Oleh: Aulia Zuriyati
Permasalah dari tahun ke tahun yang tidak pernah tuntas, yaitu tauran antar warga yang terjadi kembali di Belawan dan kali ini mengakibatkan seorang anak balita menjadi korbannya. Seorang balita berusia empat tahun harus menanggung akibatnya setelah terkena peluru nyasar dari senapan angin saat bentrokan berlangsung. Ibu korban, Romanda Siregar, meminta agar para pelaku di hukum berat. Karena tauran antar warga tersebut sudah berulang kali terjadi dan menimbulkan keresahan hingga korbanjiwa. Aparat kepolisian telah menangkap tiga terduga pelaku, dengan salah satunya diduga sebagai penggerak utama. Kasus ini masih terus dikembangkan untuk menelusuri kemungkinan keterlibatan pelaku lainnya (detik.com, 8/1/2025).
Tauran yang selama ini kerap dianggap sebagai konflik anatarwarga atau kenakalan sekelompok tertentu, kini jelas menunjukkan dampak yang amat berbahaya. Ketika anak yang sama sekali tidak terlibat justru menjadi korban, maka persoalan ini tidak dapat dipandang sebagai persoalan biasa melainkan merupakan suatu ancaman serius terhadap keselamatan suatu masyarakat.
Fakta berulangnya tauran di Belawan menunjukkan bahwa persoalan ini bukan suatu kejadian tidak sengaja. Melainkan ada permasalahan yang mendasar, seperti krisis pembinaan moral dan lemahnya kontrol sosial.
Generasi muda yang seharusnya menjadi harapan masa depan justru terjebak dalam lingkungan kekerasan, ego dan dendam sekelompok aknum. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang gagal dalam memeberikan arahan hidup yang jelas, sehingga kekerasan diannggap sebagai cara dalam menyelesaikan masalah.
Apalagi penerapan hukum yang selama ini diterapkan belum cukup memberikan efek jera. Selama akar persoalan tidak tersentuh maka tauran akan terus berulang dan memakan korban jiwa. Pelaku mungkin berganti, tetapi korban akan terus berjatuhan.
Sistem kehidupan sekarang, yang mana pendekatannya relatif dan dangkal, tauran hanya dipandang semata sebagai persoalan kriminal, bukan sebagai gejala dari kerusakan yang lebih dalam. Negara baru bertindak setelah kekerasan atau kerusakan terjadi, sementara upaya dalam pencegahan dan pembinaanya nyaris diabaikan.
Sistem sekuler dan kapitalis lebih menekankan pencapaian ekonomi dan produktivitas, mengesampingkan pembentukan akhlak dan arah hidup generasi muda. Generasi muda dituntut agar berkompeten secara teknis, namun rapuh secara moral. Akibatnya dapat kita lihat, kekerasan mudah muncul ketika suatu konflik terjadi.
Beda halnya dengan sistem Islam yang menjaga keselamatan jiwa manusia, memandang bahwa satu nyawa memiliki nilai yang sangat tinggi dan tidak boleh dikorbankan atas konflik adapun. Kekerasan yang dibiarkan berkembang tanpa adanya penyelesaian yang menyeluruh menandakan bukti gagalnya suatu sistem.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِا لْحَـقِّ ۗ وَمَنْ قُتِلَ مَظْلُوْمًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِـوَلِيِّهٖ سُلْطٰنًا فَلَا يُسْرِفْ فِّى الْقَتْلِ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ مَنْصُوْرًا
"Dan janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah (membunuhnya), kecuali dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barang siapa dibunuh secara zalim, maka sungguh, Kami telah memberi kekuasaan kepada walinya, tetapi janganlah walinya itu melampaui batas dalam pembunuhan. Sesungguhnya dia adalah orang yang mendapat pertolongan." (QS. Al-Isra' [17]: 33)
Ayat diatas menjelaskan bahwa kehidupan manusia memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah. Islam sangat tegas dalam melindungi nyawa manusia. Allah dengan tegas melarang pembunuhan terhadap siapapun, kecuali dengan alasan yang syar’i yang sesuai ketetapan allah.
Peristiwa yang menimpa balita di Belawan bukan sekadar kecelakaan, tetapi bukti nyata bahwa kekerasan sosial yang tidak dikendalikan dan dibiarkan begitu saja tanpa penyelesaian yang menyeluruh dapat merengut hak hidup dan rasa aman masyarakat.
Sistem Islam menawarkan solusi yang dapat menyentuh akar persoalan. Keamanan masyarakat adalah tanggung jawab negara. Negara bertanggung jawab penuh atas keselamatan rakyatnya dan kesejahteraannya.
Sementara pembinaan generasi muda merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintahan. Pendidikan akidah dan akhlak harus menjadi pondasi utama seseorang, bukan sekadar perlengkap dalam sistem pendidikan. Hukum yang ditegakkan haruslah adil dan tegas, yang mana memberikan efek jera dan sebagai penebus dosa.
Kasus tawuran di belawan seharusnya menjadi teguran untuk kita semua, bahwa permasalahan yang terjadi, tidak akan selesai jika kita masih menggunakan sistem kapitalis sekuler hari ini.
Hanya dengan sistem Islam lah semua permasalahan dapat teratasi hingga keakar-akarnya. Sudah seharunya kita kembali ke sistem yang benar, memberikan kemaslahatan bagi umat dan menentramkan jiwa.
Waallahu a'lam Bissawwab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar