Grok: Visi Perang AS tanpa Hambatan Moral


Oleh: Imas Royani, S.Pd.

Di tengah dunia yang masih diguncang konflik geopolitik dan kontroversi Grok AI di X, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Musk justru tampil percaya diri mengumumkan kemitraan antara militer AS dan Grok AI. Grok AI disebut akan diintegrasikan ke dalam jaringan intelijen militer AS, baik yang bersifat rahasia maupun tidak. “Sebentar lagi AI tercanggih dunia akan ada di setiap jaringan departemen kami,” ujar Hegseth. (HARIAN DISWAY, 15/1/2026).

Hegseth mengonfirmasi bahwa langkah ini akan dieksekusi akhir bulan ini sebagai bagian dari inisiatif departemen secara luas untuk “mempersenjatai AI” dalam operasi militer. Dalam pidatonya di fasilitas SpaceX di Brownsville, Texas, Hegseth memaparkan visi masa depan militer AS yang didukung oleh kecerdasan buatan yang beroperasi tanpa hambatan ideologis. Ia menekankan bahwa AI yang digunakan Pentagon “tidak akan woke” atau terikat pada batasan moral yang dianggap menghambat aplikasi militer yang sah secara hukum. (Telset online, 15/1/2026).

Integrasi ini menandai pergeseran signifikan dalam strategi pertahanan AS. Hegseth menegaskan bahwa kemenangan di masa depan tidak akan diraih sekadar dengan menaburkan teknologi AI ke dalam taktik lama layaknya “debu peri digital”. Sebaliknya, Pentagon berencana menemukan cara bertempur yang benar-benar baru, termasuk kampanye eksperimentasi berkelanjutan dan laboratorium tempur kuartalan yang melibatkan kawanan (swarms) yang dikoordinasikan AI.

Pilihan Hegseth jatuh pada Grok bukan tanpa alasan. Model AI ini, yang direkayasa oleh Elon Musk sebagai alternatif “bebas kekangan” dari chatbot lain seperti ChatGPT milik OpenAI, dinilai sebagai pasangan ideologis yang sempurna untuk visi baru Pentagon. Grok sebelumnya sempat menjadi sorotan karena kemampuannya mendistribusikan data pribadi dan memberikan instruksi untuk aktivitas yang meragukan secara etika.

Pendekatan agresif ini sejalan dengan serangkaian kampanye militer yang telah dilancarkan di bawah kepemimpinan Hegseth. Laporan menyebutkan bahwa Departemen Pertahanan telah mengorkestrasi serangan brutal terhadap negara-negara berdaulat, termasuk kampanye di Venezuela, serangan di desa-desa Nigeria dengan dalih kontra-terorisme, serta peluncuran setidaknya 134 serangan udara di Somalia yang menewaskan banyak warga sipil dan militan.

Dalam konteks peperangan yang agresif, alat seperti Grok dianggap sangat berguna karena kurangnya filter etika yang ketat. Sebuah survei yang dilakukan oleh Futurism terhadap berbagai chatbot—termasuk ChatGPT dan Microsoft Copilot—menemukan bahwa hanya Grok yang bersedia memberikan saran operasional untuk skenario hipotesis “invasi ke Greenland”. Model AI lainnya menolak permintaan tersebut dengan alasan hukum internasional dan masalah etika.

Namun, integrasi ini tidak lepas dari sorotan tajam terkait masalah privasi dan potensi konflik kepentingan. Hegseth dituduh memilih alat perang yang mencerminkan impuls tergelapnya sendiri; sebuah sistem yang akan memproses data serangan udara tanpa sedikitpun rasa penyesalan.

Teknologi tanpa etika jelas berbahaya. Namun, kekuasaan tanpa kontrol jauh lebih berbahaya. Kita menyaksikan bagaimana sepak terjang AS di dunia internasional. Dengan kekuasaannya, dia mampu memutar balikkan fakta sehingga siapapun yang berseberangan dengan kehendaknya maka dia adalah "penjahat", "teroris", dll. Tapi ketika sesuai apalagi melayani semua keinginannya, maka berbagai jaminan kekuasaan diberikan, entah berupa pelanggengan jabatan melalui agen-agennya atau kemudahan ekonomi dengan pengurangan pajak dan pelonggaran kebijakan. Bahkan dengan skenarionya dia berhasil meyakinkan bahwa zionis pelaku genosida layak untuk merdeka dan mendapatkan perlindungan. 

Maka tidak heran pula sang presidennya mendapat gelar "presiden perdamaian". Perdamaian macam apa? Perdamaian bagi negara-negara jajahan yang mau damai saja walaupun dijajah. Entah apa jadinya jika hal ini dibiarkan tanpa perlawanan, dan memang nyatanya sampai saat ini tidak ada atau belum ada yang berani mengalahkannya. Apalagi sekarang dengan teknologi grok AI.

Demikianlah, setiap penganut ideologi akan berusaha melanggengkan ideologinya pun AS dan negara lainnya. Dengan berbagai cara mereka melindungi agar ideologinya tetap berjaya. Seharusnya hal ini juga dipahami dan diyakini oleh kaum muslim. Bahwa sebagai muslim, berusaha menegakkan kembali ideologi Islam adalah sebuah keharusan untuk diperjuangkan. Bahwa kondisi dunia Islam selama satu abad terakhir diwarnai oleh konflik berkepanjangan dan lemahnya perlindungan terhadap umat. Dan seluruh konflik tersebut berawal pada akar masalah "tidak diterapkannya sistem Islam dalam kehidupan dan tidak adanya satu kepemimpinan Islam yang memimpin seluruh umat Islam tanpa tersekat negara.

Sejarah telah mencatat dengan tinta emas bagaimana Sultan Orhan bin Utsman bertindak dengan bijak sesuai syariat dalam urusan dalam dan luar negeri. Beliau adalah seorang kepala negara yang memiliki pemahaman yang mendalam dalam membangkitkan bangsa dan membangun negaranya. Ia juga banyak mengambil pelajaran dari bapaknya, Sultan Utsman I dalam menstabilkan kondisi dalam negeri sehingga menunjang keberhasilan berbagai penaklukan wilayah-wilayah di luar Daulah Utsmaniyyah.

Kebijakan luar negeri Khilafah disusun berdasarkan pada upaya mendakwahkan Islam ke seluruh dunia secara efektif. Dalam hal ini, jihad adalah metode syar’i dalam rangka menyingkirkan rintangan fisik yang menghalangi dakwah. Sejatinya, jihad adalah puncak keagungan Islam. Jihad menjadi mata rantai penghubung antara peran dan tujuan hidup yang telah ditetapkan bagi kaum muslim menuju tercapainya posisi yang terhormat dan berpengaruh dalam kancah politik internasional melalui wujud sebuah negara utama.

Jihad justru memberi visi, misi, dan pandangan kepada kaum muslim secara mendunia. Jihad juga memberi mereka kemenangan dan pembebasan semata-mata di jalan Allah. Jihad bahkan telah menjadi jalan bagi dakwah Islam agar bisa tersampaikan ke seluruh dunia.

Jihad adalah kewajiban yang harus ditegakkan oleh kaum muslimin. Allah SWT. berfirman:
Ùƒُتِبَ عَÙ„َÙŠْÚ©ُÙ…ُ الْÙ‚ِتَا Ù„ُ ÙˆَÙ‡ُÙˆَ ÙƒُرْÙ‡ٌ Ù„َّـكُÙ…ْ ۚ ÙˆَعَسٰۤÙ‰ اَÙ†ْ تَÙƒْرَÙ‡ُÙˆْا Ø´َÙŠْــئًا ÙˆَّÙ‡ُÙˆَ Ø®َÙŠْرٌ Ù„َّÙ€Ú©ُÙ…ْ ۚ ÙˆَعَسٰۤÙ‰ اَÙ†ْ تُØ­ِبُّÙˆْا Ø´َÙŠْــئًا ÙˆَّÙ‡ُÙˆَ Ø´َرٌّ Ù„َّـكُÙ…ْ ۗ Ùˆَا للّٰÙ‡ُ ÙŠَعْÙ„َÙ…ُ Ùˆَاَ Ù†ْـتُÙ…ْ Ù„َا تَعْÙ„َÙ…ُÙˆْÙ†َ
"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216).

Rasulullah Saw. bersabda, “Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah salat, dan puncaknya (atapnya) adalah jihad fisabilillah.”(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad). Juga dalam hadis riwayat Abu Umamah, “Seorang laki-laki berkata, ‘Wahai Rasulullah, izinkanlah aku bertamasya (siyahah).’ Maka Rasulullah bersabda, ‘Tamasyanya umatku adalah jihad fisabilillah.’”(HR. Abu Dawud).

Demikianlah, umat Islam diciptakan untuk meraih kedudukan tertinggi dengan jihad, tentunya sesuai tuntunan syariat yang diterapkan melalui kebijakan Khilafah Islamiah. Kebijakan luar negeri Khilafah disusun berdasarkan pada upaya mendakwahkan Islam ke seluruh dunia secara efektif. 

Jihad terlaksana dalam wujud pembebasan atas suatu negeri oleh kaum muslim, untuk selanjutnya mereka menegakkan aturan Islam di dalamnya, mereka memperlakukan warga nonmuslim sesuai aturan Allah, juga mulai mencukupi kebutuhannya, melindungi, dan menjamin hak-haknya. Konsep inilah yang banyak diabaikan oleh dunia saat ini, padahal jihad nyata-nyata berbeda dengan penjajahan keji yang dilakukan oleh kafir Barat terhadap suatu negeri.

Sungguh, kemenangan menjadi milik umat Islam ketika mereka membuka wilayah dan menyebarkan Islam ke seluruh dunia. Tentara mereka tidak terkalahkan, bahkan sangat disegani sebagaimana ketika Khilafah menyatukan seluruh umat dalam satu kepemimpinan. Jelaslah janji Allah bahwa hanya dengan implementasi syariat Islam, Allah akan memberikan kedudukan kepada kaum muslim sebagai umat terbaik di antara seluruh umat yang ada di dunia.

Wallahu'alam bishshawab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar