Bencana Banjir, Kembalikan Solusinya Pada Islam


Oleh: Nurmalasari (Aktivis Muslimah Purwakarta)

Awal tahun 2026 banyak harapan yang dilangitkan untuk kesejahteraan bagi bangsa ini. Akan tetapi belum selesai satu musibah, bencana lain datang silih berganti menghantam berbagai daerah di pelosok negeri. 

Seperti yang dilansir dari metro TV (18-01-2026) Banjir melanda sejumlah daerah di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, akibat tingginya curah hujan. Air dari dua sungai besar, yakni Citarum dan Cibeet yang meluap juga memperparah banjir di wilayah tersebut.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karawang, hingga kini banjir telah melanda 14 desa yang tersebar di tujuh kecamatan sekitar Karawang. Sebanyak 27.925 jiwa atau sebanyak 12.903 keluarga terdampak bencana banjir tersebut. (Liputan6, 14-01-2026)

Kondisi ini diperparah oleh tidak adanya kolam retensi, sumur resapan, atau ruang terbuka yang berfungsi sebagai penampungan sementara. Pembangunan di bantaran sungai menyebabkan penyempitan badan sungai, karena rumah, pabrik, dan bangunan permanen berdiri terlalu dekat dengan tepian. Ketika hujan deras turun bersamaan dengan rob atau luapan sungai, saluran-saluran kecil ini tidak mampu menampung volume air yang jauh lebih besar. (Environesia Global Saraya, 09-12-2025)

Sungguh miris, bencana banjir semakin meluas meski tidak ada korban jiwa tetapi banjir di Karawang ini banyak memakan kerugian materi. Seharusnya kasus bencana seperti ini segera diperhatikan dengan serius dan ditangani dengan sungguh-sungguh karena kejadian seperti ini terus berulang ketika musim hujan. 


Akar Masalah

Bencana banjir ini bukan bencana yang pertama terjadi, namun seolah sudah menjadi fenomena tahunan yang tak kunjung usai. Banjir yang terus berulang pertanda alarm keras yang tidak boleh disepelekan bagi tata kelola negeri saat ini. 

Akar masalah yang menyebabkan banjir selalu terulang serta mengalami peningkatan volume air dari tahun ke tahun yaitu semua ini karena negara sudah terpengaruhi oleh sistem barat, yaitu sistem sekuler kapitalisme.

Sistem kapitalime saat ini, yang berazaskan kepada materi sehingga mereka tidak segan untuk merusak alam dengan adanya pembangunan berskala besar. Dimana pengelolaan hak rakyat seperti lahan pemukiman, tambang dan hutan dikuasai oleh mereka para oligarki dengan mengatasnamakan pembangunan. 

Bencana yang sering terjadi di negeri ini, penyebabnya tidak hanya faktor hujan yang extrim. Namun, hilangnya alih fungsi lahan penyerapan air, karena lahan-lahan penyerapan berpindah kepada pembangunan perumahan sehingga tidak ada ruang untuk air masuk ke dalam tanah.

Dasar pijakan penguasa yang berkiblat ke sistem kapitalisme nyatanya bukan berusaha memberikan perencanaan atau solusi terbaik bagi kebutuhan rakyatnya, akan tetapi bagaimana caranya mereka bisa untung secara materi dan menguntungkan negara. Para penguasa memberikan kemudahan izin perusahaan, izin tambang, serta ijin pembangunan perumahan. Adanya kongkalikong antara penguasa dan pengusaha pemodal besar atau oligarki sangatlah biasa terjadi.

Negara pun abai untuk memberikan sanksi kepada mereka yang sudah merusak hutan dan tata kelola negara. Keadilan pun sudah tidak berlaku di sistem rusak sekarang ini. Istilah tumpul keatas dan runcing ke bawah yang sudah menjadi rahasia umum di tengah-tengah masyarakat. Sehingga akan sangat wajar jika banyak kebijakan yang zalim.

Ketika keserakahan menyelimuti para penguasa, maka tunggu saja kehancuran yang akan terjadi, sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (TQS Ar-Rum [30]: 41)

Sayangnya, masyarakat saat ini belum memahami solusi untuk mengatur tatanan kehidupan. Masyarakat hanya bisa terdiam beribu bahasa, karena kalaupun bersuara maka merekalah yang akan mendapatkan hukuman karena sudah mengkritik kebijakan pemerintah. Inilah semakin membuktikan bahwa sistem sekuler kapitalime ini sudah membuat masyarakat kehilangan perlindungan keamanan dari berbagai bencana.


Islam Punya Solusi Sistemik untuk Mengatasi Banjir

Islam merupakan agama yang paripurna, karena Islam bukan hanya agama spiritual, tetapi juga sistem yang mengatur seluruh kehidupan manusia. Sistem hidup yang memiliki aturan komprehensif, termasuk dalam pengelolaan lingkungan dan penanggulangan bencana.

Dalam Islam, menegakan hukum Allah SWT merupakan tanggung jawab negara. Islam mengatur tatanan ekosistem alam, maka negara juga wajib mengelola penataan hutan dan menjaga kelestarian alam dengan sebaik-baiknya.

Dalam sistem Islam jika benda-benda milik umum yang mudah digunakan atau dimanfaatkan secara langsung oleh umat seperti jalan umum, sungai, maka rakyat boleh menggunakan atau memanfaatkan tanpa menimbulkan kegaduhan, memberikan bahaya dan menghalangi hak orang lain dalam memanfaatkannya.

Sedangkan pengelolaan sarana yang membutuhkan tenaga ahli atau pendanaan yang besar seperti pemanfaatan hutan, batu bara, maka hanya negara yang berhak mengelola sebagai wakil rakyat dengan catatan tidak di salah gunakan untuk kepentingan pribadi. Dalam sistem Islam, negara tidak hanya memikirkan pertumbuhan ekonomi, akan tetapi juga harus memikirkan dampak yang dihasilkan dari kebijakan yang akan diterapkan oleh negara.

Seperti halnya apa yang di sampaikan oleh Rosulullah saw berkenaan dengan berserikatnya kaum muslim atas tiga hal yang berarti termasuk kepemilikan umum, yaitu, ”Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: udara, padang rumput dan api; dan harganya haram.” (HR. Ibnu Majah)

Dalam sistem Islam, negara menjamin untuk keselamatan dan menjaga kelestarian lingkungan. Negara tidak akan membiarkan pembangunan apapun itu termasuk infrastruktur tanpa adanya kemaslahatan bagi umat.

Seperti halnya negara akan melakukan pengerukan lumpur-lumpur di sungai dan menghentikan pembangunan perumahan yang akan menyumbat pengaliran air, membangun kanal ataupun saluran untuk mengurangi dan memecah jumlah air dalam jumlah besar agar mengalir ke tempat lain yang lebih aman. 

Dalam sistem Islam sanksi yang berhubungan dengan udara, padang rumput dan api, maka negara tidak akan segan untuk memproses dan memberikan hukuman yang sesuai. Sehingga menimbulkan efek jera di kalangan masyarakat agar tidak coba-coba untuk menguasai daerah yang bukan hak nya.

Untuk itu, hanya dengan Islam yang paripurna akan melindungi dan menjaga keselamatan umat, agar umat tidak mengalami musibah banjir dan bencana lain yang meresahkan. Dengan sistem Islam semua permasalahan pasti mendapatkan solusi yang sempurna. 

Wallahualam




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar