Oleh : Sri Setyowati (Aliansi Penulis Rindu Islam)
Setiap tahun Isra Mikraj diperingati dengan berbagai kegiatan seperti sedekah, puasa, ceramah keagamaan, dan lainnya dalam rangka meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Namun sayangnya, peringatan tersebut dimaknai hanya sebatas perjalanan spiritual Rasulullah saw. dalam menerima perintah salat semata.
Banyak peristiwa penting yang terjadi pada bulan Rajab. Isra Mikraj adalah salah satunya satunya, yaitu perjalanan Rasulullah saw. dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa hingga ke Sidratul Muntaha.
Ini merupakan mukjizat sekaligus isyarat kemenangan. Pada peristiwa tersebut Rasulullah saw. memimpin salat para nabi di Masjidil al-Aqsha, sebuah isyarat dari Allah Swt. akan kepemimpinan beliau atas seluruh umat manusia.
Setahun setelah peristiwa tersebut, beliau hijrah ke Madinah dan menegakkan Daulah Islamiyah. Setelah wafatnya Rasulullah Saw., kepemimpinan Islam dilanjutkan oleh para khalifah dalam institusi negara Khilafah.
Kepemimpinan global Islam tersebut telah terbukti nyata tegak selama 13 abad lamanya hingga tragedi besar menimpa umat. Tanggal 28 Rajab 1342 H (3 Maret 1924 M), pada masa kekhilafahan terakhir Sultan Hamid II, negara Khilafah diruntuhkan oleh laknatullah Mustafa Kemal Ataturk.
Sejak saat itu Daulah Islam tergerus oleh kepemimpinan kapitalisme dengan asas sekularisme yang menguasai dunia hingga saat ini. Syariat tidak lagi ditegakkan, hukum buatan manusia yang penuh dengan kepentingan dan hawa nafsu menjadi pedoman.
Banyak yang tidak menyadari pengabaian syariat dalam kehidupan akan membawa kerusakan. Seperti banjir dan longsor yang terjadi di Sumatera akibat mengabaikan hutan sebagai ekosistem untuk menjaga keseimbangan alam dan manusia, hingga terjadilah bencana.
Kebebasan kepemilikan melahirkan ekonomi liberal, dimana para kapital dengan leluasa bebas mengeksploitasi kekayaan negeri-negeri muslim. Riba yang dilegalkan menjadikan krisis utang. Kebebasan berpendapat menjadi pembenaran propaganda pemikiran kufur dan masih banyak lagi kerusakan dalam berbagai bidang.
Segala kerusakan akibat tidak diterapkannya hukum Allah menjadi tamparan bagi umat agar menyadari untuk segera mengembalikan aturan yang telah Allah tetapkan bagi umat manusia.
Peringatan Isra Mikraj harusnya mengedepankan makna politik yang tersirat untuk menjalankan segala aturan yang telah Allah tetapkan, bukan hanya menjadi perayaan rutin tanpa makna adanya perubahan.
Dalam Syarh Shahih Muslim, Imam an-Nawawi menegaskan yang dimaksud salat bukan hanya gerakan ibadah semata, tetapi merupakan ungkapan penegakan hukum Allah.
Sayangnya, umat masih terus mempertahankan sistem kapitalisme yang sejatinya adalah penjajahan gaya baru. Tanpa bersusah-payah para kapitalis meraup keuntungan dari eksploitasi sumber daya alam tanpa adanya rintangan yang berarti bahkan difasilitasi oleh para pejabat dengan izin yang diberikan. Umat sebagai pemilik sumber daya yang sebenarnya justru hanya menjadi penonton atas ketidakadilan tersebut.
Kita juga melihat penjajahan fisik masih terus berlangsung kepada saudara seakidah kita seperti di Palestina, Suriah, Uighur dan lainnya. Untuk melawan semua ketidakadilan tersebut diperlukan pemimpin yang bisa menjadi junnah (pelindung) bagi umat muslim seluruh dunia.
Isra Mikraj adalah momentum yang sangat penting untuk menggencarkan dakwah Islam kafah hingga umat memiliki kesadaran politik akan pentingnya memiliki penguasa seluruh kaum muslim (khalifah) dalam naungan negara Khilafah, menggantikan sistem kapitalisme yang mendominasi dunia saat ini. Dengan demikian syariat Islam dapat diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan hingga rahmat dan keadilan menyebar ke seluruh penjuru alam.
Wallahu a'lam bissawab
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar