Oleh : Liza Khairina
Ramadlan adalah tamu agung, kedatangannya selalu dirindukan. Baik umat islam, maupun umat-umat lainnya. Itu kenapa penyambutan ramadhan harus meriah. Bahkan lebih meriah dari penyambutan apapun. Pernik lampu dan iklan Ramadhan harusnya memenangkan riuhnya kesenangan lainnya. Mengabarkan pada semua penduduk bumi dengan gembira tentang hadiah kebaikan di bulan seribu bulan. Rias bulan bintang jauh-jauh sebelumnya mesti memenuhi setiap ruas jalan dan setiap penghuni rumah yang siap meneguk segarnya tamu Ramadlan. Sebagaimana para shalihin mewariskan budaya mempersiapkan dua bulan, bahkan enam bulan sebelum Ramadlan.
Dengan demikian, kita tidak melewatkan sedetik sebelumnya, momentum Sya'ban sebagai bulan sebelum Ramadhan. Bulan Sya'ban yang berarti tersebar/bercabang menjadi isyarat tersebarnya kebaikan menuju Ramadhan. Sangat kita sayangkan, jika kita melaluinya tanpa berbuat apapun. Rasul saw pernah mengingatkan tentang lalainya manusia akan bulan Sya'ban dalam hadits riwayat an-Nasa'i:
ذالك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان
"Adalah bulan saat manusia lalai, yakni bulan antara Rajab dan Ramadlan (Sya'ban)."
Kebiasaan ulama-ulama dahulu bersemangat pada bulan Sya"ban dengan memperbanyak amalan-amalan, termasuk banyak berpuasa sebagaimana Rasul mengisi amal Sya'ban. Begitu juga dengan salafus shalih yang interaksinya intens dengan Alquran, sedekahnya melambung tinggi, mulai meninggalkan perdagangannya dan menyibukkan diri dengan amal ibadah menuju Ramadlan. Termasuk bernisfu Sya'ban sebagai upaya mempersiapkan bulan Ramadlan dengan bermaaf-maafan dan lain-lain amal sunnah, merupakan pengantar kesungguhan menyiapkan diri agar bisa meraih kebaikan di dalamnya, sebelum masuk bulan rampainya seluruh kebaikan, yakni Ramadlan.
dengan mempersiapkan upaya maksimal, tentu kita bisa lebih siap dalam suasana ketaatan sehingga menjalani Ramadlan, berpuasa sebulan penuh dengan lebih baik. Yang pada ujung perjalanannya nanti tercapailah cita-cita disyariatkannya puasa Ramadlan itu, yakni untuk menempa diri menjadi pribadi-pribadi yang bertakwa, keluarga takwa, masyarakat bertakwa dan kehidupan negara yang bertakwa. Firman Allah swt dalam surat al-Baqarah ayat 183:
يا ايها الذين امنوا كتب عليكم الصيام كما كتب علي الذين من قبلكم لعلكم تتقون
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa. Sebagaimana telah diwajibkan pada orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa."
Tentu takwa yang dimaksud dalam ayat di atas adalah takwa yang tidak hanya bersifat kultural (individu) yang diraih oleh masing-masing umat Islam yang mengerjakan puasa. Tapi takwa yang hakiki adalah takwa berjamaah, takwa secara kaffah. Takwa yang mengubah dari kondisi buruk pada kondisi baik dengan terikat aturan kehidupan pada syariatNya. Melaksanakan seluru perintah Allah swt dan menjauhi laranganNya dengan menjadikan hukum Allah swt sebagai hukum masyarakat dan negara.
Takwa bukan hanya tentang melaksanakan perintah puasa, zakat, shalat dan haji, yang itu membangun hubungan dengan Allah swt semata. Tapi takwa dengan upaya maksimal melaksanakan seluruh perintah Allah swt dengan hubungan sesama manusia, dalam muamalah dan hukum-hukum lainnya.
Begitupun dengan takwa agar meninggalkan larangan Allah swt tidak hanya terfokus pada upaya menjaga spritual kita dengan tidak berdusta, tidak kikir, tidak ghibah dan lainnya. Tapi takwa dengan meninggalkan seluruh yang dilarang oleh Allah swt, seperti meninggalkan sistem pajak, transaksi ribawi, program MBG yang mubazir, ikhtilat yang melahirkan zina dimana-mana, termasuk duduk bersama dengan musuh islam, bahkan membuat kesepakatan untuk merampas hak-hak saudaranya di Gaza dengan alasan perdamaian semu. Karena semua itu adalah dosa besar yang mengundang kemarahan Allah swt dan seluruh makhlukNya.
Lihatlah kondisi umat manusia hari ini, khususnya umat Islam. kita hari ini dalam kepungan musibah yang terus menerus. Musibah lingkungan, musibah moral, musibah sektoral, bahkan musibah global dengan ridha pada hukum demokrasi sekular yang jelas meniadakan Allah swt dalam hukum publik. Menjadikan kedaulatan di tangan manusia, bukan di tangan Allah Sang Pembuat Aturan.
Bergabungnya Indonesia dalam gagasan musuh-musuh Islam seperti Trump dan Netanyahu adalah kehinaan yang dipertontonkan, meski para pioner ormas Islam itu bersepakat mendukungnya. Tentu kesepakatan itu adalah kesepakatan batil yang tidak bisa umat terima begitu saja. Karena sudah jelas bagaimana penjahat perang dan pembunuh umat Islam itu menempatkan posisinya sebagai pendukung penuh agresor. Dia Amerika dengan bangga mensosialisasikan proyek masa depan Gaza dengan skenario rekayasa sesuai kehendak nafsunya. Menjadikan Islam dan umat Islam tunduk pada hegemoni Barat yang jelas-jelasmenyekutukan Allah swt dan Rasul saw.
Karenanya, bulan Sya'ban harus menjadi momentum untuk memperbaiki diri umat dan negara dan mempersiapkan diri umat dan negara dengan kembali kepada jalan Allah swt. Hukum Alquran yang menyelamatkan kita dan seluruh manusia dari bencana berkepanjangan. Belum terlambat bagi siapapun yang hari ini ridha dengan sistem yang menyelisihi Alquran, bahkan negara Indonesia yang hari ini bergabung ke board of peace. Siap keluar secara kesatria, mengumumkan pada dunia bahwa "Gaza dan Al-Aqsha adalah harga mati yang harus dipertahankan untuk memulai kebangkitan umat Islam memimpin dunia".
Dengan begitu, Ramadlan benar-benar akan mengubah kondisi krisis dan bencana kepemimpinan ini dengan berlimpahnya keberkahan hidup pada umat dan pemimpinnya.[]
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar