KHUTBAH PERTAMA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.
اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:
وَلَا تَرْكَنُوْٓا اِلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُۙ وَمَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ مِنْ اَوْلِيَاۤءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُوْنَ ١١٣ (هُوْدٌ)
Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Sebagai penyempurna rukun khutbah, saya selaku khatib tidak bosan-bosannya mengingatkan diri saya pribadi dan seluruh jamaah untuk selalu mengokohkan iman serta meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhânahu Wa Taâlâ, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Shallallâhu alaihi wasallam:
اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:
وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ
“Dan berbekallah kalian, dan sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal” (QS. Al-Baqarah [2]: 197).
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ juga berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. (QS. Âli Imrân [3]: 102).
Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.
Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Sebagai renungan, kita perlu bertanya: benarkah negara yang paling lantang berbicara tentang demokrasi dan hak asasi manusia selalu berjalan seiring dengan nilai-nilai yang diklaimnya? Atau justru narasi luhur itu hanya menjadi topeng yang menutupi kepentingan kekuasaan yang lebih besar?
Amerika Serikat (AS) secara konsisten membangun citra dirinya sebagai penjaga utama demokrasi, HAM, dan tatanan internasional melalui diplomasi, media global, serta berbagai institusi internasional di bawah pengaruhnya. Namun di balik klaim normatif tersebut, praktik geopolitik AS menunjukkan kontradiksi: intervensi militer, operasi intelijen, sanksi ekonomi sepihak, hingga rekayasa pergantian rezim di berbagai negara. Demokrasi dan HAM kerap direduksi menjadi instrumen legitimasi untuk membenarkan agresi, bahkan ketika harus mengorbankan ratusan ribu rakyat sipil. Situasi ini mencerminkan apa yang disebut banyak pengamat sebagai imperial arrogance, yakni kecongkakan kekuasaan yang lahir dari posisi dominan AS dalam sistem internasional pasca-Perang Dunia II.
Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Kejadian-kejadian besar di panggung internasional sering kali tidak hanya soal moral atau norma, tetapi juga berkaitan dengan konflik kepentingan kekuatan besar. Apakah semua tindakan itu benar-benar bermotif kemanusiaan, atau justru mencerminkan dominasi terhadap negara lain?
Kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS) termasuk intervensinya di Vietnam, Irak, Afghanistan, dan Libya sering dibungkus dengan narasi moral seperti memerangi komunisme atau melindungi warga sipil, tetapi dalam praktiknya meninggalkan kehancuran, instabilitas berkepanjangan, serta jutaan korban sipil dan kerusakan struktural di negara-negara tersebut. Contohnya, invasi AS ke Irak pada 2003 atas dasar klaim senjata pemusnah massal tidak pernah terbukti dan justru memicu kekacauan sektarian, sementara intervensi NATO-AS di Libya 2011 setelah menggulingkan Gaddafi berujung pada konflik berkepanjangan dan keretakan negara tersebut. Kritik juga mengemuka terhadap tindakan terbaru AS yang dikatakan menculik Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada awal 2026, yang oleh pakar hukum internasional dinilai melanggar prinsip kedaulatan dan hukum internasional serta berpotensi menciptakan preseden berbahaya dalam hubungan global.
Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Islam mengajarkan bahwa kezaliman bukan sekadar tindakan brutal yang tampak di permukaan, tetapi segala bentuk penyimpangan dari kebenaran dan keadilan yang Allah Subhânahu Wa Taâlâ tetapkan. Karena itu, setiap sikap membenarkan atau mendukung kezaliman, terlebih yang dilakukan secara sistemik oleh kekuatan besar, bukanlah perkara ringan, melainkan persoalan akidah dan tanggung jawab moral di hadapan Allah.
Dalam perspektif Islam, kezaliman (zhulm) mencakup pelanggaran terhadap hak Allah Subhânahu Wa Taâlâ, hak manusia, serta tatanan keadilan secara menyeluruh. Pelanggaran hak Allah terwujud dalam pengingkaran terhadap hukum-hukum-Nya, sebagaimana firman-Nya:
وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
”Siapa saja yang tidak memutuskan perkara menurut wahyu yang telah Allah turunkan, mereka itulah para pelaku kezaliman.” (QS. al-Mâidah [5]: 45).
Pelanggaran hak manusia meliputi penindasan, perampasan hak hidup, kebebasan, dan martabat, baik oleh individu maupun negara, sedangkan perusakan tatanan keadilan terjadi ketika kekuasaan dipakai sewenang-wenang hingga hukum berubah menjadi alat legitimasi kezaliman. Al-Quran mengecam semua bentuk ini:
وَمَا اللّٰهُ يُرِيْدُ ظُلْمًا لِّلْعِبَادِ
”Allah tidak menghendaki kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya.” (QS. Ghâfir [40]: 31).
Dan Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ juga berfirman:
وَمَا اللّٰهُ يُرِيْدُ ظُلْمًا لِّلْعٰلَمِيْنَ
”Allah tidak menghendaki kezaliman bagi seluruh alam.” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 108).
Bahkan sekadar condong kepada pelaku kezaliman diancam keras:
وَلَا تَرْكَنُوْٓا اِلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُۙ وَمَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ مِنْ اَوْلِيَاۤءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُوْنَ
”Janganlah kalian cenderung kepada para pelaku kezaliman yang menyebabkan kalian disentuh oleh api neraka. Sekali-kali kalian tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kalian tidak akan ditolong.” (QS. Hûd [11]: 113).
Karena itu jelas haram mendukung atau membenarkan kezaliman AS, termasuk kezaliman yang dibungkus istilah perdamaian seperti Board of Peace (BoP) dengan dalih masa depan Gaza. Jejak sejarah politik AS penuh kejahatan internasional, sehingga aneh bila masih ada pihakterutama penguasa Muslim, intelektual, ulama, atau ormas Islamyang berprasangka baik terhadap gembong penjahat kafir internasional yang culas seperti AS, seolah AS akan berpihak kepada Palestina melalui BoP. Padahal sudah terang-benderang AS adalah pendukung utama Zionis Yahudi selama puluhan tahun dan penyokong utama persenjataannya untuk melakukan genosida atas Palestina. Kezaliman sendiri adalah dosa besar yang sangat Allah benci, sebagaimana firman-Nya:
وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ
”Allah tidak menyukai para pelaku kezaliman.” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 57).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Khilafah adalah solusi ideologis dan sistemik untuk melawan kezaliman global AS karena tidak berhenti pada kecaman moral, tetapi menghadirkan kekuasaan nyata melalui penyatuan umat Islam sedunia yang selama ini tercerai-berai. Penyatuan kekuatan politik, ekonomi, dan militer negeri-negeri Muslim di bawah satu kepemimpinan Islam global akan melahirkan deterrence power (daya gentar) untuk mencegah agresi dan intervensi AS, sesuai perintah Allah Subhânahu Wa Taâlâ:
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا
”Berpeganglah teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan jangan bercerai-berai...” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 103).
Karena itu kaum Muslim lebih layak bersatu di bawah Khilafah daripada di bawah skema AS seperti Board of Peace. Kebijakan luar negeri Khilafah berlandaskan keadilan dan ketundukan pada syariah, bukan dominasi dan eksploitasi, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam:
إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
”Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu adalah perisai; manusia berperang di belakangnya dan berlindung dengan dirinya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Dalam Khilafah, pembelaan terhadap kaum tertindas seperti Palestina bukan sekadar diplomasi, tetapi amanah yang wajib dibela secara politik, hukum, bahkan militer (jihad). WalLâhu alam bi ash-shawâb.
Demikianlah yang dapat saya sampaikan dalam khutbah Jumat pada kesempatan kali ini. Ketahuilah bahwa segala kesempurnaan hanya milik Allah Subhânahu wa Taâlâ. Apa pun yang benar dari apa yang saya sampaikan adalah semata-mata berkat petunjuk-Nya melalui Rasul-Nya, maka marilah kita berpegang teguh kepadanya. Adapun segala kekeliruan adalah berasal dari kekurangan pemahaman saya pribadi; marilah kita tinggalkan dan semoga Anda semua berkenan melimpahkan keluasan maaf.
Sebagai penutup, mari kita akhiri khutbah ini dengan berdoa bersama. Semoga kita semua senantiasa dianugerahi kesehatan lahir dan batin, serta keberkahan dunia dan akhirat. Semoga Allah memberi kita hidayah, inayah, dan kekuatan, sehingga kita dapat menjadi bagian dari para dai yang selalu bersungguh-sungguh menegakkan syariat Islam secara kaffah, meneladani Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam hingga akhir hayat dalam keadaan husnul khâtimah. Âmîn yâ Rabbal-‘âlamîn.[]
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ وَصَلِيْبِيِّيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ. اَللّٰهُمَّ نَجِّ إِخْوَانَنَا الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فَلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ عَلَى أَعْدَائِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَ اجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ بِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar