Agar Libur Penuh Makna


Oleh: Imas Royani, S.Pd.

Libur semester pertama telah tiba. Suka cita dirasa oleh banyak siswa juga santri sebab mereka bisa berkumpul bersama keluarga, berhenti sejenak dari rutinitas sekolah juga pesantren, bersua kembali dengan teman sepermainan, dll.

Hanya saja dalam keadaan sekarang, dengan sistem yang diterapkan saat ini, ada kekhawatiran yang menyelinap di sebagian hati para orang tua, terutama yang anaknya di asrama ataupun mondok. Betapa tidak, sulit rasanya mengkondisikan rumah, apalagi lingkungan sekitar untuk serupa dengan asrama atau pondok. Pergaulan hingga seks bebas, rokok dan narkoba, game online hingga judi online, algoritma dunia maya yang melenakan, dll.

Tidak dapat dipungkiri, saat ini anak-anak rentan terpapar berbagai bahaya global. Harapan mencerdaskan kehidupan bangsa, nyatanya pendidikan saat ini malah penuh dengan pembodohan dan kepalsuan. Kesejahteraan mereka terampas sebab para orang tua tersibukkan bekerja dengan penghasilan yang tidak pernah mencukupi kebutuhan apalagi jika salah memprioritaskan keinginan.

Tidak heran, anak-anak pun merasa kosong, dekat tetapi jauh, antara ada dan tiada. Hati mereka kosong, karena hanya kesepian yang menemani libur mereka. Tidak ada teman seasrama atau sepondok, tak ada canda, tak ada tawa. Benar-benar hampa. Mereka memang berada dekat dengan keluarga tetapi terasa jauh dan kehilangan makna. Tidak tahu mau bercerita apa, dan keluarga pun sepertinya tidak tertarik dengan cerita mereka. Antara ada dan tiada, sebab masing-masing orang sibuk dengan dunianya sendiri, jasad mereka di dunia nyata, tetapi jiwa dan pikiran mereka tak henti menjelajah ke dunia Maya.

Dan kondisi demikian tidak serta-merta ada dengan sendirinya pada diri tiap-tiap individu, sebab semua telah terkondisikan oleh sistem yang memaksa penganutnya untuk berbuat demikian. Dialah sistem kapitalisme yang menuhankan materi. Dia juga enggan menyatukan agama dan kehidupan. Maka pantas meski gemerlap dunia begitu lengkap tetapi dada hampir tiap insannya hampa, kosong, kering, dan gersang.

Sistem kapitalisme hanya mensejahterakan pihak yang berkuasa, baik kekuasaan tersebut berupa tahta maupun harta. Tidak heran yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Sebegitu kuatnya orang miskin untuk menyekolahkan anaknya di sekolah berkualitas tetap tak mampu karena terhalang biaya. Sedang pendidikan yang terjangkau telah dimodifikasi dengan kurikulum yang tidak mencerdaskan. Kurikulum pendidikan dalam sistem Kapitalisme dirancang agar menjadi pekerja pemuas nafsu serakah, bukan pemimpin peradaban. Banyak keluaran berpendidikan hanya pandai dalam akademik tapi minim adab dan akhlak.

Sistem pergaulan dalam kapitalisme juga mengagungkan kebebasan, sehingga penganutnya bebas melakukan apapun tanpa batasan syara. Laki-laki dan perempuan bebas bergaul selagi suka sama suka, bahkan hubungan sesama pun dihalalkan dalam sistem ini. Semua dilindungi oleh Hak Asasi Manusia.

Kekerasan terjadi dimana-mana, tua, muda, laki-laki, perempuan. Bahkan pelajaran SD sudah ada yang menjadi pembunuh. Tidak tanggung-tanggung bahkan tega melakukannya kepada orang tua. Tidak terbilang kasus bullying di sekolah bahkan luar sekolah. Tidak terbilang juga kekerasan yang didapat dari orang terdekat mereka. Lantas dimana tempat yang aman untuk mereka?

Berbeda dengan sistem Islam. Sistem Islam bersandar pada aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Sang Pencipta sekaligus Pengatur. Dengan akal yang diberikan oleh Allah SWT. menjadikan manusia dapat memilih mana yang benar demi meraih ridha-Nya. Semua ucapan dan perbuatan senantiasa terikat dengan hukum syara.

Kesemua itu terafiliasi ke dalam seluruh aspek kehidupan. Tidak heran sistem pendidikan, pergaulan, ekonomi, dan sebagainya semata-mata berfokus hanya pada penghambaan diri kepada Allah SWT. Negara bersinergi dengan seluruh lapisan masyarakat dan tiap individu dalam menjalankan syariat-Nya.

Amar makruf nahi mungkar terpelihara dari masyarakat kepada penguasa, dari yang tua kepada yang muda, begitupun sebaliknya. Setiap individu merasa berkewajiban menjadi penjaga agama Islam. Setiap kecurangan dan penyelewengan terhadap amanah akan terminimalisir sebab ada kekuatan iman dan taqwa dalam diri tiap-tiap individu.

Ketika musim libur tiba, suasa rumah dan lingkungan sama dengan ketika di pondok atau asrama sehingga bukan hanya anak yang dituntut untuk cerdas, orang tua dan masyarakat juga bersinergi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Tidak akan ada waktu yang terbuang sia-sia meskipun dalam masa liburan. 

Mereka senantiasa ingat akan hadis Rasulullah Saw.: 
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هِرَمِكَ وَ صِحَتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَ حَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
"Manfaatkanlah 5 perkara sebelum datang 5 perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa fakirmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum kematianmu." (HR. Hakim).

Hal itu ditegaskan juga dalam Al-Quran: 
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 
 "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (QS. Al-Asr: 1-3).

Hal itu dilakukan tidak hanya oleh satu generasi, melainkan oleh semua generasi. Mereka bersinergi bukan demi reputasi atau aksi semu demi like dan subscribe. Mereka melakukan itu semua hanya demi satu tujuan, yaitu meraih ridha-Nya.

Hanya saja kondisi seperti itu hanya bisa terlaksana apabila negara menerapkan sistem Islam. Maka untuk meraihnya, langkah yang harus dilakukan negara adalah mengganti sistem kapitalisme dengan sistem Islam. Dan sebagai warga negara yang baik, maka langkah pertama yang harus kita lakukan sebagai berkontribusi penting yang dibutuhkan negara adalah dengan mengkaji Islam kaffah bersama kelompok dakwah Islam ideologis dan mendakwahkannya di tengah-tengah masyarakat, tanpa nanti tanpa tapi.

Wallahu'alam bishshawab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar