Oleh: Desta Humairah, S.Pd
Siswa SMKN 3 Jabung Timur, Jambi terlibat main keroyok guru (14/1/2026). Kasus tersebut berawal dari seorang siswa yang menegur salah satu guru laki-laki dengan kata-kata yang tidak pantas. "Saya masuk ke kelas memanggil siapa yang meneriakki saya seperti itu. Dia langsung menantang saya, akhirnya saya refleks menampar muka dia," ujar guru tersebut (detikbali). Ironisnya permasalahan tersebut berbuntut dengan siswa yang tidak mau meminta maaf kepada guru yang bersangkutan. Tetapi, hal tidak terduga terjadi. Siswa malah meminta guru yang bersangkutan untuk meminta maaf terlebih dahulu. Hal ini memicu pertengkaran hebat hingga adu jotos antar guru dan siswa tidak bisa terelakkan (detikbali).
Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, menegaskan bahwa peristiwa ini bukan sekedar pelanggaran disiplin, melainkan pelanggaran hak asasi anak untuk mendapatkan perlindungan dan pendidikan yang aman, bebas dari rasa takut dan kekerasan, sebagaimana dijamin dalam Konstitusi dan UU Perlindungan Anak, (Media Indonesia).
Namun, ditinjau dari segi permasalahannya. Keduanyapun bersalah. Karena tidak berperilaku sebagaimana mestinya. Sehingga keduanya harus mendapatkan teguran dari pihak berwenang. Karena warga sekolah sudah tidak bisa mendamaikan. Akibatnya guru yang bersangkutan mendapatkan luka memar di tubuh akibat pengeroyokan tersebut, (iNews.id).
Potret Pendidikan Sekuler Kapitalis
Permasalahan oknum guru dengan siswa ini merupakan permasalahan yang serius. Bukan hanya menyangkut konflik personal atau emosi sesaat. Konflik ini telah melibatkan lembaga pendidikan sebagaimana ikon lembaga pendidikan adalah memupuk akhlak dan pengetahuan yang luas. Sehingga mencetak generasi yang memiliki kontrol emosi baik dan dapat memimpin suatu negara di era perkembangan zaman yang sangat pesat.
Konflik ini merupakan potret pendidikan yang tidak baik-baik saja. Relasi guru dan murid yang semestinya dibangun dengan penghormatan dan keteladanan justru berubah menjadi relasi penuh ketegangan, bahkan kekerasan. Namun, pendidikan saat ini sungguh miris. Banyak sekali yang harus diperhatikan oleh pemerintah, khususnya kemendikdasmen.
Konflik siswa keroyok guru ini adalah potret minimnya kahlak yang tumbuh dalam diri generasi bangsa. Disatu sisi, murid bertindak tidak sopan, kasar, dan kehilangan batas adab. Di sisi lain, tak dapat dipungkiri ada pula guru yang kerap menghina, merendahkan, atau melabeli murid dengan kata-kata yang melukai psikologis. Kedua pihak akhirnya terjebak dalam lingkaran konflik yang berujung pada kekerasan.
Banyak orang mengartikan guru itu “di gugu dan ditiru” namun ironisnya saat ini banyak oknum guru yang menyalahgunakan kewenangannya. Sehingga dalam pekerjaannya untuk mendidik anak bangsa tidak maksimal. Begitu juga dengan siswa. Kerap kali siswa meniru berbagai konten maupun terpengaruh dunia luar yang sungguh mencekik leher. Sehingga adab mereka terhadap orang yang lebih tua dan seseorang yang harus di hormati mendadak tidak di terapkan.
Inilah buah pendidikan sistem sekuler kapitalis yang menjauhkan Islam dari kehidupan. Pendidikan yang seharusnya menjadi tonggak utama perubahan peradaban tidak lagi menjadi penting karena berbagai faktor dan kendala yang tidak di kelola baik oleh pemerintah. Sehingga banyak yang menjadi korban, baik guru maupun siswa. Karena pemerintah tidak menerapkan islam secara kaffah. Pemerintah hanya memikirkan bagaimana sistem demokrasi menaungi rakyat dalam jumlah banyak tetapi kualitasnya tidak di perhatikan sama sekali.
Karena kehidupan sekuler kapitalis telah mandarah daging dalam pemerintahan Indonesia. Berbeda halnya, ketika pemerintah menerapkan islam secara kaffah, tidak akan ada konflik yang melibatkan guru dan siswa seperti yang terjadi di SMKN 3 Jabung Timur, Jambi.
Penerapan Islam Mampu Menyolusi Konflik Pendidikan
Islam menjadi akidah juga dasar negara yang kuat dan seharusnya di emban secara menyeluruh. Karena dalam islam akan membahas berbagai hal secara rinci dan menemukan akar masalah serta solusi menyeluruh. Termasuk dalam dunia pendidikan. Islam memiliki kiat-kita untuk mencerdaskan generasi bangsa.
Dengan cara mewajibkan negara untuk menjamin pendidikan gratis bagi seluruh warga. Karena ketika islam berdiri sempurna sebagai negara yang utuh, maka kekuasaan pemerintah jatuh di tangan seorang khalifah (pemimpin). Ketika khalifah memimpin maka akan berpegang teguh dengan al-quran dan hadist. Sehingga menerapkan pendidikan secara gratis bukan hal yang sulit.
Selain itu, dalam sistem pendidikan Islam, fondasi utama adalah membentuk siswa yang memiliki syaksiyah islam (kepribadian islam). Tentunya dengan kurikulum islam akan mencetak generasi yang memiliki akidah baik, pengetahuan luas serta perbuatan sehari-hari berdasarkan akidah yang diyakini yakni islam. Peran ini harus menjadi perhatian negara sehingga tidak menjadi angan-angan semata.
Karena dengan adanya pendidikan yang berbasis islam maka dapat melahirkan seorang khalifah. Tujuannya tidaklain adalah untuk menyejahterakan kehidupan masyarakat dengan mengelola sumber daya alam bukan merusaknya. Agar mendapat menfaat untuk generasi penerus bangsa.
Ketika suatu negara sudah menerapkan sistem islam di semua lini kehidupan, maka secara otomatis akan membangun kesadaran umat agar terlibat aktif dalam melahirkan generasi khoiru ummah yang siap menegakkan syariat islam. Agar tidak terulang lagi kasus pengeroyokan terhadap guru. Karena kasus tersebut merupakan awal dari munculnya kasus-kasus lain dalam dunia pendidikan. Untuk itu, tugas kita umat islam adalah menyebarkan ide-ide islam agar tidak ada lagi perilaku manusia yang di luar batas. Dapat mengontrol emosi dan sama-sama berakhlakul karimah. Wallahu’alam bish-shawab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar