Oleh : Sayuti
Wacana New Gaza semakin sering digaungkan sebagai simbol harapan baru bagi wilayah yang hancur akibat konflik berkepanjangan. Narasi yang dibangun terdengar menjanjikan: rekonstruksi, stabilitas, dan masa depan yang disebut-sebut “lebih baik”. Namun, di balik slogan optimistis tersebut, tersimpan persoalan mendasar yang tidak bisa diabaikan, yakni siapa yang mengendalikan arah New Gaza dan atas kepentingan siapa proyek ini dijalankan. Ketika Amerika Serikat dan Israel berada di pusat pengambilan keputusan, New Gaza berpotensi besar menjadi ilusi perdamaian, bukan solusi yang adil.
Selama ini Amerika Serikat memosisikan diri sebagai penengah konflik Palestina–Israel. Namun, klaim netralitas itu sulit dipercaya mengingat dukungan politik dan militernya terhadap Israel begitu dominan. Di berbagai forum internasional, termasuk Dewan Perdamaian dan lembaga sejenisnya, AS kerap menggunakan pengaruhnya untuk melindungi kepentingan Israel. Hak veto, tekanan diplomatik, serta framing isu keamanan menjadi instrumen utama untuk mengendalikan narasi global. Akibatnya, penderitaan rakyat Gaza sering direduksi menjadi “konsekuensi konflik”, bukan dipahami sebagai pelanggaran hak asasi manusia yang sistematis.
Konsep New Gaza sendiri patut dicurigai. Pembangunan jalan raya, pelabuhan, atau kawasan ekonomi tidak akan bermakna jika Gaza tetap berada di bawah blokade dan pengawasan ketat. Pembangunan fisik tanpa pembebasan politik hanyalah kosmetik konflik. Israel, dengan dalih keamanan, berpotensi mempertahankan kontrol atas perbatasan, wilayah udara, dan laut Gaza. Artinya, meskipun wajah Gaza berubah, rantai ketergantungan dan pengekangan tetap ada. Ini bukan perdamaian, melainkan pengelolaan konflik agar terlihat “stabil”.
Dalam konteks ini, Dewan Perdamaian seharusnya berperan sebagai penjaga keadilan global. Namun, realitas menunjukkan bahwa lembaga tersebut sering kali lumpuh oleh tarik-menarik kepentingan politik negara-negara besar. Ketika keputusan-keputusan penting lebih mencerminkan kehendak Amerika Serikat dan sekutunya, legitimasi Dewan Perdamaian patut dipertanyakan. Apakah dewan ini benar-benar mewakili suara masyarakat internasional, atau sekadar menjadi alat legalisasi kebijakan kekuatan dominan?
Kendali Amerika Serikat dan Israel tidak hanya terjadi pada level kebijakan, tetapi juga dalam pembentukan opini publik global. Media internasional, istilah-istilah yang digunakan, serta fokus pemberitaan sering kali menempatkan Israel sebagai pihak yang “membela diri”, sementara Gaza digambarkan sebagai wilayah bermasalah yang perlu “ditertibkan”. Dalam kerangka ini, New Gaza dipromosikan sebagai narasi penyelamatan, bukan sebagai pengakuan atas ketidakadilan struktural yang dialami rakyat Palestina.
Bahaya di Balik New Gaza
New Gaza sangat berbahaya karena berpotensi menormalkan pendudukan dalam bentuk baru. Dunia internasional mungkin akan melihat proyek ini sebagai tanda kemajuan, sementara akar konflik dibiarkan membusuk. Hak kembali para pengungsi, kedaulatan politik, serta kebebasan rakyat Palestina untuk menentukan masa depan sendiri nyaris tidak dibicarakan. Perdamaian yang ditawarkan bersifat sepihak dan bersyarat: damai selama tidak menantang kepentingan Israel dan sekutunya.
Tidak ada perdamaian sejati di bawah kendali total kekuatan asing. Selama Amerika Serikat terus memonopoli arah kebijakan dan Israel mempertahankan kontrol atas kehidupan rakyat Gaza, New Gaza hanyalah proyek manajemen krisis, bukan penyelesaian konflik. Dewan Perdamaian, jika ingin tetap relevan, harus berani keluar dari bayang-bayang kepentingan politik dan kembali kepada prinsip keadilan, hukum internasional, dan kemanusiaan.
Pada akhirnya, New Gaza seharusnya bukan tentang membangun kota di atas puing-puing, melainkan membangun keadilan di atas pengakuan hak. Tanpa itu, istilah New Gaza hanya akan menjadi nama baru bagi penderitaan lama—dibungkus rapi dalam bahasa perdamaian yang kosong makna.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar