Menjaga Arah di Tengah Gempuran Digital: Sinergi Umat Menyiapkan Generasi Bertakwa dan Tangguh


Oleh : Reni Tri Wahyuni

Perkembangan teknologi digital telah membawa manusia pada fase peradaban baru yang serba cepat, instan, dan terkoneksi. Bagi generasi muda, realitas ini bukan sekadar latar kehidupan, melainkan ruang utama tempat mereka tumbuh, belajar, berekspresi, dan membentuk jati diri. Arus informasi yang deras, tanpa jeda dan tanpa batas, menjadi tantangan besar yang tidak bisa dipandang remeh. Di balik kemudahan akses pengetahuan, tersimpan ancaman serius berupa pengaburan nilai, distorsi makna hidup, dan pengalihan peran generasi muda dari tanggung jawab hakiki mereka sebagai agen perubahan umat.

Tingginya screen time adalah salah satu indikator paling nyata dari persoalan ini. Waktu yang dihabiskan di depan layar kerap menyita perhatian, energi, dan fokus kaum muda, sehingga menjauhkan mereka dari interaksi sosial yang bermakna, kepedulian terhadap lingkungan sekitar, serta tanggung jawab nyata dalam kehidupan bermasyarakat. Dunia maya, yang semestinya menjadi sarana, justru berubah menjadi ruang dominan yang membentuk cara berpikir dan bertindak. Lebih berbahaya lagi, algoritma digital bekerja secara sistematis mengurung pengguna dalam “ruang gema” yang mempersempit sudut pandang, menguatkan bias, dan menormalisasi nilai-nilai tertentu tanpa proses berpikir kritis.

Dalam situasi ini, munculnya sikap kritis generasi muda terhadap kezaliman penguasa dan ketidakadilan sosial patut diapresiasi. Kritik adalah tanda hidupnya akal dan nurani. Namun, kritik yang tidak berangkat dari arah pandang yang benar dan tujuan yang jelas berpotensi kehilangan makna strategis. Tanpa fondasi ideologis yang kokoh, sikap kritis mudah berubah menjadi kemarahan sesaat, romantisme perubahan, atau bahkan sekadar tren aktivisme yang cepat naik dan cepat padam.

Secara struktural, generasi muda adalah pasar paling potensial bagi industri digital global. Setiap klik, tontonan, dan interaksi mereka bukan hanya data ekonomi, tetapi juga investasi ideologis. Konten-konten digital yang mereka konsumsi berfungsi sebagai “tabungan informasi” yang secara perlahan membentuk cara pandang hidup, menentukan apa yang dianggap benar, baik, dan layak diperjuangkan. Di sinilah ide-ide sekuler dan liberal menemukan ruang subur. Nilai-nilai ini sering hadir dengan wajah yang ramah, rasional, dan progresif, namun sejatinya memisahkan agama dari pengaturan kehidupan serta menyingkirkan wahyu dari peran strategis dalam menentukan arah perubahan.

Kondisi ini menuntut adanya benteng yang kuat. Benteng pertama dan utama adalah cara pandang hidup yang sahih, yakni yang bersumber dari Sang Khalik. Islam tidak hanya hadir sebagai ajaran spiritual atau identitas personal, tetapi sebagai ideologi yang mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh. Tanpa cara pandang ini, kerinduan generasi muda terhadap perubahan akan berhenti pada solusi-solusi parsial yang ditawarkan sistem yang rusak. Akibatnya, lahirlah aktivis-aktivis prematur: lantang di awal, namun mudah lelah, mudah tergoda jabatan, dan mudah berkompromi dengan kepentingan pragmatis.

Bahaya lainnya adalah kecenderungan menduplikasi pola aktivisme liberal. Meski dibungkus dengan simbol-simbol keislaman, aktivisme semacam ini tetap bergerak dalam kerangka kapitalisme global. Ia hanya berfungsi sebagai peredam ketegangan sosial, bukan sebagai kekuatan perubahan mendasar. Generasi muda yang tidak memiliki kesadaran ideologis akan terjebak menjadi “bemper” sistem, bukan penantangnya.

Padahal, secara fitrah, generasi muda memiliki potensi besar sebagai makhluk Allah. Mereka dibekali gharizah yang mendorong semangat dan idealisme, hajatul ‘udhawiyah yang menuntut pemenuhan kebutuhan jasmani, serta akal yang mampu berpikir mendalam dan sistematis. Potensi ini tidak akan tumbuh optimal tanpa lingkungan yang kondusif. Mereka membutuhkan suasana yang kental dengan jawwil iman, yakni atmosfer keimanan yang menumbuhkan kesadaran akan tujuan hidup dan tanggung jawab sebagai hamba Allah sekaligus pengemban risalah.

Pembinaan generasi muda tidak bisa diserahkan pada individu semata. Ia menuntut kolaborasi yang komprehensif dan sistemis. Keluarga berperan sebagai fondasi awal pembentukan karakter dan nilai. Masyarakat berfungsi sebagai ruang sosial yang meneguhkan norma dan kepedulian. Negara memiliki tanggung jawab menciptakan sistem yang melindungi akal dan iman generasi muda dari kerusakan. Namun, di antara elemen-elemen ini, partai politik Islam ideologis memegang peran strategis sebagai penghubung dan penggerak perubahan.

Partai politik Islam ideologis bukan sekadar kendaraan elektoral atau alat perebutan kekuasaan. Ia adalah institusi dakwah politik yang bertugas membina umat secara menyeluruh. Dalam konteks generasi muda, perannya sangat vital: melakukan muhasabah lil hukam secara konsisten, membuka ruang bagi suara kritis kaum muda, serta mencerdaskan umat dengan pemikiran Islam yang murni dan mendalam. Melalui peran ini, generasi muda tidak hanya diajak bereaksi terhadap masalah, tetapi dibimbing memahami akar persoalan dan solusi ideologisnya.

Sinergi seluruh elemen umat inilah yang akan melahirkan generasi bertakwa dan tangguh. Generasi yang tidak hanyut dalam bising digital, tidak silau oleh narasi palsu perubahan, dan tidak mudah dibelokkan oleh kepentingan sesaat. Mereka adalah generasi yang memiliki arah, visi, dan keberanian untuk memperjuangkan perubahan hakiki. Di tengah badai informasi dan krisis nilai, sinergi umat bukan lagi pilihan, melainkan keharusan sejarah. Tanpanya, generasi muda akan terus menjadi objek zaman, bukan subjek pembangun peradaban.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar