Mereka yang Menguap: Derita Perempuan dan Anak Gaza yang Dunia Abaikan


Oleh : Fitria Damayanti, M.Eng

Di tengah genosida yang masih berlangsung di Gaza, perempuan dan anak-anak Palestina terus menjadi korban utama kebiadaban tanpa batas. Laporan investigasi Al Jazeera berjudul "The Rest of the Story" mengungkap fakta mengerikan: setidaknya 2.842 warga Palestina telah hilang tanpa jejak sejak agresi Israel dimulai pada Oktober 2023. 

Mereka diduga menjadi korban senjata termobarik yang membuat jasad menguap, lenyap tak tersisa (CNN Indonesia, 14 Februari 2026). Bukti ini diperkuat oleh kesaksian para penyintas dan analisis forensik yang menunjukkan pola kehancuran yang hanya bisa disebabkan oleh amunisi bersuhu ekstrem tersebut.

Ini bukan sekadar pembunuhan massal, melainkan penghapusan bukti kejahatan secara sistematis.

Agresi Israel tak berhenti meski ada kesepakatan gencatan senjata. Berbagai unggahan media menunjukkan bahwa serangan udara dan artileri Israel terus menghantam pemukiman dan tenda pengungsi di Gaza dan Khan Younis (Instagram @asarhumanity, 6 Februari 2026; Instagram @okezonecom, 8 Februari 2026). 

Seorang ibu di Gaza harus meninggalkan rumah mencari makanan untuk anak-anaknya, dan ketika kembali, rumahnya telah rata dengan tanah beserta bayi-bayi yang ditinggalkannya (Instagram @asarhumanity, 6 Februari 2026). Seorang paramedis bernama Hussein tewas saat berusaha mengevakuasi korban di tengah serangan (Instagram @metro_tv, 7 Februari 2026).

Puluhan jenazah yang ditahan Israel selama perang dikembalikan dalam kondisi tak utuh, dimakamkan dalam kuburan massal tanpa identitas yang jelas (Instagram @cnnindonesia, 16 Februari 2026).


Akar Derita yang Tak Kunjung Berakhir

Penggunaan senjata termobarik oleh Israel menunjukkan kebiadaban modern yang tak berperikemanusiaan. Norman Finkelstein dalam bukunya "Gaza: An Inquest Into Its Martyrdom" dengan telak mengurai bagaimana Gaza telah lama menjadi laboratorium bagi kebijakan kekerasan dan penghukuman kolektif Israel. 

Senjata yang membuat jasad menguap ini bukan hanya alat pembunuh, tetapi juga instrumen untuk menghapus bukti dan menciptakan ketidakpastian bagi keluarga korban yang terus menanti kabar.

Ini adalah bentuk ekstrem dari apa yang disebut Finkelstein sebagai "industri kematian" yang dirancang untuk menghancurkan tidak hanya raga, tetapi juga ingatan dan ikatan sosial masyarakat Palestina.

Ilan Pappe dalam "The Biggest Prison on Earth" melukiskan Gaza sebagai "penjara terbuka" terbesar di dunia, di mana 2,3 juta penduduknya dikurung dan hidup di bawah kontrol total. Pappe menunjukkan bagaimana narasi "membela diri" Israel digunakan untuk membenarkan pelanggaran HAM berat yang sistematis.

Ketika dunia mengetahuinya namun tak mampu menghentikan, ini mencerminkan kegagalan total tatanan internasional yang didominasi oleh kepentingan geopolitik negara-negara besar.

Noam Chomsky dan Ilan Pappe dalam "On Palestine" menguraikan bagaimana kolaborasi internasional, terutama dari Amerika Serikat, menjadi tameng yang melindungi Israel dari konsekuensi kejahatannya. 

Dunia mungkin menyaksikan, tetapi tanpa kekuatan yang mampu menantang hegemon, kecaman hanya tinggal kata-kata kosong. Sanksi ekonomi, boikot diplomatik, dan tekanan politik yang seharusnya dijatuhkan justru terhambat oleh hak veto di Dewan Keamanan PBB.

Akibatnya, korban terus berjatuhan, dan penderitaan perempuan serta anak-anak Palestina menjadi tontonan harian yang dinormalisasi.


Solusi Islam: Perlindungan Hakiki bagi Perempuan dan Anak

Dalam sistem Islam, perempuan dan anak memiliki kedudukan mulia yang dilindungi dengan aturan tegas. Islam memandang anak sebagai amanah yang harus dijaga, dan perempuan sebagai mitra dalam membangun peradaban yang harus dihormati dan dilindungi. Perlindungan ini bukan sekadar slogan, tetapi diwujudkan dalam hukum-hukum syariah yang mengikat dan sanksi yang tegas bagi pelanggarnya.

Ketika Israel dengan brutal membantai ribuan anak dan perempuan Palestina, umat Islam tidak bisa hanya berdiam diri dan menyerahkan perlindungan mereka pada lembaga internasional yang terbukti lemah dan penuh kepentingan.

Memerangi Israel yang telah membantai kaum muslimin, termasuk perempuan dan anak-anak, adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar. Allah SWT berfirman, "Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas" (QS Al-Baqarah: 190). Ayat ini memberikan landasan teologis untuk membela diri dan membela saudara-saudara yang tertindas. 

Tidak boleh ada upaya untuk berdamai, mengalah, apalagi memberikan jalan bagi Israel untuk menguasai negeri-negeri kaum muslimin. Solusi damai yang ditawarkan dunia selama ini terbukti hanya menguntungkan penjajah dan memperpanjang penderitaan korban.

Hukum jihad harus dipahami dan diterapkan sebagai kewajiban kolektif (fardhu kifayah) yang akan menjadi kewajiban individu (fardhu 'ain) jika kondisi tertentu terpenuhi.

Jihad bukan sekadar perang fisik, tetapi juga perjuangan dengan harta, pikiran, dan segala daya upaya untuk meninggikan kalimat Allah dan membela yang lemah. Ini membutuhkan kesatuan kekuatan kaum muslimin seluruh dunia, yang saat ini terpecah belah oleh kepentingan nasionalisme sempit dan ideologi impor yang memecah belah. 

Tanpa persatuan, mustahil kita dapat mengimbangi kekuatan militer, politik, dan ekonomi musuh yang bersatu di bawah kepentingan bersama.

Tegaknya kepemimpinan Islam, yaitu Khilafah 'ala minhaj an-nubuwwah, menjadi kebutuhan mendesak untuk menyatukan kekuatan kaum muslimin. Hanya dengan satu kepemimpinan yang sah dan diakui secara syar'i, umat dapat dimobilisasi secara efektif untuk membela Palestina. 

Khilafah akan memiliki tentara profesional yang siap berjihad di jalan Allah, kebijakan luar negeri yang independen dan tidak tunduk pada tekanan Barat, serta sistem ekonomi yang mampu mendanai perjuangan tanpa bergantung pada utang asing. 

Perjuangan menegakkan sistem Islam ini adalah pintu gerbang menuju pembebasan Palestina yang sesungguhnya.

Di tengah derita yang tak kunjung usai, kita harus terus bersuara, berdoa, dan bergerak untuk Palestina. Namun lebih dari itu, kita harus bekerja untuk mengubah akar masalah: kembalinya umat Islam kepada agamanya secara utuh (kaffah) dan bersatunya mereka di bawah satu panji kepemimpinan.

Hanya dengan itulah perlindungan hakiki bagi perempuan dan anak-anak Palestina dapat terwujud, tidak hanya di Gaza, tetapi di seluruh negeri Islam yang terancam oleh kezaliman. Janji Allah adalah pasti: "Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi" (QS An-Nur: 55).

Allahu a'lam bishawwab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar