Palestina negeri para nabi terus dirundung duka, serangan, pembunuhan, pencaplokan wilayah hingga kini terus dilakukan oleh rezim Israel Laknatullah.
Terbaru Israel melakukan keputusan sewenang-wenang dengan membatalkan izin kerja 37 organisasi kemanusiaan internasional yang beroperasi di wilayah Palestina, khususnya di Jalur Gaza.
Kementerian Luar Negeri Ekspatriat Palestina menolak alasan Israel atas pemberlakuan larangan tersebut, menekankan bahwa organisasi-organisasi ini memberikan dukungan kemanusiaan, layanan kesehatan, dan lingkungan yang penting bagi warga Palestina, terutama di Gaza, di tengah agresi Israel, praktek taktik kelaparan dan serangan terhadap kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat.
Kemlu menggambarkan tindakan Israel sebagai pembajakan, penindasan dan pelanggaran terhadap hukum dan norma Internasional, termasuk pendapat nasehat Mahkamah Internasional (ICJ) tentang kewajiban Israel terhadap organisasi-organisasi kemanusiaan. (Antara.com).
Sementara itu, jumlah korban tewas akibat agresi Israel di Jalur Gaza sejak Oktober 2023 telah mencapai 71.269 orang, sementara 171.232 lainnya mengalami luka, menurut berbagai sumber medis pada Rabu.
Sejumlah menteri Luar Negeri seperti Inggris, Kanada, Denmark, Finlandia, Prancis, Islandia, Jepang, Norwegia, Swedia dan Swiss menyatakan keprihatinan serius tentang memburuknya situasi kemanusiaan di Gaza yang sangat buruk.
Pernyataan yang diterbitkan secara daring oleh Kementerian Luar Negeri Inggris, mengatakan Israel harus mengizinkan Organisasi non-pemerintah untuk bekerja di Israel secara berkelanjutan dan dapat diprediksi, dan memastikan PBB dapat melanjutkan pekerjaannya di wilayah Palestina tersebut. (Tribunnews.com).
Di lain tempat Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan pertemuan guna membahas gencatan senjata tahap kedua antara Israel dan Palestina.
Adapun Tahap pertama kesepakatan mencakup pembebasan sandera Israel sebagai imbalan atas pembebasan tahanan Palestina. Tahap kedua meliputi pembentukan komite teknokrat sementara untuk mengelola Gaza, dimulainya rekonstruksi, pembentukan dewan perdamaian, pembentukan pasukan internasional, penarikan pasukan Israel lebih lanjut, serta pelucutan senjata Hamas. (GazaMedia.com).
Gencatan senjata seperti hanya ilusi nyatanya Israel terus saja melanggar gencatan senjata dengan melakukan berbagai serangan yang menewaskan warga sipil serta membatasi masuknya bantuan logistik.
Pasukan pendudukan Israel terus melanggar gencatan senjata di Jalur Gaza, pada saat Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa lebih dari 100.000 Anak-anak dan 37.000 wanita hamil dan menyusul di Gaza akan menderita kekurangan gizi akut pada April 2026. (Republika.id.com).
Warga Palestina kian menderita oleh serangan Israel sementara janji fase kedua gencatan senjata oleh negara-negara perantara tak kunjung terwujud.
Sementara itu di Indonesia Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan kecaman atas keputusan Pemerintah Zionis Israel yang melarang operasi organisasi kemanusiaan di Gaza Palestina.
"Atas nama MUI saya mengecam keras keputusan Pemerintah Zionis Israel yang melarang puluhan organisasi kemanusiaan Internasional, termasuk dokter dan tenaga medis, untuk beroperasi di Gaza, " Kata kerja MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional". (MUIdigital.com).
Penderitaan Palestina niscaya akan terus terjadi selama Israel terus eksis baik di akui dunia ataupun tidak mereka tidak peduli lagi. Israel akan terus mewujudkan cita-citanya mendirikan Israel Raya menguasai politik- ekonomi dunia, salah satunya dengan menguasai pasar-pasar dagang. Bisa kita lihat sekarang berbagai kebutuhan rumah tangga seperti kebutuhan mandi, pencuci pakaian bahkan minuman di negara mayoritas dikuasai oleh Yahudi. Hal ini membuktikan Yahudi telah sukses menguasai pasar dalam bidang ekonomi.
Membiarkan negara Israel terus eksis sama saja dengan membiarkan Palestina terus terjajah dan menderita selamanya.
Berbagai tawaran penyelesaian yang dipelopori oleh Amerika Serikat seperti gencatan senjata apalagi solusi dua negara hanya ilusi, terbukti gencatan senjata terus di ingkari oleh yahudi. Sedangkan solusi dua negara adalah bentuk solusi dzolim, bagaimana mungkin penjajah yang seharusnya di usir malah diberi bagian tanah. Solusi-solusi penyelesaian yang dipimpin AS tersebut hanya akan membuat Palestina masuk kedalam penderitaan makin dalam.
Mengutuk dan memohon kebaikan Israel membuka bantuan kemanusiaan tak cukup untuk membebaskan Palestina dari penjajahan Israel. Palestina butuh dibebaskan dari Penjajahan.
Negeri-negeri Muslim terus berkhianat dengan hanya memberikan kecaman tanpa aksi nyata mereka lupa bahwa jabatan adalah amanah yang akan diminta pertanggungjawaban kelak di akhirat.
Para Pemimpin berkhianat dengan membiarkan umat muslim menderita tanpa berbuat apa-apa kecuali hanya kecaman. Padahal mereka mempunyai kuasa untuk mengirimkan pasukan, dalam islam muslim itu ibarat satu tubuh seperti hadits Rosulullah; "Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi ibarat satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya). "
Sudah saatnya umat bangkit dan bersatu, penderitaan Palestina hanya akan berakhir kalau Israel diusir dari tanah Palestina. Dimana hal itu hanya bisa dilakukan oleh negara adidaya Khilafah yang menjadi junnah.
Khilafah menghapus sekat-sekat yang membelenggu umat, dimana di negara manapun selama dia muslim wajib melakukan jihad fii sabilillah guna menyelamatkan saudaranya.
Di sisi Allah, hilangnya nyawa seorang muslim lebih besar perkaranya dari pada hilangnya dunia. Nabi Shallallahu Alaihi wasalam bersabda;
"Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya mukmin tanpa hal. " (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455,dan dishahihkan Al-Albani).
Hanya khilafah yang menjalankan syari'ah secara kaffah yang mampu menjadi junnah bagi Palestina dan umat muslim lain yang terjajah.
Palestina Negeri kaum muslim yang dibebaskan oleh Umat bin Khattab serta dilanjutkan oleh Salahuddin Al ayyubi. Kini saatnya umat kembali membebaskan Palestina dari penjajahan Israel dengan bergabung dengan jamaah dakwah ideologis yang menyerukan kebangkitan umat, agar umat sadar akan urgensi tegaknya khilafah.
Wallahu alam bissawab

0 Komentar