Oleh : Dwi March Trisnawaty S.Ei
Dunia teknologi dan digital dewasa ini terus melaju pesat, generasi muda hari ini berlomba-lomba eksis di dunia sosial media maya demi membuktikan keberadaan mereka. Pemuda digital native utamanya Gen Z tumbuh bersama dengan seiring perkembang teknologi lebih memilih menghabiskan waktunya mementingkan pujian dan validasi rasa melalui postingan media sosial baik untuk flexing ataupun scrolling konten-konten disukai. Hal ini disebabkan tegaknya sistem kehidupan kapitalis sekuler memanfaatkan digital sebagai media sekularisasi dan kapitalisasi pemuda mulai dari cara menilai fisik dan kepribadian disesuaikan dengan nilai-nilai estetika yang rusak dan merusak. Generasi pemuda dijadikan sebagai konsumen terbesar sekuler kapitalisme, akibatnya generasi muda semakin kehilangan jati dirinya sebagai seorang Muslim dan berpotensi sebagai agen pelopor perubahan.
Derasnya digitalisasi juga menimpa kaum ibu sasaran konsumen terbesar yang menguntungkan pasar kapitalis. Banyak produk diciptakan khusus memenuhi keinginan para perempuan berlandaskan nilai estetika yang dibawa sekuler kapitalisme. Mulai dari produk berbagai macam merk kosmetik, skincare, pakaian, parfum, dan lain sebagainya yang semakin menambah budget karena harga tiap produk tersebut tidaklah murah. Sosok ibu seiring perkembangan digital khususnya para Muslimah kelak menjadi ibu generasi yang harusnya mereka berperan penting sebagai ummun wa rabbatul bayt dan pendidik pertama bagi anak-anaknya, terjadi degradasi peran menjadi wanita karir serta tulang punggung keluarga. Kondisi ini tak kalah memprihatinkan, karena para Muslimah menjadi korban utama dalam sistem sekuler kapitalisme.
Umat Muslim di bawah hegemoni digital sekuler kapitalisme diaruskan secara secara massif tidak hanya untuk kepentingan ekonomi semata, namun juga menanamkan ideologi rusak dan bathil bertujuan menjauhkan ummat muslim dari pemikiran Islam ideologis. Paradigma sekuler kapitalisme memisahkan agama dari kehidupan, menjadikan negara tidak hadir menjaga dan mengurus kaum ibu dan generasi di tengah hegemoni digital yang merusak moral pemuda dan degradadi peran syar’i kaum ibu. Menurut negara sekuler kapitalis generasi muda kaum ibu sebagai objek komersial, negara berbisnis dengan rakyat serta berkongkalikong dengan barat demi keberlangsungan transaksional mereka.
Generasi muslim dan kaum ibu selain dijauhkan dari Islam ideologis, juga dijauhkan dari pembekalan dari Islam Kaffah. Jelas akar persoalan dari rusaknya moral pemuda dan ketahanan keluarga muslim terletak pada penerapan kehidupan di bawah sistem sekuler kapitalis. Dampak yang disebabkan hegemoni digital dalam naungan sistem liberal (menganut kebebasan) memiliki daya hancur sangat besar yang mampu menghancurkan potensi hidup manusia. Manusia diliputi potensi hidup berupa naluri (garizah), kebutuhan fisik (hajatul udhawiyah), dan akal, jika ketiga potensi tersebut diaruskan dengan ide-ide sekuler liberal mampu menjauhkan manusia dari fitrahnya. Krisis identitas generasi muslim dan kaum ibu tidak boleh dibiarkan, maka seharusnya kaum muslim bangkit dan melawan pemikiran kufur dari ideologi sekuler kapitalisme dengan sistem Islam.
Oleh karena itu, adanya kehadiran jamaah dakwah Islam kaffah membawakan narasi dan pemikiran Islam ideologis merupakan satu-satunya penyelamat bagi generasi muda dan kaum ibu. Hal tersebut sangat dibutuhkan di tengah penerapan sistem sekuler kapitalisme saat ini agar mereka terbina dan menghasilkan kepribadian Islam lalu siap menjadi pejuang mengembalikan kehidupan Islam. Allah Ta'ala berfirman:
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran [3]: 104).
Ayat di atas menjadi landasan utama bagi muslim memiliki visi ideologis dan tujuan perubahan secara sistemik bersama jamaah politik Islam. Seperti yang dicontohkan Rasulullah ﷺ, jamaah dakwah membentuk umat termasuk kaum ibu dan generasi pemuda melalui pendekatan Islam ideologis. Mempersiapkan mereka sebagai garda terdepan peradaban yang membela dan menjunjung Islam kaffah. Peran utama jamaah dakwah Islam ideologis berfungsi untuk membangun kesadaran politik (wa’yu siyasi), membekali mereka kemampuan berpikir kritis terhadap fenomena umat, dan menetapkan ideologi Islam sebagai solusi total atas segala tantangan kehidupan.
Untuk itu, generasi muda hidup dalam digital natives sudah semestinya ikut berperan menyampaikan dakwah kepada umat secara efektif melalui era digital. Begitu pula dengan kaum ibu sebagai ibu generasi memberikan nasihat dan arahan kepada generasi untuk berkontribusi di jalan dakwah. Maka, generasi muda dan kaum ibu dapat terhindar dari narasi barat generation gap untuk memisahkan yang tua dan muda. Gap antara muda dan tua dalam Islam menjadi rangkaian, ketersambungan antar generasi, serta modal besar bagi perjuangan umat dan penyebaran risalah islam Kaffah. Wallahualam bissawab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar