Oleh: Nada Navisya S.Pd (Aktivis Muslimah)
Bagi orang-orang yang berfikir, akan tampak jelas bagaimana wajah dunia hari ini. ”seperti buah kepayang, luar elok dalam beracun,” agaknya pribahasa ini cocok untuk menggambarkan bagaimana tatanan dunia yang kini dipimpin oleh ideologi kapitalisme. Sistem yang seakan-akan dapat membawa kebebasan, kesejahteraan, keadilan serta menjamin hak asasi manusia yang selama ini diagungkan. Namun pada kenyatannya dunia berada di bawah kendali Amerika Serikat dengan ideologi kapitalismenya, yang justru telah melahirkan penjajahan, melemahkan umat, penderitaan karena kemiskinan sistemik yang diciptakan serta semakin dijauhkan dari Islam dengan asas sekulerismenya.
Tak dapat dimungkiri, sampai sekarang organisasi dunia tidak mampu untuk menjegah berbagai penjajahan dan penindasan yang terjadi di dunia terutama umat Islam. Palestina sampai sekarang masih dijajah oleh Israel. Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang katanya dibentuk untuk menjamin perdamaian negara-negara internasional kerap kehilangan daya ketika berhadapan dengan kepentingan negara-negara besar terutama Amerika, melalui mekanisme hak vetonya yang kerap mengalahkan kesepakatan mayoritas negara anggota.
Kondisi ini membuat kita bertanya-tanya, jika satu hak veto amerika bisa menggugurkan kesepakatan mayoritas negara untuk apa ada PBB? Agaknya PP lebih berfungsi sebagai instrumen stabilisasi semu ketimbang penegak keadilan global. Mirisnya, kenyataan pahit ini Bukan hanya di Palestina, semenjak runtuhnya khilafah Utsmaniyah, negara muslim telah terlunta-lunta dibagi-bagi bagaikan kue di atas meja prasmanan. Berbagai cara digencarkan barat untuk memisahkan wilayah-wilayah kaum muslimin. Salah satunya rekayasa kolonial seperti perjanjian Sykes Picot yang bukan hanya melahirkan batas-batas negara namun semakin membuka gerbong konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Tentu bukan tanpa alasan perjanjian itu dibuat, sangat jelas adanya upaya sistematis untuk mempertahankan hegomoni Barat atas kawasan kaum muslimin yang strategis secara ekonomi dan politik.
Penjajahan hari ini tidak hanya menimpa manusia, alam pun menjerit karena keserakahan sistem saat ini. Berbagai bencana ekologis terjadi, alam yang menjadi tempat tinggal kita saat ini, diekspoitasi tanpa ampun, terjadi deforentasi pada hutan, yang mengakibatkan lemahnya daya dukung alam yang berujung dan pada berbagai bencana alam. Aktivitas pertambangan dilakukan secara eksploitatif, namun tidak ada pertanggujawaban untuk melakukan pemulihan. Alhasil lubang-lubang raksasa tercipta dan lagi-lagi membahayakan serta mencemari sungai dan sumber air masyarakat.
Mirisnya, yang menikmati berbagai sumber daya alam tersebut hanya para kapital yang memiliki modal dan asing-aseng. Rakyat hanya dapat bencananya saja. PT freeport misalnya, sampai sekarang masih dikeruk oleh Amerika serikat, bahkan sampai sekarang kontraknya terus diperpanjang. Tentu ini bukan hal baru, ini adalah imperialisme modern dimana negara-negara besar terutama super power seperti AS akan menguasai SDA suatu negeri dengan memanfaatkan kekuatan politik, ekonomi dan militernya dan mengikat negeri-negeri Muslim dengan perjanjian timpangnya.
Amerika Serikat semakin menampakkan sikap arogansinya dengan secara terang-terangan melakukan penyerangan, penculikan dan mengancam bagi negara mana saja yang tidak berjalan sesuai dengan kepentingannya. Sungguh aneh tapi nyata, bagaimana hukum internasional tidak dapat mencegah AS melakukan penculikan terhadap presiden Venezuela. Hanya dengan klaim bahwa pemerintahan Nicolas Maduro melakukan penyeludupan narkoba ke wilayah AS serta pencurian minyak milik AS yang kemudian digunakan sebagai salah satu justifikasi wacana agresi dan tekanan bagi Venezuela. Jika AS mengeklaim bahwa agresi tersebut karena penyeludupan narkoba, faktanya pasokan utama narkoba ke pasar AS justru berasal dari negara-negara lain. Meksiko misalnya, yang produksi dan transit narkotika jauh lebih besar daripada Venezuela. Artinya konflik dengan AS disini bukan muncul bukan semata-mata disebabkan tindakan kriminal, melainkan karena Venezuela yang politiknya tidak tunduk pada kepentingan AS. Venezuela dengan cadangan minyak terbesar di dunia lebih memilih menjalin kerja sama strategis dengan Tiongkok dan Rusia yang dua negara tersebut merupakan rivalnya AS sehingga mengganggu hegemoni ekonomi dan geopolitiknya. Intinya Patuh pada kepentikan AS ”aman” sedangkan melawan berarti siap-siap disanksi atau diserang.
Akar Problematika kehidupan ada pada ideologi kapitalisme yang dilindungi AS dan diadopsi negara-negara di dunia. Mempercayai Allah sebagai Sang Khaliq (Pencipta) namun tidak mau menjadikan Allah sebagai Sang Mudabbir (Pengatur) inilah yang disebut sistem sekulerisme (Pemisahan agama dari kehidupan).
Ideologi Kapitalime sekuler telah nyata merusak sendi-sendi kehidupan umat Islam secara menyeluruh baik dalam hal aqidah, muamalah, akhlak, ekonomi, politik, sosial budaya dan pendidikan. Hukum-hukum tuhan diabaikan dan diganti dengan hukum ciptaan manusia. Padahal manusia adalah makhluk yang mempunyai kepentingan dan setiap manusia punya kepentingan berbeda-beda sehingga hukum akan dibuat sedemikian rupa untuk melancarkan kepentingan orang yang membuat hukum.
Amerika Serikat sebagai negara inti (core state) dan penggerak utama ideologi kapitalisme global senantiasa menjaga agar sistem kapitalisme tetap diadopsi oleh negara lain, terutama negara Muslim. Kapitalisme akan masuk dalam bidang pendidikan dan menjadikan pendidikan yang hanya berorientasi pada materi saja. Pendidikan dikapitalisasi sehingga jika mau pendidikan bagus harus bayar mahal. Dalam segi ekonomi menggunakan riba, dan uang kertas yang masih menjadi alat penjajahan yang hampir tidak disadari oleh masyarakat. Belum lagi bagaimana dalam sistem kapitalisme ini SDA dapat diprivatisasi oleh individu yang mempunyai modal. Sehingga uang akan berputar pada orang-orang kaya saja. Siapa aktor dibalik semua ini jelas saja pemilik modal dan AS itu sendiri.
Amerika Serikat kerap menggunakan berbagai cara untuk membuat negara-negara yang berada di bawahnya agar mengadopsi sistem kapitalisme. Karena hanya dengan sistem inilah AS dapat mudah mengontrol dan mengamankan posisinya. Cara yang digunakan antara lain adalah melakukan tekanan politik, sanksi ekonomi, termasuk melakukan intervensi dan aneksasi ke negara lain untuk memperluas pengaruhnya. Praktik-praktik yang dilakukan AS tersebut sering dibungkus dengan narasi untuk menjaga keamanan nasional, menjaga kemurnian demokrasi, stabilitas internasional bahkan untuk Hak Asasi Manusia (HAM). Padahal kenyataannya AS melakukan hal tersebut untuk menjaga kepentingannya, terutama penguasaan atas sumber daya alam negara yang berada di bawah kendalinya.
Penting bagi umat Islam untuk kembali mengingat bahwa Umat Islam memiliki mabda Islam sebagai Ideologi yang utuh dan komprehensif. Mabda inilah yang akan menjadi modal utama dalam kebangkitan Islam. Islam bukan hanya sekedar agama ritual yang membahas shalat dan puasa, melainkan sebuah sistem kehidupan yang menyeluruh memiliki kepemimpinan politik yang independen dan berdaulat. Sehingga AS tidak akan mampu melakukan hegemoninya kepada negara yang menerapkan sistem pemerintahan Islam.
Satu-satunya harapan agar kembalinya tatanan kehidupan dunia yang adil dan penuh rahmat adalah dengan mengembalikan kepemimpinan Islam. Karena kepemimpinan Islam berbeda dengan kepemimpinan kapitalisme sekuler yang telah nyata melahirkan ketimpangan, kerusakan, dan konflik yang tak berkesudahan seperti yang kita lihat saat ini.
Selama 13 abad lamanya, Sistem pemerintahan Islam (Khilafah) telah membuktikan selama kurun waktu tersebut hanya 200 kasus besar yang terjadi. Khilafah tidak hanya melindungi umat Islam, tapi juga melindungi seluruh umat manusia dari kedzaliman. Hal ini dibuktikan dengan hidup rukunnya berbagai agama di wilayah kekuasaan Islam non-Muslim akan dijamin haknya sama dengan orang muslim. Penerapan Islam yang berdasar dari wahyu juga jelas membawa keadilan bagi yang menerapakkannya. Karena sistem Islam tidak tunduk pada kepentingan golongan atau kekuatan modal tertentu.
Tidak akan ada lagi ketimpangan ekonomi karena dalam Islam akan diatur tentang kepemilikan yang jelas dan adil. Kepemilikan umum tidak boleh dikuasai oleh individu atau korporasi. Melainkan dikelola negara untuk kemaslahatan umat. SDA juga akan diambil sesuai dengan kebutuhan umat, sehingga alam tetap akan terjaga kelestarian dan fungsinya. Alhasil, tidak akan terjadi ketimpangan ekonomi, eksploitasi berlebihan karena keserakahan individu. Kepemimpinan dalam pandangan Islam adalah amanah, bukan alat untuk menambah kekayaan atau kekuasaan, sehingga pemimpin dalam sistem Islam pasti akan menjaga keseimbangan anatara pemunuhan hajat hidup manusia dan keberlanjutan lingkungan hidup.
Adapun terhadap negara asing yang ingin menguasai SDA negeri-negeri muslim, Maka jelas mereka tak akan mampu. Negara khilafah tidak akan memberikan celah bagi dominasi dan intervensi kekuatan imperialisme seperti negara AS misallnya. Negara AS tidak dapat mendikte ataupun mengendalikan negara khilafah karena khilafah tidak akan tunduk pada tekanan dan tidak akan pernah menjalin hubungan dengan kafir harbi yang jelas permusuhannya terhadap Islam. Sehingga AS tidak memiliki tempat untuk mengendalikan kebijakan politik maupun ekonomi negara khilafah.
Negara Khilafah juga akan memastikan bahwa kekuatan militernya akan menjadi kekuatan yang terbaik di seluruh dunia sebagai bagian dari strategi menjaga kedaulatan, melindungi umat dari serangan asing dan peran strategis politik luar negeri. Peran Strategis Politik luar negeri Khilafah adalah penyebaran dakwah Islam (Jihad). Dengan kekuatan militer, politik dan ekonomi yang kuat akan menjadikan sistem Islam ini mampu melindungi umat dari kerusakan dan kezhaliman.
Wallahu’alam Bissawwab
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar