KHUTBAH JUM'AT : SOLUSI ISLAM MENGATASI KRISIS KEPEMIMPINAN


KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.
اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَـٰتٍۢ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَـٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَـٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ -٩٦ (الاعراف)
Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Sebagai penyempurna rukun khutbah, saya selaku khatib tidak bosan-bosannya mengingatkan diri saya pribadi dan seluruh jamaah untuk selalu mengokohkan iman serta meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhânahu Wa Taâlâ, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Shallallâhu alaihi wasallam:
اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:
وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ
“Dan berbekallah kalian, dan sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal” (QS. Al-Baqarah [2]: 197).
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ juga berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. (QS. Âli Imrân [3]: 102).
Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Di penghujung tahun ini, ketika kalender hampir berganti dan banyak orang menatap masa depan dengan harapan baru, sebagian saudara kita di Sumatera Utara, Aceh, dan sekitarnya justru menutup tahun dalam duka akibat banjir bandang. Harta dan mata pencaharian hilang, rumah rusak, anak-anak mengungsi, dan doa-doa dipanjatkan dari tenda-tenda darurat. Momentum akhir tahun seharusnya menjadi ruang muhasabah bersama, karena di saat seperti inilah nurani kemanusiaan dan amanah kepemimpinan diuji: sejauh mana negara benar-benar hadir melindungi dan mengayomi rakyatnya yang tertimpa musibah.
Bencana alam di Sumatra kian menyingkap krisis kepemimpinan di negeri ini. Banyak pemimpin pusat hingga daerah menunjukkan ketidakmampuan, minim empati, arogansi, serta pelanggaran etika. Kritik dibungkam, media dibatasi, dampak bencana sempat dikecilkan, sementara para pejabat berlomba melaporkan klaim keberhasilan penanganan yang bertolak belakang dengan laporan warga dan relawan di lapangan. Pemerintah berdalih sulitnya penanganan bencanabahkan Presiden menyatakan tidak memiliki tongkat Nabi Musapadahal kekuasaan yang ada semestinya dapat digunakan untuk melindungi rakyat, termasuk dengan menetapkan status bencana nasional yang justru enggan dilakukan. 
Kondisi ini menguatkan penilaian para akademisi: Prof. Fransisco Budi Hardiman menyebut Indonesia kekurangan negarawan sejati dan dipenuhi politisi pencari kekuasaan; Prof. Harkristuti Harkrisnowo menegaskan normalisasi pelanggaran etika memperparah degradasi moral; dan Prof. Cecep Darmawan menekankan kegagalan pemimpin sebagai teladan. Krisis empati dan moral ini kian nyata ketika pemimpin tetap hidup mewah di tengah penderitaan rakyat, sementara korupsi terus meningkatKPK mencatat 851 kasus korupsi dana desa sepanjang 20152024 yang menjerat 973 pelaku, sekitar 50 persen di antaranya oknum kepala desa.

Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Krisis kepemimpinan di negeri ini pantas terjadi karena kepemimpinan berdiri di atas asas sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan dan kekuasaan. Kepemimpinan sejatinya adalah amanah besar yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Namun ketika agama dicabut dari kekuasaan, hilanglah kendali hakiki yang mengikat para pemimpin. Etika dan aturan mudah dilanggar, bahkan diubah, jika dianggap membelenggu syahwat kekuasaan. Perubahan syarat usia calon presiden dan wakil presiden oleh Mahkamah Konstitusi menjadi contoh nyata bahwa aturan buatan manusia dapat direvisi atau dibatalkan demi melanggengkan ambisi berkuasa.
Akan berbeda keadaannya jika suatu negeri melandaskan kepemimpinannya pada iman dan takwa. Kendali diri para pemimpin adalah rasa takut kepada Allah Subhânahu wa Taâlâ, karena mereka yakin sekalipun bisa lolos dari pengadilan dunia, tidak seorang pun akan lolos dari pengadilan akhirat. Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ menegaskan:
وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ
”Siapa saja yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, dia akan melihat (balasan)-nya” (TQS Az-Zalzalah [99]: 8). 
Inilah keyakinan yang menahan pemimpin dari kezaliman dan pengkhianatan amanah. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan:
وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيْهَا
”Kepemimpinan itu adalah amanah. Nanti pada Hari Kiamat ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang mengambil amanah itu dengan haq dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam amanah kepemimpinan tersebut” (HR Muslim).
Beliau bahkan berharap bertemu Allah tanpa ada satu pun tuntutan kezaliman atas darah dan harta:
إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى رَبِّي وَلَيْسَ أَحَدٌ يَطْلُبُنِي بِمَظْلَمَةٍ فِي دَمٍ وَلَا مَالٍ
”Aku berharap dapat berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun yang menuntut diriku soal kezaliman dalam urusan darah (nyawa) dan harta” (HR Ibnu Majah).
Beliau memerintahkan agar urusan rakyat dimudahkan dan tidak dipersulit (HR al-Bukhari). 
Keimanan dan ketakwaan inilah yang melahirkan pemimpin teladan seperti Khulafaur Rasyidin: Abu Bakar ra. yang menolak harta haram dan hidup berlebih, serta Umar bin al-Khaththab ra. yang menangis memikirkan nasib rakyat, menyita harta keluarganya yang memanfaatkan fasilitas negara, dan hidup sederhana dengan pakaian bertambal.

Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Keadilan sejati tidak lahir hanya dari niat baik para pemimpin, tetapi dari hukum yang adil dan mengikat semua pihak. Prolognya, jamaah yang dimuliakan Allah, keadilan yang dirindukan masyarakat menuntut lebih dari sekadar figuria menuntut sistem yang benar, sumber hukum yang lurus, dan keberanian untuk tunduk pada ketentuan Tuhan Yang Mahaadil. Tanpa itu, keadilan mudah berubah menjadi slogan. Allah Subhânahu wa Taâlâ menegaskan:
وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
”Siapa pun yang tidak berhukum pada wahyu yang telah Allah turunkan, mereka itu adalah pelaku kezaliman” (TQS al-Maidah [5]: 45).
Karena itu, pemimpin yang bertakwa meyakini tidak ada hukum terbaik selain hukum Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ. Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ berfirman:
اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ
”Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi kaum yang yakin?” (TQS Al-Maidah [5]: 50). 
Syaikh As-Sadi menjelaskan bahwa hukum jahiliah mencakup semua aturan yang bertentangan dengan wahyu; pilihannya hanya dua: hukum Allah dan Rasul-Nya atau hukum jahiliah yang berdasar kebodohan, kezaliman, dan kesewenang-wenangan (As-Sadi, Taysiir al-Kariim, 2/426).
Dengan demikian, kepemimpinan yang baik mensyaratkan penerapan syariah Islam yang tegas, jelas batas halal-haramnya, dan adil bagi semua tanpa keistimewaan bagi pejabat maupun keluarganya. Syariah juga melindungi hak masyarakat melalui pengelolaan kepemilikan umumseperti tambang, hutan, sungai, dan danauoleh negara untuk kesejahteraan rakyat, berbeda dengan kapitalisme yang melahirkan kesenjangan dan bencana. Karena itu, krisis kepemimpinan akan menemukan jalan keluar ketika akidah Islam menjadi landasan kehidupan, melahirkan pemimpin bertakwa yang menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam institusi Khilafah, sehingga terwujud kehidupan masyarakat yang adilsebuah kerinduan umat. WalLâhu alam bi ash-shawâb. 
Demikianlah yang dapat saya sampaikan dalam khutbah Jumat pada kesempatan kali ini. Ketahuilah bahwa segala kesempurnaan hanya milik Allah Subhânahu wa Taâlâ. Apa pun yang benar dari apa yang saya sampaikan adalah semata-mata berkat petunjuk-Nya melalui Rasul-Nya, maka marilah kita berpegang teguh kepadanya. Adapun segala kekeliruan adalah berasal dari kekurangan pemahaman saya pribadi; marilah kita tinggalkan dan semoga Anda semua berkenan melimpahkan keluasan maaf.
Sebagai penutup, mari kita akhiri khutbah ini dengan berdoa bersama. Semoga kita semua senantiasa dianugerahi kesehatan lahir dan batin, serta keberkahan dunia dan akhirat. Semoga Allah Subhânahu wa Taâlâ memberi kita hidayah, inayah, dan kekuatan, sehingga kita dapat menjadi bagian dari para dai yang selalu bersungguh-sungguh menegakkan syariat Islam secara kaffah, meneladani Nabi Muhammad Shallallâhu alaihi wasallam hingga akhir hayat dalam keadaan husnul khâtimah. Âmîn yâ Rabbal-‘âlamîn.[]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ






KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. 
اَللّٰهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ وَصَلِيْبِيِّيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ. اَللّٰهُمَّ نَجِّ إِخْوَانَنَا الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فَلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ عَلَى أَعْدَائِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَ اجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ بِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar