Pendidikan Kapitalis Gerus Adab Guru dan Murid


Oleh : Elly Waluyo (Anggota Aliansi Penulis Rindu Islam)

Pendidikan dalam sistem kapitalis memustahilkan lahirnya insan cerdas secara intelektual sekaligus spiritual. Sistem kapitalis merupakan peranakan dari sekularisme, memisahkan agama dari kehidupan. Memiliki landasan liberalisme dan tujuan utama kapitalisme adalah kesuksesan materi yang diraih secara bebas. Benar dan salah yang diserahkan pada masing-masing individu untuk menilainya. Hal ini menjadi faktor utama penyebab tergerusnya adab dalam setiap generasi. Saling menghargai dan menghormati antar insan pendidikan hanya diatas kertas dan tak tercermin dalam perbuatan.

Sebagaimana kasus pengeroyokan oleh beberapa murid SMK Negeri 3 Tanjung Jabung, Jambi terhadap gurunya Agus Saputra. Berdasarkan video berdurasi 58 menit yang tersebar, pengeroyokan diduga berawal dari perkataan Agus melalui mikrofon, _"Kalau kita kurang mampu, kalau bisa jangan bertingkah macam-macam”._ Sontak saja pernyataan tersebut dianggap penghinaan sehingga menyulut emosi siswanya. Agus pun menampik anggapan tersebut dengan alasan untuk memotivasi siswa. Menurutnya, aksi pengeroyokan itu terjadi setelah dirinya menampar muka salah satu murid yang telah menegurnya dengan tidak sopan. Siswa tersebut juga menantangnya sembari berkata kasar saat pembelajaran berlangsung. Agus juga menyampaikan bahwa penamparan yang dilakukannya merupakan bentuk pendidikan moral.

Kepala Bidang SMK Disdik Provinsi Jambi, Harmonis meminta penjelasan dari Kepala Sekolah dan mediasi oleh pihak sekolah dengan pihak yang terkait. Meski Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, menyatakan bahwa kasus tersebut telah diselesaikan oleh dinas pendidikan setempat dan pihak-pihak terkait namun mediasi yang dilakukan bersama dengan forum komunikasi kecamatan, camat, lurah, kapolsek, TNI, kejaksaan, majelis guru, dan siswa-siswa menemui jalan buntu hingga terjadi aksi pengeroyokan tersebut. Saat mediasi Agus meminta siswanya berubah atau membuat petisi untuk dirinya jika sudah tidak diinginkan mengajar. Sebaliknya, para siswa justru meminta Agus untuk meminta maaf. Agus pun telah melaporkan kasus yang dianggapnya sebagai penganiayaan itu pada Polda Jambi. (https://www.google.com : 17 Januari 2026)

Kasus kekerasan terhadap guru oleh murid tersebut tidak bisa hanya dipandang sebagai permasalahan personal. Namun, hal ini menunjukkan bahwa pendidikan di negeri ini sedang rusak. Pendidikan yang lahir dari sistem kapitalis berlandaskan kebebasan yang benar dan salah diserahkan pada pemahaman masing-masing individu. Hal ini diperparah dengan lepasnya tanggung jawab negara dalam kewajibannya membimbing dan membina warganya. Akibatnya batasan adab antara murid dengan guru pun hancur. 

Sikap teladan dan patut dihormati yang senantiasa bersanding pada profesi guru tergerus oleh rasa tidak peduli. Kebijakan yang ada melemahkan posisi guru, sementara posisi siswa menjadi lebih kuat. Padahal jelas siswa masih membutuhkan bimbingan dalam pengendalian diri dan menemukan jati diri. 

Berbeda halnya dengan pendidikan dalam sistem Islam yang meletakkan akidah sebagai dasarnya sehingga adab lebih dahulu daripada ilmu. Rasulullah saw. merupakan suri tauladan dalam akhlak. Sementara posisi negara dalam Islam adalah sebagai pelayan dan perisai umat. Negara berkewajiban memastikan kurikulum berlandaskan akidah. Seluruh mata pelajaran yang diajarkan bertujuan untuk membentuk kepribadian Islam disamping memenuhi kebutuhan keprofesian.

Hal inilah yang akan mendidik peserta didik untuk ta’dzim pada guru. Riayah yang dilakukan terus menerus oleh negara kepada masyarakat termasuk guru akan mengarahkannya untuk mendidik dengan penuh kasih sayang. Dampaknya, masyarakat saling ta’awun dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar. Hukum Islam yang diterapkan juga akan mencegah setiap individu berbuat maksiat. Demikianlah Islam membentuk generasi yang senantiasa terikat dengan syariat dan masyarakat madani.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar