Oleh : Najwa Aliyya
Perbuatan tercela diperlihatkan oleh puluhan remaja. Mereka melakukan aksi balap liar di ruas jalan Bandung - Garut, bahkan sampai memblokade jalan. Ketika hendak balapan, mereka menghentikan para pengguna jalan yang hendak melintas. Aksi balap liar tersebut terekam kamera ponsel milik pengguna jalan, dan videonya beredar di media sosial.
Penelusuran Tribun Jabar.id, lokasi yang dijadikan pusat balap liar ini berada di depan PT Kahatex, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Dalam video yang diterima Tribun Jabar.id, terlihat puluhan pembalap liar berjejer menutup seluruh badan jalan nasional. Para pengendara yang melaju dari arah Bandung menuju ke arah Garut terpaksa berhenti akibat ruas jalan dikuasai oleh para pembalap liar ini. "Balap liar tersebut terjadi pada Kamis (8/1/2026) sekitar pukul 04.00 WIB," kata Hendrawan, pengendara motor asal Cicalengka kepada Tribun Jabar.id, Kamis pagi.
Hendrawan mengaku merasa resah dengan aksi balap motor liar yang dilakukan gerombolan remaja itu. "Sangat terganggu, soalnya kan itu jalan umum, pengendara yang melintas diberhentikan oleh mereka," katanya. Menurut Hendrawan, aksi balap liar yang dilakukan para remaja ini kerap terjadi di jalur tersebut. Selain itu, ia pun berharap kepolisian menindak para pelaku balap liar tersebut. "Sering, saya berharap Polisi memberikan tindakan kepada mereka, karena sangat meresahkan, " katanya.
Aksi balap liar yang dilakukan puluhan remaja di jalur Bandung–Garut bukan sekadar kenakalan biasa. Peristiwa ini lahir dari sistem kapitalisme yang melahirkan paham liberalisme dan sekulerisme. Dalam sistem ini, kebebasan individu dijunjung tinggi tanpa batas yang jelas, sementara nilai agama dan moral dipisahkan dari kehidupan. Akibatnya, banyak remaja tumbuh dengan pola pikir “yang penting bebas dan senang”, tanpa memikirkan dampaknya bagi orang lain.
Liberalisme membuat kebebasan dipahami secara keliru. Remaja merasa berhak melakukan apa saja selama sesuai keinginannya, termasuk menggunakan jalan umum untuk balap liar. Padahal, jalan tersebut adalah fasilitas publik yang seharusnya aman bagi semua orang. Ketika pengguna jalan lain sampai diberhentikan demi aksi balapan, itu menunjukkan hilangnya rasa tanggung jawab dan empati yang merupakan buah dari budaya bebas tanpa kontrol moral.
Sekulerisme juga memperparah kondisi ini. Agama hanya dianggap urusan pribadi, bukan pedoman hidup. Nilai halal-haram, benar-salah, dan tanggung jawab kepada Tuhan tidak lagi menjadi standar perilaku. Akibatnya, rasa takut melanggar aturan atau membahayakan nyawa orang lain semakin pudar. Yang dikejar hanya sensasi, pengakuan, dan kesenangan sesaat, apalagi jika bisa direkam dan diviralkan di media sosial.
Di sisi lain, negara dalam sistem kapitalisme cenderung abai dalam membina generasi. Penegakan hukum sering lemah dan tidak konsisten, sehingga balap liar yang “sering terjadi” terus berulang tanpa efek jera. Remaja akhirnya merasa bebas berulah karena tidak ada ketegasan yang benar-benar menutup ruang pelanggaran.
Jadi, akar masalah dari aksi balap liar ini bukan sekadar perilaku individu, melainkan sistem kapitalisme yang melahirkan liberalisme dan sekulerisme. Sistem ini gagal membentuk manusia yang berakhlak, bertanggung jawab, dan peduli pada keselamatan publik. Selama kebebasan tanpa batas dan pemisahan agama dari kehidupan terus dipertahankan, keresahan di tengah masyarakat akan terus terulang.
Jadi, bukan hanya kesalahan remaja itu saja, tapi kesalahan karena tetap menerapkan sistem yang menjadi sumber kegagalan dalam pendidikan anak. Yang kita tahu bahwasannya anak-anak hanya di ajarkan Pendidikan Agama Islam hanya tiga jam dalam seminggu, belum lagi setelah pulang sekolah para pelajar itu tidak menyempatkan waktu untuk menuntut ilmu agama, alhasil karena ketidak fahaman itulah mereka mencari pelarian yang menyenangkan namun mengganggu keamanan masyarakat lain.
Namun, Islam memandang persoalan balap liar dan keresahan masyarakat seperti ini bukan sekadar pelanggaran lalu lintas, tetapi sebagai tanda rusaknya pembinaan manusia. Karena itu, solusi Islam tidak bersifat tambal sulam, melainkan menyentuh akar persoalan. Islam menempatkan negara sebagai raa’in (pengurus rakyat) yang bertanggung jawab penuh membina generasi, menjaga keamanan, dan memastikan hukum ditegakkan secara adil dan tegas.
Pertama, Islam membangun kepribadian remaja dengan akidah yang kuat. Sejak dini, generasi dibentuk untuk memahami bahwa hidup ini memiliki tujuan, yaitu beribadah kepada Allah dan membawa kebaikan bagi sesama. Dengan akidah ini, remaja memiliki kontrol diri yang kuat. Mereka tidak akan mudah melakukan tindakan berbahaya seperti balap liar karena sadar bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.
Kedua, sistem pendidikan Islam tidak hanya mencetak anak pintar, tetapi juga berakhlak. Pendidikan menanamkan nilai halal-haram, tanggung jawab sosial, dan kepedulian terhadap keselamatan orang lain. Dengan pendidikan seperti ini, menggunakan jalan umum untuk balapan akan dipahami sebagai perbuatan zalim karena membahayakan nyawa dan mengganggu hak masyarakat.
Ketiga, Islam mewajibkan negara menegakkan hukum secara tegas dan konsisten. Dalam Islam, pelanggaran yang membahayakan keselamatan publik tidak boleh dibiarkan berulang. Sanksi diterapkan untuk memberi efek jera dan melindungi masyarakat, bukan sekadar formalitas. Dengan ketegasan ini, tidak ada ruang bagi pelaku untuk merasa aman atau kebal hukum.
Keempat, Islam mengatur ruang hiburan dan penyaluran bakat pemuda secara benar. Negara menyediakan sarana yang aman dan terkontrol untuk kegiatan olahraga dan otomotif, sehingga potensi dan energi pemuda tersalurkan ke arah positif, bukan ke jalanan yang membahayakan. Semua itu diatur agar tetap sesuai dengan syariat dan tidak merugikan orang lain.
Terakhir, Islam menjadikan amar makruf nahi mungkar sebagai budaya masyarakat. Lingkungan tidak bersikap permisif terhadap kemaksiatan dan pelanggaran, tetapi saling menasihati dan mencegah kemungkaran. Dengan suasana sosial yang peduli dan saling menjaga, perilaku menyimpang seperti balap liar akan sulit tumbuh.
Dengan penerapan Islam secara menyeluruh, keamanan jalan terjaga, generasi muda memiliki arah hidup yang jelas, dan masyarakat terbebas dari keresahan. Inilah solusi Islam yang tidak hanya menghentikan satu kasus balap liar, tetapi mencegahnya agar tidak terus berulang.
Dan tentu dari semua solusi islam yang ada ini tidak akan terwujud jika sistem nya tidak di ubah pada sistem Islam, yang mana hukum Allah lah yang menjadi daulat negara. Maka dari itu, agar solusi ini terwujud kita harus berjuang untuk menegakkan Islam yang sempurna, tidak hanya tentang ibadah mahdah saja tetapi semua aspek di atur oleh aturan Islam.
Wallahualam...
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar