Banjir Bandang Karena Tambang


Oleh: Sulastri 

Dia dijuluki sebagai atap Jawa Tengah. Panoramanya sungguh menawan bagai permata nan indah. Namun sulit untuk digapai. Banyak orang ingin mendakinya sambil menikmati senja dan kopi dari ketinggian. Namun, siapa sangka kini dirinya mengamuk karena ulah manusia itu sendiri. Mungkin Gunung Slamet sudah lelah dengan tingkah manusia.

Atap Jawa Tengah yaitu Gunung Slamet sedang mengamuk. Hujan deras pada Sabtu, 24-1-2026 ditambah keadaan hulu yang rusak menyebabkan banjir bandang di Pemalang, Brebes, Purbalingga, Banyumas dan Tegal. BPD Purbalingga mencatat material banjir membawa kayu, batu, batang pohon dan lumpur sehingga menghantam permukiman warga di Kecamatan Mrebet. (Mongabay.co.id, 27-1-2026).


Masalah Klasik

Banjir yang melanda Gunung Slamet adalah problem klasik yang berulang. Penyebab utama bukan karena tingginya curah hujan melainkan kekeliruan tata ruang dimana lahan sudah tidak mampu menyerap air. Selain itu ada penambangan di Gunung Slamet yang menjadi penyebab banjir di gunung Slamet. Terbukti dari material banjir yang terbawa seperti kayu, batu, batang pohon. Banjir bandang di Gunung Slamet disebabkan karena alih fungsi lahan hutan menjadi area pertanian, kurangnya vegetasi penahan air ditambah adanya aktivitas penambangan batu dan pasir yang masih berizin pemerintah semakin merusak ekologi di kawasan Gunung Slamet. Masalah klasik semacam ini sama halnya dengan daerah-daerah yang lain. Curah hujan yang tinggi bukanlah faktor utama penyebab banjir. Ketika alam terjaga mau hujan besar pun tidak akan ada banjir karena ada pohon yang menyerap air. Tapi ketika di Gunung Slamet ada penambangan akhirnya lahan menjadi gundul dan tidak ada pohon yang menyerap air, maka timbulah banjir. Keserakahan segelintir manusia hanya menimbulkan kerusakan alam. Mereka tidak memperhatikan dampak lingkungan dan resiko jangka panjang. Mereka hanya ingin mendapatkan materi. 


Paradigma Kapitalistik

Dalam paradigma kapitalistik membuat kebijakan tata kelola lahan tidak lagi memperhitungkan dampak lingkungan. Ketika ada manfaat yang didapat, maka semua jalan diterobos tanpa ada rem yang memberhentikan. Laju terus tanpa melihat kanan kiri yang akhirnya akan menabrak dan mengakibatkan kerusakan. Begitulah watak kapitalisme yang tidak memperhitungkan dampak lingkungan ketika menerapkan kebijakan. Pada akhirnya yang menjadi korban adalah manusia dan makhluk hidup lainnya. Makhluk hidup yang habitatnya di hutan terancam kelaparan dan punah akibat lingkungannya dirusak. Alhasil tak jarang banyak ditemukan satwa yang datang ke pemukiman untuk mencari makanan karena habitatnya sudah di rusak. Bagi manusia pun akibat banjir bandang bisa kehilangan rumah, akses komunikasi terhambat, ancaman kelaparan, menghentikan mobilitas, bahkan yang terparah bisa kehilangan sanak saudara. Tetapi, manusia serakah itu tidak berpikir sejauh itu. Mereka hanya mementingkan isi perut dan isi dompet.


Solusi Pragmatis 

Untuk mengatasi bencana banjir bandang di Gunung Slamet terdapat berbagai upaya pemerintah, seperti mengirim bantuan, pembersihan material longsor, distribusi air bersih, dan penerapan status tanggap darurat. Padahal solusi tersebut masih bersifat pragmatis, belum menyentuh akar masalah. Akar maslahnya karena kehidupan hari ini diatur oleh sistem sekuler kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Alhasil banyak sekali kerusakan yang ada. Solusi dari pemerintah bagaikan dokter yang menyembuhkan penyakit, tetapi tidak mampu mencegah penyakit itu datang. Ketika sudah ada kerusakan baru diberikan solusi. Padahal mencegah lebih baik daripada mengobati. Mengobati pun butuh biaya mahal dan tidak langsung sembuh.


Tata Kelola Ruang dalam Islam

Tata kelola ruang dalam Islam akan memperhatikan dampak lingkungan seperti, menjaga alam dan sumber daya alam, menciptakan keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian lingkungan, mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan masyarakat. Alhasil lingkungan pun akan terjaga dari kerusakan yang disebabkan oleh tangan-tangan manusia itu sendiri. Dalam Islam pembangunan tidak berlandaskan asas manfaat kapitalistik. Namun, mempertimbangkan kemaslahatan umat jangka panjang. Semuanya dipertimbangkan sebaik mungkin. Jangan sampai anak cucu kita hanya mewarisi kerusakan yang hari ini dilakukan. Miris tentunya jika melihat fakta hari banyak sekali kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh salah dalam mengelola tata ruang. Penambangan di Gunung Slamet pun tidak mempedulikan tata kelola ruang. Gunung Slamet terus dikeruk isinya sampai ke akar-akarnya agar menghasilkan cuan.


Tata Ruang pada Masa Khalifah Umar bin Khattab 

Untuk menjaga keseimbangan alam Khalifah Umar Bin Khattab menetapkan pengalokasian lahan pertanian dan menghukum bagi yang merusak tanaman atau pohon. Bahkan di masa Khalifah Umar Bin Khattab memerintahkan agar jalan-jalan diperbaiki dan dijaga agar hewan tidak terperosok atau terluka. Bahkan, beliau pernah menghukum seorang pemilik unta yang membiarkan untanya merusak tanaman orang lain. Sepeduli itu Khalifah pada umat dan makhluk hidup.


Islam Rahmat Bagi Seluruh Alam

Pembangunan dalam Islam akan menciptakan rahmat bagi seluruh alam, bukan musibah atau bencana. Hal ini karena pembangunan dalam Islam memperhatikan dampak lingkungan. Semua ini bisa terjadi karena Khalifah menjalankan amanahnya sesuai perintah Allah. Gunung adalah harta milik umum dan tidak boleh dikuasai oleh individu maupun swasta. Ingatlah hadis Rasulullah saw. berikut: "Manusia berserikat pada tiga perkara yaitu air, api, dan padang rumput" (HR.Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)


Khatimah 

Banjir bandang di Purbalingga disebabkan karena sistem rusak sekuler kapitalisme. Alhasil hanya menimbulkan kerusakan. Ini hanya masalah cabang yang akar permasalahannya satu yaitu akibat diterapkannya sistem sekuler kapitalisme. Berbeda dengan Islam yang mampu mencegah dan memberikan solusi untuk banjir bandang. Hal ini karena dalam Islam sumber aturannya berasal dari Allah Swt sang pengatur alam semesta yang merajai alam semesta. Sudah saatnya mencampakkan sistem sekuler kapitalisme dan menggunakan aturan Islam untuk mengatur seluruh aspek kehidupan. Wallahu a'lam bishawab.[]




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar