Oleh: Fitria Damayanti, M.Eng
Dunia kita saat ini terkoyak oleh serangkaian krisis yang saling bertautan dan tampak tidak berujung.
Di tingkat global, hegemoni satu negara adidaya dengan ideologi kapitalisme sekulernya menciptakan ketidakstabilan yang mendalam. Intervensi politik, ekonomi, dan militer di berbagai belahan dunia telah mengakibatkan penderitaan panjang, kehancuran, dan gelombang pengungsian yang tidak terelakkan.
Realitas ini menunjukkan sebuah tatanan yang lebih banyak melahirkan luka dan ketidakadilan daripada perdamaian dan kesejahteraan yang merata bagi seluruh bangsa.
Kondisi umat Islam menjadi bukti nyata dari dampak sistem yang eksploitatif ini. Dunia Islam, yang kaya akan sumber daya alam dan warisan peradaban, justru terjebak dalam lingkaran kelemahan, konflik saudara, dan ketergantungan politik. Ideologi sekuler-kapitalis tidak hanya mendominasi ekonomi dan politik, tetapi juga menyusup ke dalam pemikiran, menjauhkan banyak generasi dari identitas dan nilai-nilai spiritual mereka.
Kesenjangan ekonomi yang ekstrem dan kerusakan lingkungan hidup adalah buah pahit dari sistem yang mengejar keuntungan materi semata, dengan mengorbankan keberlangsungan alam dan solidaritas kemanusiaan.
Analisis: Kekosongan Spiritual di Balik Kerusakan Sistemik
Krisis multidimensi yang terjadi berakar pada paradigma kepemimpinan global yang telah kehilangan kompas moralnya. Paradigma sekuler-materialistik telah memisahkan etika dari kekuasaan, menempatkan kepentingan ekonomi dan dominasi sebagai tujuan tertinggi.
Pemikir kritis seperti Noam Chomsky mengungkap bagaimana hegemoni ini sering kali mengabaikan hukum internasional, di mana kekuatan besar bertindak sebagai hakim dan algojo bagi bangsa lain. Logika kapitalisme global, sebagaimana dikupas dalam The Shock Doctrine karya Naomi Klein, menjadikan bencana dan krisis sebagai peluang untuk memperkaya segelintir elite melalui kebijakan yang eksploitatif.
Dampaknya adalah normalisasi penderitaan dan kerusakan yang terstruktur, di mana ketidakadilan seolah menjadi hukum alam yang tak terelakkan. Negara-negara kuat secara sistematis mengeksploitasi sumber daya bangsa lain, meninggalkan jejak kerusakan lingkungan, kemiskinan, dan instabilitas politik yang berkepanjangan.
Masyarakat global hidup dalam kecemasan kolektif, di mana nilai-nilai kemanusiaan tergerus oleh individualisme dan konsumerisme yang ekstrem. Kepemimpinan yang seharusnya menjadi pelindung dan penengah justru berubah menjadi sumber masalah utama, menciptakan dunia yang terkoyak dan kehilangan arah menuju keselamatan bersama.
Solusi: Cetak Biru Kepemimpinan yang Menyatukan dan Memberkahi
Jawaban atas kerinduan dunia ini terletak pada perubahan paradigma yang fundamental, bukan sekadar perbaikan di permukaan. Islam menawarkan konsep kepemimpinan yang bertujuan menjadi rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil-‘alamin), sebuah visi yang inklusif dan penuh kasih. Konsep ini menemukan bentuknya yang nyata dalam sistem Khilafah, yang memandang kepemimpinan sebagai amanah Ilahi untuk menegakkan keadilan dan kemaslahatan universal.
.Sebagaimana dirinci Majid Irsan Kilani dalam Model Kebangkitan Umat Islam, kebangkitan sejati harus dimulai dari penerapan sistem hidup yang komprehensif, yang bersumber dari akidah Islam yang kokoh dan terbebas dari kontaminasi pemikiran sekuler.
Kepemimpinan model ini dibangun di atas fondasi prinsipil yang membedakannya secara radikal dari semua sistem buatan manusia. Pertama, landasannya adalah tauhid, yang memberikan kerangka moral mutlak dan rasa tanggung jawab hanya kepada Allah SWT, bukan kepada kepentingan pasar atau kekuatan adidaya. Kedua, visinya bersifat universal dan penyelamat, mengutamakan keadilan dan perlindungan bagi semua manusia tanpa diskriminasi suku, bangsa, atau agama. Ketiga, mekanisme operasionalnya berdasarkan syariah Islam, yang menjamin distribusi kekayaan yang adil, perlindungan terhadap lingkungan hidup, dan politik luar negeri yang independen serta membela yang tertindas.
Kebangkitan pemikiran Islam ini, seperti ditegaskan Sayyid Qutb dalam Bahkan Barat pun Membutuhkan Islam, adalah satu-satunya harapan untuk menyembuhkan penyakit peradaban materialistik yang telah mencapai kebuntuan. Sejarah memberikan bukti nyata melalui generasi Sahabat Nabi, yang dibina dalam naungan sistem Islam dan berubah menjadi pemimpin dunia yang adil hanya dalam kurun satu generasi.
Kunci keberhasilan mereka adalah pembinaan ideologis yang membentuk kepribadian Islam, logika berpikir berbasis syariat, dan komitmen total untuk meninggikan kalimatullah. Mereka adalah teladan nyata kepemimpinan penyelamat yang memandang kekuasaan sebagai sarana pengabdian, bukan alat pemuas nafsu dan keserakahan.
Penutup: Menjawab Panggilan Zaman yang Mendesak
Dunia yang terkoyak ini sedang menyuarakan kerinduannya yang paling dalam akan sosok pemimpin yang adil, yang mampu menyembuhkan luka dan menyatukan kembali kepingan peradaban. Kerinduan ini merupakan peluang sekaligus tanggung jawab besar yang harus dijawab oleh umat Islam.
Janji Allah dalam QS. An-Nur: 55 tentang kekuasaan bagi orang-orang beriman yang mengerjakan amal saleh adalah jaminan Ilahi bahwa kepemimpinan penyelamat ini pasti akan tegak. Kewajiban kita sekarang adalah bekerja sungguh-sungguh untuk mewujudkan janji itu melalui kesadaran, persatuan, dan perjuangan politik yang cerdas dan konsisten.
Kepemimpinan Islam yang berdasarkan syariah dan Khilafah bukanlah nostalgia romantis atau utopia, melainkan kebutuhan mendesak kemanusiaan dan keniscayaan sejarah. Hanya paradigma yang memadukan spiritualitas, keadilan menyeluruh, dan akal budi yang dapat mengangkat dunia dari keterpurukannya.
Saatnya dunia menyambut fajar baru sang penyelamat, yang akan mengubah mozaik peradaban yang terkoyak menjadi sebuah taman kehidupan yang penuh cahaya, kedamaian, dan keberkahan. Masa depan yang lebih baik adalah pilihan yang harus kita wujudkan bersama, dimulai dari keyakinan yang benar dan perjuangan yang tidak kenal lelah. Allahu a'lam bishawwab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar