Bobroknya Kepemimpinan Global Kapitalisme, Saatnya Beralih ke Kepemimpinan Islam


Oleh: Tsaqifa Farhana

Dunia dikejutkan oleh operasi Amerika Serikat yang menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, melalui kekuatan militer dan membawanya ke AS. Tanpa mandat PBB, tanpa persetujuan negara berdaulat.

Penangkapan Presiden Venezuela melalui operasi lintas negara memperlihatkan bahwa Amerika Serikat tidak lagi sekadar menggunakan instrumen diplomasi dan sanksi ekonomi, tetapi juga kekuatan militer langsung untuk menegaskan dominasinya. Tindakan ini memicu kecaman internasional karena dianggap melanggar prinsip paling mendasar dalam hubungan antarbangsa, yakni kedaulatan negara dan non-intervensi.

Peristiwa ini menambah daftar panjang intervensi AS di berbagai belahan dunia. Dari Timur Tengah hingga Amerika Latin, dari sanksi ekonomi hingga destabilisasi politik. Akan tetapi, pola yang sama terus berulang, negara yang berseberangan dengan kepentingan “sistem kapitalisme, di bawah hegemoni AS” akan dihadapkan pada tekanan sistematis. Venezuela hari ini, kemarin Irak, Afghanistan, Suriah, dan banyak negeri lain (termasuk negeri-negeri Muslim) yang pernah menjadi ladang percobaan dominasi global.

 
Sistem yang Rusak

Hegemoni Amerika Serikat tidak berdiri di ruang hampa. Ia tumbuh dan menguat di atas fondasi ideologi kapitalisme sekuler. Yakni sebuah cara pandang yang memisahkan nilai moral dan wahyu dari pengaturan kehidupan, serta menempatkan kekuatan dan keuntungan sebagai ukuran kebenaran.

Dalam sistem ini, hukum bukan lagi penjamin keadilan, tetapi instrumen legitimasi. Demokrasi bukan lagi kedaulatan rakyat, tetapi sering kali topeng bagi kepentingan elite. Hak asasi manusia bukan prinsip universal, melainkan slogan yang digunakan selektif. 

Kapitalisme sekuler telah merusak sendi-sendi kehidupan umat manusia, termasuk umat Islam. Ia menjajah bukan hanya wilayah, tetapi juga cara berpikir. Dari ekonomi ribawi yang menjerat, politik transaksional yang korup, hingga pendidikan yang mencetak generasi tanpa arah ideologis. Pada akhirnya di dalam sistem ini, umat dicetak menjadi pasar, buruh, dan konsumen, bukan lagi pembawa risalah peradaban.

Kerusakan itu juga menjelma dalam skala ekologis. Bencana lingkungan, krisis iklim, perampasan lahan, dan konflik sumber daya bukan semata akibat kelalaian, tetapi buah logis dari sistem yang memandang alam sebagai komoditas, bukan amanah. Keserakahan dilembagakan. Eksploitasi dinormalkan. Dan penderitaan massal dianggap “biaya pembangunan”.

Dalam konteks ini, arogansi Amerika Serikat menemukan momentumnya. Sebagai lokomotif kapitalisme global, AS berperan sebagai penjaga sistem. Siapa pun yang mengganggu arus kepentingannya akan ditekan, disanksi, atau dihantam. Venezuela hanyalah satu contoh terbaru dari wajah lama imperialisme dalam kemasan modern.


Inilah Saatnya, Menyongsong Perubahan Hakiki

Di tengah dunia yang semakin brutal mempertontonkan ketidakadilannya, umat Islam tidak cukup hanya menjadi komentator. Kemarahan tanpa arah hanya akan menjadi kelelahan kolektif. Simpati tanpa kesadaran hanya melahirkan kepasrahan. Yang paling mendesak hari ini adalah kebangkitan kesadaran ideologis.

Kita tak boleh lupa bahwa Allah telah menurunkan Islam sebagai seperangkat aturan dalam hidup, sebuah ideologi hidup yang tidak hanya mengatur ibadah personal, tetapi juga politik, ekonomi, pendidikan, dan hubungan antarbangsa. Islam bukan sekadar identitas, tetapi visi peradaban. Di dalamnya terdapat modal kebangkitan yang mampu membebaskan umat dari posisi korban dan mengantarkannya kembali menjadi subjek perubahan.

Tegaknya kepemimpinan Islam bukan romantisme sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk melawan hegemoni Amerika Serikat dan sistem kapitalisme global yang menindas.

Lebih dari itu, dunia hari ini sedang mengalami kebangkrutan arah. Di tengah perang tanpa akhir, krisis iklim, kemiskinan struktural, dan hipokrisi hukum internasional, semakin jelas bahwa kepemimpinan global yang ada gagal menghadirkan rahmat. Islam datang membawa paradigma yang berbeda. 

Karena itu, kepemimpinan Islam adalah satu-satunya solusi untuk memulihkan tatanan dunia yang manusiawi dan penuh rahmat. Dalam kerangka inilah, Khilafah Islam harus dibaca ulang oleh generasi muda bukan sebagai slogan, tetapi sebagai proyek peradaban yang diperjuangkan. Ia bukan hanya benteng umat Islam, tetapi institusi yang ditujukan untuk melindungi seluruh manusia dari kedzaliman kekuasaan, eksploitasi ekonomi, kemungkaran yang dilembagakan, dan kerusakan sistemik yang hari ini menjelma dalam bentuk bencana ekologis, perang, dan kemiskinan global. 

Bagi aktivis muda Muslim, peristiwa Venezuela tidak boleh berhenti sebagai headline berita luar negeri. Ia adalah alarm peradaban. Bahwa dunia hari ini sedang dikendalikan oleh sistem yang rusak. Dan bahwa umat Islam memikul tanggung jawab sejarah untuk menawarkan jalan keluar. Bukan dengan ikut arus, tetapi dengan menantangnya secara ideologis. Bukan dengan perubahan parsial, tetapi dengan membangun kesadaran, gerakan, dan arah perjuangan yang menjadikan Islam kembali sebagai solusi peradaban.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar