemampuan Akademik tidak sesuai dengan harapan. Rendahnya nilai rata-rata yang didapatkan oleh siswa, harus menjadi perhatian serius pemerintah terhadap dunia pendidikan hari ini. Kekecewaan para siswa dengan hasil yang mereka dapatkan. Padahal mereka berusaha keras untuk mendapatkan hasil terbaik. Pasalnya,  nilai TKA sangatlah penting dan menjadi salah satu syarat yang digunakan oleh siswa untuk masuk perguruan tinggi. 

Menteri Pendidikan Tinggi Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengungkapkan akan mengevaluasi perguruan tinggi perguruan setelah hasil mayoritas TKA sangat rendah. Rendahnya hasil TKA tak lepas dari proses pembelajaran yang bergantung pada kualitas sumber daya pengajarnya, padahal sebagian besar para guru berasal dari perguruan tinggi perguruan.  (tempo.co, 24/12/2025)

Berita rendahnya nilai TKA yang diperoleh para siswa, membuat pemerintah melakukan evaluasi kampus keguruan dan strategi pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah melihat akar persoalan TKA bukan hanya pada siswa, melainkan juga pada proses pendidikan dan kualitas pendidikan yang diterapkan di Indonesia. Padahal, rendahnya nilai TKA bukan semata tidak karenakan ketidakmampuan siswa atau kurangnya kualitas sumber daya pengajarnya.  Dari awal munculnya kebijakan baru dari pemerintah terkait TKA, menuai kritik dan protes dari berbagai pihak termasuk dari siswa. Hingga sempat viral di media sosial unggahan salah satu siswa yang membuat petisi menolak perbelakuan TKA yang terkesan mendadak, kurang sosialisasi dan ketidaksiapan sistem hingga disinyalir ada oknum guru yang memperjualbelikan soal TKA melalui media sosial (detik.com, 05/11/2025)


Polarisasi Pendidikan

Tidak dipungkiri, begitu banyak persoalan dunia pendidikan menghampiri bangsa ini. Di satu sisi pemerintah meniliki ‘cita-cita mulia” untuk mewujudkan generasi emas 2045, sedangkan disisi lain, ketidakhadiran pemerintah untuk memberikan jaminan dan fasilitas yang terbaik bagi generasi bangsa. Mahalnya biaya pendidikan yang membuat polarisasi dalam dunia pendidikan antara sekolah favorit dan sekolah buangan, yang jelas memunculkan kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin. Hanya segelintir orang yang mampu mengenyam pendidikan di sekolah favorit dengan berbagai keunggulannya baik dalam fasilitas maupun prestasi akademik. Sedangkan sekolah buangan yang sangat minim fasilitas dan mutu pendidikan yang jauh dari kata berkualitas. Hal ini mengakibatkan sekolah buangan tak mampu bersaing dengan sekolah favorit yang unggul dari semua bidang pendidikan.

Sistem pendidikan kapilistik yang diterapkan hari ini, hanya mampu mencetak siswa untuk kebutuhan pasar industri. Siswa bukan dicetak untuk menjadi tenaga ahli, tetapi hanya cukup menjadi tenaga buruh. Hal ini dibuktinya dengan masifnya pengangguran pendidikan yang mengakibatkan munculnya fenomena discaurage worker (pekerja yang putus asa). Lulusan S2 dan S3 kesulitan mendpatkan peluang kerja yang sesuai dengan bidang keilmuan mereka, sehingga sebagian generasi menyesal memiliki menempuh pendidikan hinggaperguruan tinggi, karena pada faktanya mereka kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan.


Kegagalan Sistem Pendidikan Kapitalis

Inilah bukti kegagalan nyata sisem kapitalistik yang hanya memandang pendidikan sebagai sektor bisnis untuk mendapatkan keuntungan yang berlimpah. Sehingga pendidikan diarahkan untuk memenuhi dunia industri dengan memproduksi tenaga buruh sebanyak-banyaknya dengan gaji yang sangat murah. Maka wajarlah apabila negara terlihat tidak peduli dengan pendidikan. Hal ini dibuktikan dengan minimnya alokasi biaya pendidikan dari APBN hanya sekitar 20%. Bagaimana mungkin dengan biaya yang sangat minim, bisa mencetak yang berkualitas?

Pengabaian negara pada pendidikan juga tak lepas dari arahan negara-negara Barat yang menguasai Indonesia dengan membuat program pendidikan bukan untuk mencetak tenaga ali. Agar mereka dengan leluasa menguasai kekayaan alam negeri yang melimpah ruah. Terbukti, begitu banyak aset-aset negara dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing dengan dalih investasi. Padahal dengan dalih investasi inilah mereka bebas mengeruk kekayaan alam hingga tak tersisa dan menguasai sektor-sektor strategis sehingga generasi negeri ini kesulitan mendapatkan pekerjaan karena kalah bersaing dengan skill yang mereka miliki.


Output Pendidikan Berbasis Akidah Islam

Potret karut marut dunia pendidikan takkan pernah terjadi dalam sistem yang menjadikan pendidikan merupakan sebuah kewajiban yang wajib ditunaikan oleh setiap individu rakyat. Dan negara adalah pihak berwenang untuk memberikan fasilitas dan jaminan pendidikan agar setiap individu rakyat bisa mengenyam pendidikan berkualitas secara adil dan merata. Tanpa ada pembedaan perlakuaan antara si kaya dan si miskin, ataupun sekolah favorit atau sekolah buangan. 

Sekolah-sekolah yang dibangun dirancang dengan sedemikian rupa dan dilengakpi dengan prasarana belajar mengajar, dari gedung  sekolah yang nyaman, laboratorium dan perpustakaan yang lengkap serta tenaga pengajar yang mumpuni dibidangnya. Sehingga dipastikan bisa mencetak output pendidikan yang bukan hanya cerdas secara akademik melainkan juga mereka mampu menyelesaikan persoalan kehidupan dan cara pandang yang benar.

Sebab, output pendidikan yang benar adalah output pendidikan berbasis akidah Islam yang mampu melahirkan generasi yang memilik pola pikir dan pola sikap Islam (kepribadian Islam). Dalam rentang sejarah keemasan Islam menjadi bukti keberhasilan pendidikan berbasis akidah Islam mampu mencetak ratusan bahkan ilmuwan, penemu dan polymath. Jasa mereka dalam dunia pendidikan sangat berkontribusi  besar bagi peradaban dunia hingga hari ini. Alhasil kita bisa melihat dan membandingkan sistem pendidikan manakah yang seharusnya hadir untuk mendidik generasi bangsa ini, kapitalis atau berbasis akidah Islam?
 
 



Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar