Oleh : Siti Nurhalijah
Ibu adalah sosok yang Allah titipkan amanah besar di pundaknya. Di balik kelembutan, ada ketangguhan di balik senyum, ada pengorbanan dan di balik doa-doanya, ada kekuatan yang menopang keluarga dan peradaban. Ketangguhan seorang ibu bukan hanya terlihat dari fisik yang kuat, tetapi dari keteguhan iman, kesabaran hati, dan konsistensi amal dalam mendidik generasi.
Islam memuliakan ibu dengan kedudukan yang sangat tinggi. Pengorbanan sejak mengandung, melahirkan, menyusui, hingga mendidik, semuanya tercatat sebagai amal mulia. Allah SWT. berfirman:
وَوَصَّيْنَا الْاِ نْسٰنَ بِوَا لِدَيْهِ ۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصٰلُهٗ فِيْ عَا مَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِـوَا لِدَيْكَ ۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu." (QS. Luqman: 14).
Ayat ini menegaskan bahwa kelelahan ibu adalah alasan utama mengapa ia dimuliakan dan dihormati.
Seorang ibu diuji setiap hari: kurang tidur, lelah, cemas terhadap masa depan anak, serta dinamika rumah tangga. Namun, ketangguhan ibu tampak saat ia memilih sabar dan tetap berbuat baik. Allah SWT. berfirman:
قُلْ يٰعِبَا دِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۗ لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَاَ رْضُ اللّٰهِ وَا سِعَةٌ ۗ اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَا بٍ
"Katakanlah (Muhammad), "Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu." Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan Bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10).
Kesabaran ibu bukan kelemahan, melainkan kekuatan yang Allah balas dengan pahala tak terhingga.
Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Dari lisannya anak belajar berbicara, dari sikapnya anak belajar berperilaku, dan dari doanya anak belajar berharap kepada Allah. Hadis Nabi ﷺ: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ketangguhan ibu tampak ketika ia konsisten mendidik dengan nilai iman, akhlak, dan kasih sayang meski dalam keterbatasan.
Doa seorang ibu adalah senjata paling kuat. Ia bangun di sepertiga malam, menyebut nama anak-anaknya satu per satu, memohonkan kebaikan dunia dan akhirat. Allah SWT. berfirman:
وَقَا لَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْۤ اَسْتَجِبْ لَـكُمْ ۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَا دَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَا خِرِيْنَ
"Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk ke Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina."" (QS. Ghafir: 60).
Doa ibu sering kali menjadi sebab terbukanya jalan yang tak disangka-sangka.
Ketika seorang ibu ikhlas menjalani perannya karena Allah, maka setiap tetes keringat, air mata, dan lelahnya bernilai ibadah. Hadis Nabi ﷺ: “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim).
Ibu yang shalihah adalah pilar ketangguhan keluarga dan sumber ketenangan rumah tangga.
Ketangguhan peran seorang bernama Ibu adalah perpaduan antara iman, sabar, dan cinta, namun ada hal yang paling utama selain sikap yang seharusnya ada pada diri seorang Ibu yaitu peran pemerintah. Negara yang wajib andil dalam pembentukan agar sikap keteguhan Ibu selalu kuat.
Tapi faktanya kita hidup dalam sistem kapitalis, ibu memikul beban ganda. Ia dituntut mengurus rumah dan anak, sekaligus ditekan untuk berkontribusi ekonomi. Negara lepas tangan terhadap pengasuhan dan kesejahteraan keluarga, sementara kebutuhan hidup terus meningkat. Akibatnya, ibu kelelahan fisik dan mental, serta perannya direduksi sekadar nilai produktivitas materi.
Namun Sistem Islam selalu menghadirkan solusi dalam setiap apapun persoalan secara menyeluruh bukan solusi yang parsial atau tidak menyeluruh beberapa hal yang bisa di sampaikan solusi Islam untuk peranan Ibu:
1. Negara menjamin kebutuhan dasar rakyat, sehingga ibu tidak dipaksa bekerja karena tekanan ekonomi.
“Pemimpin adalah pengurus rakyat dan bertanggung jawab atas mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).
2. Kewajiban nafkah berada pada laki-laki, memberi ruang bagi ibu fokus mendidik generasi.
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan karena mereka menafkahkan hartanya.” (QS. An-Nisa: 34).
3. Ibu dimuliakan sebagai pendidik generasi, bukan dieksploitasi tenaganya.
Ketangguhan ibu sering diuji oleh sistem yang tidak berpihak. Kapitalisme menambah beban, sementara Islam justru memuliakan dan menguatkan ibu melalui aturan yang adil. Dengan penerapan sistem Islam secara kaffah, ibu tidak hanya dituntut kuat, tetapi benar-benar dilindungi dan dimuliakan.
Wallahu'alam bishshawab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar