Oleh : Ika Milia
Pendidikan penting bagi suatu bangsa. Melalui pendidikan generasi penerus dapat lebih mengembangkankan potensi diri yang meliputi akhlak mulia, kecerdasan, keterampilan, dan lainnya. Dan sekolah menjadi salah satu tempat terbaik untuk mengenyam pendidikan.
Belum lama ini Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Bangkalan telah mengamankan siswa-siswi yang tertangkap basah sedang asyik berpacaran di tepi pantai. Dan mirisnya, mereka mengenakan seragam sekolah. Setelah diamankan dan ditelaah lebih lanjut, mereka mengaku telah berpamitan kepada orang tua untuk berangkat seolah. Namun, ternyata justru bolos demi bertemu lawan jenis yang dikenal di media sosial (https://surabaya.kompas.com/read/2026/02/09/194313178/kenal-di-medsos-dan-janjian-bolos-siswa-siswi-diamankan-saat-pacaran-di)
Sangat disayangkan, masa muda yang seharusnya menjadi masa emas untuk menuntut ilmu malah disia-siakan. Berpacaran menjadi hal yang lumrah bagi remaja, apalagi pengaruh media sosial dengan konten tanpa batas, menyumbangkan rusaknya pemikiran anak muda zaman kini.
Kerusakan moral ini tidak dapat disalahkan sebagai kesalahan individu. Apa yang mereka lakukan adalah buah pendidikan dari sistem Kapitalisme.
Pendidikan sistem kapitalisme telah memisahkan agama dari kehidupan. Tidak mengherankan jika pada akhirnya siswa tidak lagi memperhatikan norma-norma agama. Padahal pendidikan agama adalah pilar utama bagi pendidikan, karena berperan penting dalam membentuk moral.
Tanpa penopang ilmu agama, maka pendidikan sains, ekonomi, sosial dan lainnya tidak terikat dengan Sang Pencipta, sehingga setinggi apapun ilmu yang didapat akan sia-sia. Terbukti dengan kurikulum di sistem Kapitalisme, jadwal pelajaran pendidikan agama hanya diberikan dalam porsi yang minim dan hanya sebagai pelengkap. Sebatas pada hafalan, tanpa berpengaruh kepada landasan dalam berperilaku.
Selain itu peran orang tua tidak lagi maksimal karena tuntutan mencari nafkah di tengah morat-maritnya tekanan ekonomi. Padahal, benarlah ungkapan "Al-Ummu Madrasatul Ula", ibu atau orang tua adalah sekolah pertama bagi anak. Orang tua sebagai penyaring budaya dimana pengaruh negatif sedang gencar-gencarnya. Jika fungsi peran orang tua tidak maksimal, maka anak akan kehilangan sosok madrasah pertama dalam hidupnya. Keteladanan dalam tahap kembang anak sangat penting, ketika biasanya mereka mencontoh perilaku orang tuanya.
Begitu juga dengan guru tidak lagi bisa menjadi panutan untuk muridnya. Administrasi yang begitu membebani juga membuat guru tidak maksimal menjadi teladan yang baik untuk murid-muridnya, sehingga berpengaruh pada adab. Hubungan hikmat antara guru dan murid pun ikut-ikutan luntur. Begitupun ilmu yang ditransfer akan jauh dari kata barokah.
Pengaruh media sosial juga turut menyumbang bobroknya pergaulan di masa muda. Maraknya konten kreator yang mempromosikan gaya hidup bebas tanpa batas menjadi salah satu alasan rusaknya moral anak muda zaman kini. Mirisnya, negara abai dengan konten-konten yang tidak mendidik.
Sistem kapitalisme juga dapat menimbulkan adanya kesenjangan ekonomi, dimana anak-anak yang memiliki orang tua dengan ekonomi menengah ke atas mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Sangat berbanding terbalik dengan anak-anak dengan orang tua yang ekonominya menengah ke bawah. Hal ini dikarenakan pendidikan bukan lagi prioritas, karena dikelola layaknya bisnis untuk menguntungkan segelintir orang.
Tolak ukur dalam sistem Kapitalisme adalah kemanfaatan. Ilmu dicari hanya dengan tujuan mencari kerja dan keuntungan finansial. Ilmu tidak lagi dimuliakan, menyebabkan mustahil untuk melahirkan generasi unggul. Terbukti sejarah mencatat generasi unggul tidak dilahirkan dalam sistem kapitalisme.
Berbeda sekali dengan sistem Islam. Para pendahulu kita di masa muda, mereka dapat membuat sejarah cemerlang di masa remaja. Sultan Muhammad Al Fatih contohnya, beliau menguasai banyak bahasa, sains, dan strategi perang. Bahkan, di usia 21 tahun telah memimpim penaklukkan Konstantinopel.
Selain itu ada juga Imam Asy-Syafi'i, Ahli Fikih dan Ushul Fikih. Beliau sudah menghafal Al-Qur'an di usia anak-anak, prestasi yang sangat luar biasa untuk anak sesuai 7 tahun. Dan masih banyak lagi para shalafus shalih yang berprestasi di usia remaja.
Tentu saja prestasi yang telah diraih oleh Sultan Al Fatih, Imam Syafi'i dan para tokoh muda Muslimin lainnya, hal itu bisa terwujud karena sistem Islam di masanya sangat mendukung. Mereka juga tidak pernah menyia-nyiakan waktu dengan perbuatan yang sia-sia, pacaran misalnya. Pendidikan Islam diberikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan pedoman perilaku. Bahkan, kewajiban mencari ilmu digolongkan sebagai salah satu ibadah paling dasar.
Dengan demikian, dibutuhkan kembalinya sistem Islam demi mendukung penuh akses pendidikan gratis yang dapat memudahkan. Serta dapat memfilter pengaruh negatif media sosial untuk menjaga moral anak bangsa. Hanya dengan sistem Islam yang berlandaskan Al-Qur'an dan As-Sunnah sajalah negara dapat melahirkan generasi terbaik yang berakhlak mulia dan bertaqwa.[]
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar