Ketika Isi Perut Kalah dari Kehadiran Guru Potret Sunyi Pejuang Pendidikan dalam Timbangan Nilai Islam


Oleh : Ammelia Sobihatul Ahmar 

Di banyak sudut negeri ini, kita menemukan kenyataan yang pahit tapi nyata. Gaji guru terutama guru honorer lebih kecil dibandingkan penghasilan sopir MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk merendahkan profesi mana pun, karena setiap pekerjaan itu mulia. Namun ada yang terasa janggal ketika orang yang mendidik akhlak dan masa depan anak bangsa justru berjuang keras untuk sekadar mengisi perutnya sendiri.

Guru datang lebih pagi, pulang lebih sore. Menghadapi murid dengan berbagai karakter, menyiapkan materi, menanamkan nilai, bahkan sering menjadi tempat curhat anak-anak. Namun di akhir bulan, yang datang justru kegelisahan

Uang cukup sampai kapan? Ironisnya, sistem seolah lebih cepat memberi penghargaan pada program, bukan pada manusia yang menjaga ruh pendidikan itu sendiri. Coba kita jujur sebentar. Kenapa negara lebih memilih memberi makan, dari pada mencerdaskan kehidupan bangsanya ? Karena Mereka ingin kita patuh bukan cerdas , karena yg cerdas sulit diatur. Pernahkah terlintas di hati kita rasa tidak adil?

Guru yang mengajarkan kejujuran, justru harus berhutang untuk hidup. Guru yang menanamkan cita-cita, sering memendam mimpinya sendiri. Guru yang menyuruh muridnya makan bergizi, kadang harus menahan lapar.

Ini bukan soal iri profesi lain. Ini tentang rasa perih melihat ilmu dan pengabdian dihargai lebih rendah dari kebutuhan fisik semata. Kalau guru terus dipaksa bertahan dengan perut kosong, lalu bagaimana kita berharap pendidikan lahir dari hati yang tenang?


Solusi

Masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan emosi semata, tapi juga tidak boleh dibungkam dengan dalih ikhlas. Solusi nyata yang perlu didorong. Penataan ulang skala prioritas anggaran, bukan hanya pada program, tapi pada kesejahteraan guru. Standar hidup layak bagi guru, agar mereka mengajar tanpa beban kelaparan dan kecemasan.

Kesadaran publik, bahwa pendidikan bukan sekadar gedung dan kurikulum, tapi manusia yang menghidupkannya. Kolaborasi umat, dari negara, lembaga, hingga masyarakat untuk menjaga martabat guru. Ikhlas itu mulia, tapi ikhlas tidak boleh dijadikan alasan untuk membiarkan ketidakadilan berlangsung terus-menerus.

Dalam Islam, posisi guru sangatlah tinggi. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya aku diutus sebagai pengajar.” (HR. Ibnu Majah)

Islam tidak memuliakan ilmu sambil menelantarkan ahlinya. Bahkan Umar bin Khattab ra. pernah menegaskan bahwa orang yang bekerja untuk umat berhak atas kecukupan hidup. Islam mengajarkan keseimbangan. Ruh diberi ilmu, Jasad diberi hak hidup layak.

Jika kita membiarkan guru lapar atas nama keikhlasan, itu bukan ajaran Islam itu kelalaian manusia. Saudaraku, pendidikan bukan sekadar urusan dunia. Ia adalah amanah besar yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Ketika seorang guru berdiri di depan kelas dengan perut yang menahan lapar, sementara kita diam dan menganggap itu biasa, maka sesungguhnya ada amanah yang sedang kita abaikan bersama. Allah ﷻ berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl: 90)

Keadilan bukan hanya soal hukum dan kekuasaan, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang menjaga ilmu dan akhlak generasi kita. Jika kita ingin anak-anak tumbuh dengan adab, iman, dan kecerdasan, maka muliakanlah orang-orang yang mendidik mereka bukan hanya dengan doa, tapi juga dengan keberpihakan nyata.

Semoga Allah melembutkan hati para pengambil kebijakan, menggerakkan kepedulian umat, dan menjadikan kita bagian dari solusi, bukan penonton ketidakadilan. Karena sejatinya, memuliakan guru adalah jalan memuliakan ilmu, dan memuliakan ilmu adalah jalan menuju ridha Allah. Aamiin.

Tulisan ini bukan untuk membandingkan profesi, melainkan untuk mengembalikan rasa keadilan. Mari mulai dari hal kecil. Suarakan dengan santun. Dukung kebijakan yang memihak guru. Hargai guru, bukan hanya dengan kata “pahlawan tanpa tanda jasa”, tapi dengan kehidupan yang layak. Karena jika hari ini isi perut guru kalah dari kehadirannya di kelas, maka besok yang kalah bukan hanya guru tapi masa depan pendidikan kita bersama.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar