Dosa Kolektif Dunia Membiarkan Kebrutalan Israel Pada Palestina


Oleh : Herliana Tri M

Gencatan senjata yang saat ini berlangsung antara Palestina dan Gaza, tak membuat kondisi Gaza membaik. Seolah Gaza sudah aman terkendali dengan adanya gencatan senjata. Mata duniapun berpaling kepada wilayah lain atau curahan perhatiannya fokus pada permasalahan dalam negeri, sebagaimana Indonesia yang saat ini dikepung berbagai musibah termasuk banjir bandang di Sumatera dan Aceh yang sampai detik ini belum tertangani dengan baik.

Agar kita ingat bahwa, permasalahan Gaza belumlah usai, data yang terhimpun ini dapat memberikan gambaran derita saudara kita disana. Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menyatakan bahwa sekitar 1,6 juta warga Palestina di Jalur Gaza saat ini menderita malnutrisi dan kerawanan pangan akibat diblokirnya bantuan kemanusiaan penting oleh Israel, terutama kebutuhan pada musim dingin seperti yang saat ini dialami.

Juru bicara UNRWA, Adnan Abu Hasna, menjelaskan bahwa badai berdampak sangat parah terhadap kehidupan para pengungsi. Ribuan tenda rusak atau hancur, sementara air hujan dan limbah membanjiri kawasan permukiman. Sebagian besar tenda darurat yang terbuat dari plastik dan kain bekas tidak mampu melindungi pengungsi dari cuaca ekstrem (adararelief.com, 31/12/ 2025)

Belum lagi ancaman penyakit yang menghantui pendudukan. Bulan Sabit Merah Peringatkan Wabah Hepatitis A dan Gangguan Pencernaan Akibat Air Tercemar di Gaza. Beban derita penduduk Gaza belumlah berakhir. Parlemen Knesset Israel Sahkan RUU Penghentian Pasokan Listrik dan Air ke Fasilitas UNRWA
 
Inilah gambaran yang menguatkan apa yang disampaikan oleh Abu Hasna bahwa warga Gaza memandang agresi genosida Israel belum berakhir, melainkan berlanjut dalam bentuk lain melalui blokade berkelanjutan yang menyebabkan kondisi kemanusiaan terus memburuk, meningkatnya jumlah pasien, serta larangan masuk ratusan jenis bahan pangan, obat-obatan, peralatan medis, dan suku cadang untuk fasilitas air dan sanitasi. Israel bahkan menghalangi masuknya sekitar 6.000 truk bantuan UNRWA yang membawa ratusan ribu tenda, selimut, pakaian musim dingin, serta persediaan makanan yang cukup untuk Gaza selama tiga bulan, yang tertahan di perbatasan padahal sangat dibutuhkan warga.


Diamnya Dunia atas Israel

Kebrutalan Israel tak berhenti pada jalur Gaza saja. Warga Palestina yang setiap saat "hidup berdampingan" dengan Israelpun tak luput dari kesewenang-wenangan Israel. Kementerian Luar Negeri Chile, mengecam keputusan Israel untuk mendirikan 19 permukiman baru di Tepi Barat yang diduduki. Kabinet Keamanan Israel bahkan menyetujui pembangunan permukiman baru, mengabaikan resolusi Dewan Keamanan PBB pada 2016 yang memerintahkan Israel untuk menghentikan kegiatan pembangunan permukiman ilegal di wilayah Palestina yang diduduki.

Tindakan Israel ini tidak hanya melanggar hukum internasional tetapi juga menciptakan hambatan untuk mencapai perdamaian yang adil dan abadi dan didukung secara luas oleh komunitas internasional (antaranews.com,27/12/2025). Tak sekedar memperluas daerah jajahannya di Tepi Barat, Israel tak pernah berhenti mengganggu ketenangan warga Palestina. Pemukim Ilegal Israel menyerang warga Tepi Barat dan mencuri 150 Domba mereka serta menyerang penjaganya (cnnindonesia, 26/12/ 2025)

Data dari komisi resmi Colonization and Wall Resistance Commission menunjukkan tren kekerasan yang kian mengkhawatirkan. Sepanjang November lalu saja, tercatat ada 621 serangan yang dilakukan pemukim ilegal Israel terhadap warga dan properti Palestina di Tepi Barat. Tindakan semena-mena yang dilakukan Israel, sengaja dilakukan agar penduduk Palestina pergi dan meninggalkan tanah kelahirannya.

Saat ini saja diperkirakan terdapat sekitar 750.000 pemukim ilegal Israel yang tinggal di ratusan permukiman di seluruh Tepi Barat, termasuk 250.000 orang di Yerusalem Timur. Sejak Oktober 2023, data resmi Palestina mencatat eskalasi konflik di wilayah Tepi Barat telah mengakibatkan sedikitnya 1.103 warga Palestina tewas di tangan pasukan Israel dan pemukim ilegal. Sementara itu hampir 11.000 orang di Tepi Barat mengalami luka-luka dan sekitar 21.000 warga ditahan oleh otoritas keamanan Israel (cnnindonesia.com,26/12/2025)

Kebrutalan yang tidak dapat diterima akal sehat ini tak membuat negeri- negeri seluruh dunia bergerak menghentikan kebiadaban Israel. Bahkan PBB pun hanya mampu mengecam sebagaimana yang dilakukan negeri- negeri lainnya. Tanpa kekuatan yang dikerahkan menghentikan kezaliman yang terpampang di depan mata. 


Kekuatan yang dapat Menghentikan Israel

Sudah waktunya Dunia Islam mulai memikirkan ulang struktur politik globalnya. Wacana membangun sistem pemerintahan bersama berbasis syariah Islam, bukan hanya berasal dari semangat religius semata. Melainkan juga respon atas kegagalan sistem nation state yang terbukti memecah dan melemahkan.

Gabungan 57 negara anggota OKI misalnya, jika disatukan, memiliki PDB gabungan lebih dari $10 triliun dan menguasai 60% cadangan minyak dunia. Belum lagi kekuatan militer, demografi serta posisi geopolitik yang sangat strategis. Persatuan semacam ini bukan utopia, tetapi potensi nyata yang hingga kini belum digerakkan secara kolektif.

Umat Islam tidak kekurangan jumlah, sumber daya atau semangat. Yang kurang adalah sistem yang menyatukan. Krisis Palestina dan konflik-konflik lain di Dunia Islam tidak cukup dengan konferensi dan bantuan kemanusiaan saja. Dibutuhkan perubahan fundamental dalam struktur politik umat Islam, dari keterpecahan menuju integrasi. Indonesia, dengan sejarah besar dan kekuatan populasi Muslimnya, seharusnya menjadi pelopor perubahan dan bukan sekadar pengamat tragedi belaka.

Oleh karena itu, sudah saatnya umat Islam bersatu dalam ikatan aqidah dan institusi kuat dengan berlandaskan syariat Nya. Menyatukan kekuatan yang tercerai berai menjadi kekuatan kuat, kokoh, menyatukan dan menghancurkan kezaliman di seluruh wilayah negeri.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar