Oleh : Ummu Aulia (Muslimah Pejuang Peradaban)
Pembunuhanan masih menjadi momok yang mengerikan di negeri ini, kalau dulu yang membunuh adalah begal, pencuri serta bukan orang yang kita kenal. Sekarang banyak kasus pembunuhanan terjadi bahkan oleh teman dekat atau orang yang sudah bertahun-tahun dikenal.
Terbaru seorang remaja umur 17 tahun bisa menjadi otak pembunuhanan berencana terhadap temannya. Motif pembunuhanan dipicu sakit hati setelah korban memutuskan hubungan pertemanan.
Korban adalah seorang pelajar SMP di Bandung berinisial ZAAQ (14). Polisi memastikan pembunuhanan dilakukan secara terencana.
Kasus ini terungkap setelah sorang konten kreator horor yang sedang membuat konten di kawasan bekas obyek wisata Kampung Gajah pada jum'at (13/2/2026) malam.
Sebelumnya keluarga sudah melaporkan kejadian hilangnya korban ke kantor polisi tapi belum ada titik terang sampai akhirnya tidak sengaja ditemukan oleh seorang konten kreator yang sedang membuat konten di kawasan Kampung Gajah tersebut.
Polisi melakukan penyelidikan dan menangkap dua remaja pelaku pembunuhanan berinisial YA (16) dan AP (17), sementara korban sendiri ditemukan dengan sejumlah luka tusuk setelah jasadnya membusuk di lokasi.
Belum lama ini juga terjadi peristiwa bunuh diri seorang anak SD berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, NTT, diketahui karena tidak bisa membeli buku tulis dan pena. Ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi pemerintahan.
Tahun 2026 belum genap 2 bulan, namun jumlah anak yang mengakhiri hidupnya sebanyak empat jiwa. Kasus terbaru, seorang anak berusia 14 tahun tahun diduga mengakhiri hidup di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, kamis (12/2/2026). (aktual.com).
Rentetan peristiwa tragis di awal tahun 2026 yang melibatkan remaja baik kasus bunuh diri maupun jadi tersangka pembunuhan manjadi bukti bahwa generasi rapuh.
Banyak faktor yang mempengaruhi kerapuhan generasi, ada sebagian pelajar yang diam-diam memikul beban batin yang berat (tekanan mental) yang disebabkan oleh nilai akademik, persoalan keluarga, pergaulan serta berbagai persoalan yang tidak bisa mereka ungakapkan.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan sebanyak 363.326 pelajar di Indonesia mengalami gejala depresi dan 338.316 pelajar mengalami gejala kecemasan, Hal ini terungkap dari hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada 2025."Dari 27 penduduk yang diperiksa kesehatan jiwanya, gejala depresi dan gejala kecemasan pada anak remaja ini lima kali lebih besar dibandingkan kelompok usia dewasa dan lansia, " kata Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemenekes Asnawi Abdullah di Jakarta, selasa (10-2-2026), dikutip dari Antara.
Kejadian remaja yang bunuh diri, membunuh atau dibunuh membuktikan ada yang rapuh dalam generasi kita, ini bukan lagi hanya persoalan keluarga, sekolah atau daerah tapi merupakan potret yang mencerminkan pendidikan, pola asuh, serta kemana generasi ini akan dibawa dalam sistem yang berlaku saat ini.
Sistem sekuler kapitalisme yang dipakai saat ini telah membentuk kepribadian anak menjadi rapuh, anak rentan depresi serta tak tau arah tujuan hidup. Pengaruh algoritma di layar hp tentang konten bunuh diri, pembunuhan serta konten yang berpotensi merusak generasi dapat diakses dengan mudah dari layar HP tanpa filter memperparah keadaan.
Algoritma dalam layar gawai sering menampilkan konten yang tidak sesuai dengan nilai islam. Konte pornografi, lgbt, kekerasan, perselingkuhan jadi fyp. Bahkan konten dakwah sering kena Shadowbaned jadi remaja tambah kehilangan arah.
Standart kebahagiaan yang keliru tanpa peduli dengan larangan Allah Subhanahu Wata'ala mengikuti gaya konten kreator yang bebas demi mendapatkan uang serta menyontek demi mendapatkan nilai tinggi.
Abainya lingkungan terhadap perbuatan remaja, mereka sering berfikir bukan anak saya ngapain ditegur. Tidak adanya amar ma'ruf nahi munkar dalam lingkungan, serta kesibukan orang tua mencari nafkah sehingga anak semakin kehilangan figur orang tua.
Sistem kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan mencetak generasi yang rapuh, dalam sistem ini agama dilarang untuk mengatur kehidupan. Agama hanya dilakukan sebatas ritual seperti sholat puasa serta ibadah mahdo saja.
Terjadinya pembunuhan, bunuh diri dan serangkaian hal buruk yang menimpa remaja membuktikan sistem sekuler telah gagal mencetak generasi cerdas. Generasi cenderung rapuh serta depresi hingga bunuh diri. Saatnya mengganti sistem sekuler dengang sistem yang benar-benar merubah semua ini.
Berbeda dengan sistem islam, islam hadir untuk menjadi panduan hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Islam memandang kehidupan manusia sebagai amanah yang mulia dan harus dijaga. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman: "Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sungguh Allah Maha Penyayang kepadamu." (QS An-Nisa (4) 29). Ayat ini berisi larangan serta penegasan bahwa setiap jiwa wajib dijaga.
Dalam islam negara hadir untuk mengurusi urusan rakyatnya, negara memandang pemuda adalah penerus peradaban sehingga kesehatan mental setiap warga wajib dijaga. Pendidikan dalam sistem ini berbasis aqidah islam sehingga bisa mencetak generasi yang memiliki cara pandang, pola fikir dan sikap islam.
Kurikulum yang diterapkan mengajarkan remaja untuk memahami jati diri sebagai seorang muslim. Senantiasa terikat dengan aturan Allah, memahami bahwa tujuan hidup di dunia adalah beribadah kepada Allah. Kelak akan kembali kepada Allah sehingga bisa melakukan standart perbuatan berdasarkan halal-haram sesuai aturan Allah.
Khilafah akan mengatur media, sehingga konten-komtsn yang tidak mendidik seperti LGBT, pembunuhan, perselingkuhan serta konten yang berpotensi merusak generasi tidak akan ditayangkan. Hanya konten yang mendidik yang mengajak kepada Allah yang akan ditayangkan.
Sanksi tegas akan dilakukan kepada pelaku yang sudah baliq. Seperti qisas untuk pelaku pembunuhan serta hukum-hukum yang telah ditetapkan dalam Al-Qur'an, hukum dalam islam bersifat menjerakan sekaligus mencegah orang melakukan perbuatan yang sama.
Keluarga serta masyarakat bersinergi dalam mendukung generasi bermental kuat dan sehat. Tidak abai terhadap keburukan serta bersedia ber amar ma'ruf nahi munkar.
Mewujudkan generasi yang berkepribadian islam adalah tanggung jawab kita bersama. Maka memberikan mereka pemahaman bahwa islam adalah pandangan hidup yang akan menuntun mereka kepada kegemilangan peradaban yang mulia. Hanya sistem islam dalam bingkai khilafah islamiyah yang dapat lindungi generasi.
Wallahu alam bissawab
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar