Relasi Sakral Guru dan Murid Ternodai Ulah Sistem Kapitalisme


Oleh: Imas Royani, S.Pd.

Benar-benar ya hidup di sistem ini bikin nyesek. Ada saja kasus-kasus baru yang lebih buruk dan busuk. Makin enek menyaksikannya juga. Sudahlah dianggap biasa kalau melihat pertikaian antar preman di jalan atau pasar atau terminal. Atau adu nyali di balik meja DPR lewat pertunjukan kolosal para pejabat yang katanya wakil rakyat. Eeh sekarang hal seperti itu malah terjadi di pabrik pencetak generasi. Bukan murid dengan murid, melainkan guru dengan murid. Astaghfirullah!

Peristiwa ini terjadi di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi pada Selasa (13-1-2026). Bermula saat guru menegur murid di kelas ketika proses belajar berlangsung. Menurut pengakuan guru bernama Agus, murid tersebut menegur dengan tidak sopan dan mengucapkan kata-kata tidak pantas saat pelajaran berlangsung. (DetikSumbagsel, 14/1/2026). 

Namun dari sisi murid, muncul pengakuan bahwa guru tersebut kerap berbicara kasar, menghina murid dan orang tua, bahkan melabeli mereka dengan kata “bodoh” dan “miskin” hingga memicu kemarahan dan terjadilah pengeroyokan tersebut. Beredar juga video yang memperlihatkan guru tersebut membawa senjata tajam (sajam) meski telah diklarifikasi bahwa sajam itu hanya digunakan untuk menggertak.

Fenomena ini adalah buah dari pendidikan dalam sistem sekuler-kapitalistik yang menjauhkan Islam dari kurikulum dan pembentukan karakter. Pendidikan dipersempit menjadi transfer ilmu dan keterampilan kerja, sementara adab dan akhlak hanya menjadi pelengkap, bukan fondasi. Yang pada akhirnya menjadikan relasi guru dan murid penuh gesekan dan ketegangan. Tak ada lagi rasa hormat, tak ada lagi keteladanan.

Di satu sisi, murid menunjukkan hilangnya adab: berbicara kasar, melawan guru, bahkan melakukan kekerasan. Di sisi lain, tak bisa diabaikan adanya guru yang terbiasa merendahkan, menghina, dan melukai psikologis murid melalui kata-kata kasar. Kedua pihak akhirnya terjebak dalam lingkaran konflik yang berujung pada tindakan fisik.

Saat ini, hasil keluaran pendidikan tidak jauh dari profil generasi sekuler, sedangkan UU perlindungan guru tidak dapat berperan optimal melindungi guru. Peraturan pelaksanaan UU justru menyimpangkan peran guru dari hakikatnya sebagai pendidik generasi. Kondisi ini tidak lepas dari penerapan sistem sekuler kapitalisme.

Berbeda dengan sistem Islam. Islam memandang pendidikan secara berbeda. Tujuan pendidikan bukan sekadar mencetak manusia pintar, tetapi membentuk manusia beradab. Rasulullah Saw. bersabda bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak. Dalam sistem pendidikan Islam, adab didahulukan sebelum ilmu.

Murid dididik untuk memuliakan guru (ta’dzim), sementara guru diwajibkan mendidik dengan kasih sayang, bukan dengan hinaan atau caci maki. Guru bukan sekadar pengajar materi, melainkan figur teladan dalam sikap dan tutur kata.

Lebih dari itu, negara dalam sistem Islam memastikan kurikulum berlandaskan akidah Islam. Setiap mata pelajaran diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam, bukan sekadar memenuhi kebutuhan pasar kerja. Sistem pendidikan yang bervisi besar untuk tegaknya sebuah peradaban akan serius dalam mendidik generasi agar tidak hanya mengandalkan ilmu atau intelektualitas, tetapi juga iman, amal, adab, dan kepribadian Islam (syakhsiyyah islamiyyah). 

Allah SWT. berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadalah: 11).

Keluaran sistem pendidikan Islam tidak hanya peserta didik yang berkarakter unggul, tetapi juga guru-guru yang berkualitas. Sejarah mencatat peradaban Islam begitu kaya dengan para ulama pada setiap masanya. Keberhasilan sistem pendidikan Islam bukan sebatas karena faktor teknis, tetapi ada sistem politik pendidikan yang menopang realisasi sistem pendidikan sahih, termasuk aspek perlindungan terhadap guru dan murid.

Semoga sistem Islam segera tegak agar peristiwa seperti itu tidak terjadi lagi. Kita sebagai bagian dari warga masyarakat, selayaknya mengambil bagian pula dalam mewujudkannya. Bukan hanya menjadi seperti penonton sepakbola yang ocehannya seolah-olah dia lebih lihai dari pemain. Mari bersama-sama kita bahu membahu mengkaji Islam kaffah bersama kelompok dakwah Islam ideologis untuk kemudian mendakwahkannya di tengah-tengah masyarakat agar semakin banyak yang tercerahkan.

Wallahu'alam bishshawab.



Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar