Kapitalisme Biang Kesengsaraan Hidup Manusia


Oleh: Ummu Hanan

Manusia kini begitu rentan dengan depresi dan putus asa. Kondisi ini berkorelasi dengan tingginya angka percobaan bunuh diri atau yang mengarah pada hal tersebut. Bahkan yang lebihi miris lagi adalah manakala kita dapati kasus pilu seorang gadis kecil yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) kelas IV mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Kematiannya dipicu oleh persoalan sederhana yakni ketidakmampuan orang tuanya untuk membelikan pulpen dan buku tulis. Selain itu dikabarkan siswi yang bersangkutan tersebut sempat ditagih beberapa kali oleh pihak sekolah uangs ebesar Rp 1,2 juta (detik.com,5/2/2026). Kejadian yang terjadi di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) seolah menjadi tamparan keras tidak hanya bagi dunia pendidikan tetapi juga tentang bagaimana negara terbukti gagal mewujudkan kesejahteraan untuk rakyatnya.
 
Kasus kematian gadis kecil ini tidak boleh dipandang remeh oleh siapapun. Mungkin dirinya hanyalah bagian kisah yang lambat laun dilupakan. Keberadaannya jauh dari soroton publik, terpencil dan terhimpit oleh beban kemiskian yang sedemikian rupa. Tetapi justru melalui peristiwa ini kita semua tersadarkan betapa kehidupan hari ini begitu keras bahkan untuk seorang anak kecil yang seharusnya hidup dengan penuh keceriaan turut merasakan kesengsaraan. Ya, inilah realitas kehidupan dalam kungkungan sistem kapitalisme. Sistem ini mempertontonkan ketimpangan luar biasa antara si kaya dan miskin. Negara hanya hadir sebagai pihak yang memfasilitasi kepentingan para pemilik modal (kapitalis) di atas kebutuhan asasi rakyat.
 
Kapitalisme adalah biang kesengsaraan hidup manusia. Kapitalisme lah yang menjadikan negara menelantarkan rakyat sehingga mereka harus membanting tulang memenuhi kebutuhannya sendiri. Orang miskin dibiarkan bertarung dengan orang kaya dengan perbandingan kekayaan yang sangat mencolok, ibarat petinju kelas bulu harus bertarung dengan petinju kelas berat. Kebutuhan primer rakyat seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, keamanan dan pendidikan disediakan dengan syarat ada harga ada rupa. Siapa yang sanggup membayar lebih tentu akan meraih kualitas terbaik, begitu sebaliknya. Termasuk pada sistem pendidikannya, kapitalisme membebani rakyat dengan kebijakan yang tak berpihak pada masyarakat ekonomi lemah. Ditambah lagi tidak ada kepastian perbaikan ekonomi dengan marak PHK diikuti kenaikan harga kebutuhan pokok.
 
Hak memeroleh pendidikan dengan kualitas terbaik harus diperoleh setiap individu rakyat. Syariat Islam mengatur dengan tegas soal ini. Dalam pandangan Islam, negara memiliki tanggung jawab besar untuk merealisasikannya. Pembiayaan terhadap layanan pendidikan tidak boleh dibebankan kepada para orangtua melainkan negara lah yang menyokong penuh. Biaya sektor pendidikan yang cukup besar akan serta merta diperoleh melalui mekanisme Baitul Mal. Negara mengelola secara penuh sumber kekayaan negara berupa barang tambang dengan jumlah melimpah agar dapat menjadi sumber pendapatan utama untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Layanan pendidikan mutlak diberikan secara cuma cuma namun dengan kualitas unggul sehingga setiap individu berkesempatan merasakan keutamaan menuntut ilmu tanpa ada diskriminasi.
 
Syariat Islam juga mengatur soal perlindungan serta keamanan setiap individu rakyat. Termasuk ketika kita berbicara soal hak anak untuk merasakan kehidupan yang layak. Negara yang menerapkan syariat Islam secara sempurna akan menjamin perlindungan atas anak dalam hal pengasuhan, pendididkan dan kontrol sosial. Oleh karena itu kita tidak bisa berharap lebih pada kapitalisme yang telah lalai mengurus rakyat. Kapitalisme malah menjadi biang kesengsaraan hidup dengan kebijakannya yang justru memihak pada para kapitalis (pemilik modal). Hanya ada satu jalan untuk menghentikan segala kerusakan ini. Jalan itu tidak lain adalah dengan mencampakkan kapitalisme dan beralih pada perjuangan untuk tegaknya sistem Islam di tengah kehidupan kita. Allahu’alam.





Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar