Oleh: Dwi Jayanti (Aktivis Peduli Generasi)
Guru adalah tauladan bagi setiap murid, setiap perkataan, sikap, dan kebiasaan guru menjadi contoh yang akan ditiru. Bukan hanya ilmu akademis, guru membentuk karakter siswa melalui interaksi sehari-hari. Guru menjadi model perilaku yang baik, sabar, empati, dan bertanggung jawab. Guru menciptakan suasana belajar yang positif, guru mencontohkan penyelesaian masalah secara konstruktif. Sebagai guru berperan ganda yaitu sebagai pengajar dan pembentuk karakter, serta menjadikan keteladanan sebagai salah satu aspek paling penting dalam tugas mendidik.
Namun kali ini dunia pendidikan kembali dibuat geram. Viral di media sosial bentrokan fisik antara seorang guru dan sejumlah muridnya di lingkungan sekolah. Sungguh kondisi yang memprihatinkan, sekolah tempat menuntut ilmu justru menjadi arena konflik yang berujung kekerasan.
Seorang guru di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi dikeroyok siswanya, pada Selasa (13-1-2026). Akibat kejadian itu, guru berinisial AS mengalami luka memar di tubuh. Kepala SMKN 3 Tanjab Timur, Ranto M. Mengatakan, pihak sekolah telah mengambil langkah cepat untuk memediasi kedua belah pihak guna menjaga kekondusifan belajar mengajar. Hingga saat ini, aktivitas di SMKN 3 Tanjab Timur mulai berangsur kondusif, tetapi penjagaan dan pemantauan terus dilakukan agar insiden serupa tidak terulang kembali.
Ironisnya kasus seperti ini bukanlah satu-satunya yang terjadi dalam dunia pendidikan, bahkan tidak hanya terjadi di kota-kota besar, di wilayah kecil pun terjadi. Seperti kasus penganiayaan yang dilakukan oleh seorang siswa terhadap gurunya di SMAN 1 Sinjai, Sulawesi Selatan yang juga Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Mauluddin, menjadi korban pemukulan oleh salah satu siswanya, inisial MF yang dilakukan bimbingan konseling di ruang BK bersama orang tuanya beberapa bulan lalu. TribunNewsSultra, (17 September 2025)
Berbagai kasus di atas tidak bisa disederhanakan sebagai emosi sesaat atau konflik personal. Ini adalah problem struktural dari sistem pendidikan yang tidak sedang baik-baik saja. Relasi guru dan murid yang seharusnya dibangun di atas penghormatan, keteladanan, dan adab justru berubah menjadi relasi penuh ketegangan, bahkan kekerasan. Murid kehilangan batas sopan santun, guru kehilangan kelembutan dan wibawa. Keduanya terjebak dalam lingkaran konflik yang berujung pada kehancuran Marwah pendidikan.
Akar Masalah
Inilah buah pahit pendidikan dalam sistem sekuler-kapitalis. Pendidikan dijauhkan dari nilai Islam, dipersempit menjadi proses transfer pengetahuan dan pencapaian target akademik. Adab dikesampingkan, akhlak dianggap urusan privat, sementara sekolah berubah menjadi ruang kompetisi, tekanan, dan pelampiasan emosi. Guru dibebani administrasi dan target, murid ditekan oleh nilai dan standar pasar. Ketika ruh pendidikan dicabut, yang tersisa hanyalah manusia-manusia lelah yang mudah meledak.
Di satu sisi, tidak ada pembenaran atas tindakan murid yang mengeroyok guru. Itu adalah bentuk kedurhakaan adab, hilangnya rasa hormat, dan kegagalan kontrol diri. Namun di sisi lain, menutup mata terhadap praktik guru yang gemar menghina, merendahkan, dan melabeli murid dengan kata-kata kasar juga merupakan ketidak adilan.
Kata-kata yang melukai psikologis anak bukan pendidikan, tetapi kekerasan verbal yang merusak jiwa. Ketika hinaan dibungkus sebagai “cara mendidik”, maka yang lahir bukan generasi beradab, melainkan generasi penuh amarah.
Hal ini tidak lepas dari kurangnya peran orang tua saat ini dalam mendidik anak dirumah, banyak orang tua yang menganggap bahwa nilai akademis sebagai tolak ukur dalam keberhasilan seorang anak tanpa melihat dari nilai moral dan juga karakter anak. Orang tua yang seharusnya memberi contoh yang baik bagi anak dalam berperilaku sopan dan menghormati seorang guru, justru saat ini tak sedikit yang bersikap arogan dan tidak menghormati profesi guru.
Di samping itu juga ada kesenjangan terkait makna pendidikan antara orang tua siswa dan guru sehingga menjadikan adanya gesekan di berbagai pihak termasuk langkah guru dalam mendidik anak tersebut, sehingga guru ragu dalam menjalankan peran guru khususnya menasehati siswa.
Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak siswa saat ini berperilaku kurang sopan dan kasar terhadap guru. Namun, hal ini bukan hanya tentang perilaku tidak sopan dan kasar dari murid, tapi juga tentang kegagalan sistem pendidikan sekuler kapitalis dalam membentuk karakter dan moral siswanya. Sistem pendidikan sekuler kapitalis yang menjauhkan nilai-nilai agama dan moral telah menciptakan lingkungan belajar yang tidak seimbang, dimana anak-anak lebih fokus pada aspek akademis daripada pada aspek moral dan karakter.
Seyogianya perilaku tidak sopan dan kasar dari murid memang tidak dapat dibenarkan, namun kita tidak bisa menutup mata terhadap kemungkinan adanya tindakan atau perkataan yang dapat memicu reaksi tersebut. Oleh karena itu perlu diadakan evaluasi dan perbaikan terhadap sistem Pendidikan saat ini.
Hal ini juga makin diperparah dengan abainya negara terhadap keamanan dan kesejahteraan guru. Negara hanya mementingkan materi dan kepentingan individu daripada rakyatnya. Di masa sekarang, menjadi guru harus siap dengan konsekuensi serta dikriminalisasi yang bisa didapatkan kapan pun. Sungguh ironis, profesi guru yang mulia seharusnya mendapatkan perhatian yang cukup sebab, dari guru akan lahir generasi-generasi penerus bangsa yang bisa bermanfaat bagi bangsa, agama, dan negara.
Islam Memandang
Di dalam Islam pendidikan bukanlah sekedar mencetak siswa yang pintar dalam aspek akademis saja, tetapi juga bisa membentuk siswa menjadi generasi yang beradab dan berakhlak Islami. Rasulullah SAW bersabda bahwa tujuan utama beliau di utus adalah untuk menyempurnakan akhlak. Seperti dalah sebuah hadits yang artinya “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak” (HR. Abu Hurairah)
Lebih jauh, guru dalam Islam adalah figur teladan, bukan sekadar pengajar materi. Ia menghadirkan nilai melalui sikap, tutur kata, dan keputusan. Wibawa tidak lahir dari ancaman, melainkan dari keteladanan. Murid pun tidak dibenarkan melawan atau merendahkan guru, karena adab adalah bagian dari iman. Ketika adab ditegakkan, konflik tidak mudah berubah menjadi kekerasan.
Orang tua juga berkewajiban untuk mengambil peran dalam mendidik anak dirumah, orang tua harus mengajarkan perilaku yang baik terhadap anak serta rasa menghormati terhadap seorang guru dan orang tua juga harus menjadi contoh yang baik bagi seorang anak. Orang tua juga harus bertindak tegas dan tidak mewajarkan sikap tidak sopan dan kasar seorang anak.
Pun masyarakat juga perlu mendukung upaya pendidikan karakter dan moral bagi anak. Sehingga dengan kerja sama yang baik antara sekolah, orang tua, dan masyarakat, kita dapat menciptakan lingkungan belajar yang seimbang dan membentuk generasi yang berakhlak mulia.
Dalam sistem pendidikan Islam, adab didahulukan sebelum ilmu. Murid dididik untuk memuliakan guru (ta’adzim), sementara guru diwajibkan mendidik dengan penuh kasih sayang bukan hinaan. Islam pun memandang profesi guru akan mendapatkan jaminan kesejahteraan, negara akan memberikan gaji terbaik bagi guru sehingga guru bisa menjalankan amanahnya dengan baik.
Negara juga akan menjamin setiap kebutuhan individu baik dari sandang, pangan, papan, kesehatan, keamanan dan juga pendidikan bagi setiap rakyatnya. Negara akan memahamkan terhadap semua pihak terkait tujuan serta sistem pendidikan yang akan terapkan sehingga guru tidak akan mengalami dikriminalisasi dalam menjalankan perannya sebagai tenaga pengajar. Pun negara akan menjamin fasilitas dan sarana terbaik bagi guru sehingga bisa menghasilkan generasi yang berkualitas.
Selain itu, negara memiliki kewajiban mengatur setiap aspek pendidikan mulai dari kurikulum, bahan ajar, metode pengajaran, sarana dan prasarana sekolah. Sehingga terjamin pendidikan setiap individunya. Negara juga menjamin setiap pendidikan individu dengan pendidikan berkualitas serta berbasis akidah Islam. Negara pun akan mengatur seluruh tenaga pengajarnya sehingga hanya akan memberikan tenaga pengajar yang profesional dan saleh/salihah sehingga bisa menghasilkan anak didik yang berakhlakul karimah serta bervisi misi Islam.
Dengan demikian pendidikan adalah bidang penting bagi masa depan bangsa. Pendidikan menjadi jalan untuk melahirkan generasi yang unggul, beradab, dan bervisi misi Islam sehingga mampu menciptakan generasi yang mampu membawa negara menuju kemajuan dan juga kesejahteraan bagi setiap individunya. Semua itu hanya bisa terlaksana jika sistem Islam diterapkan di seluruh penjuru dunia, di bawah kepemimpinan Khilafah.
Wallahu alam bis shawwab
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar