Mengokohkan Spiritualitas Umat sebagai Fondasi Kebangkitan


Oleh: Hanum Hanindita, S.Si (Penulis Artikel Islami)

Di tengah dominasi sistem kehidupan yang sekuler dan kapitalistik, umat Islam menghadapi tantangan besar, yakni terpinggirkannya nilai-nilai wahyu dari ruang publik. Agama kerap direduksi sebatas urusan pribadi, sementara tata kelola kehidupan ekonomi, politik, pendidikan, hingga budaya dijalankan dengan paradigma yang jauh dari tuntunan Ilahi. Dalam realitas inilah, Ramadan hadir bukan sebatas ritual tahunan, melainkan sebagai momentum strategis untuk membangkitkan kembali kesadaran ideologis umat. 


Ramadan Pembentuk Ketakwaan dan Ketaatan Kaffah

Ramadan adalah bulan pembentukan ketakwaan. Allah Swt. berfirman dalam QS. Albaqarah ayat 183 yang artinya, "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa". 

Ketakwaan dalam Islam bukan sekadar kesalehan spiritual individual, tetapi ketaatan total kepada Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Takwa berarti menjadikan syariat sebagai standar berpikir dan bertindak baik dalam urusan pribadi maupun dalam mengatur masyarakat. 

Maka, Ramadan sejatinya adalah saat yang strategis untuk membentuk pribadi yang tunduk secara kaffah pada hukum Allah, sekaligus menolak tunduk pada sistem yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. 

Umat yang bertakwa tidak akan diam melihat kezaliman, kerusakan moral, ketimpangan ekonomi, dan kebijakan yang menyengsarakan rakyat. Ketakwaan melahirkan sikap amar makruf nahi mungkar bukan hanya pada level individu, tetapi juga dalam struktur masyarakat. 

Ramadan juga membangun solidaritas sosial. Rasa lapar menumbuhkan empati terhadap fakir miskin. Zakat, infak, dan sedekah meningkat. Namun lebih dari itu, Islam tidak hanya mendorong berbagi, tetapi juga menghadirkan sistem yang mencegah ketimpangan sejak awal. 

Spirit Ramadan seharusnya mendorong umat untuk memikirkan kembali bagaimana sistem ekonomi, politik, dan hukum berjalan. Apakah sudah selaras dengan prinsip keadilan Islam atau belum? 


Alquran Tak Sekadar Bacaan

Ramadan adalah bulan diturunkannya Alquran sebagaimana disebutkan dalam QS. Albaqarah ayat 185 yang artinya, "(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)." 

Dari ayat ini jelas bahwa Alquran diturunkan sebagai hudan linnas (petunjuk bagi manusia) dan furqan (pembeda antara yang hak dan batil). Artinya, Alquran bukan hanya untuk dibaca dan dihafal, tetapi untuk dijadikan dasar peradaban. 

Ironis jika di bulan Ramadan umat begitu semangat mengkhatamkan Alquran, tetapi dalam kehidupan publik justru menggunakan hukum dan sistem yang tidak bersumber darinya. Padahal spirit ideologis Ramadan menuntut sebuah konsistensi, yakni menjadikan wahyu sebagai rujukan utama dalam mengatur diri, keluarga, masyarakat, bahkan negara. 


Ramadan dan Tradisi Perjuangan

Sejarah Islam menunjukkan bahwa Ramadan adalah bulan produktif dan penuh daya juang. Perang Badar dan pembebasan Makkah menjadi bukti bahwa puasa tidak melemahkan umat, justru menguatkan fisik, mental dan spiritual mereka. Kemenangan tidak lahir dari kekuatan materi semata, tetapi dari keimanan yang kokoh dan kepemimpinan yang tunduk pada wahyu. 

Ini menjadi pelajaran penting bagi umat hari ini. Kebangkitan Islam tidak akan terwujud hanya dengan nostalgia sejarah atau simbolisme keagamaan. Ia menuntut kesungguhan dan aksi nyata dalam membangun kesadaran politik Islam yakni kesadaran bahwa Islam adalah ideologi yang sempurna, mengatur seluruh aspek kehidupan. 

Ramadan harus menjadi titik tolak kebangkitan tersebut. Ketakwaan individu harus bertransformasi menjadi kekuatan jemaah. Masjid tidak hanya menjadi pusat ibadah ritual, tetapi juga pusat pembinaan umat dan penguatan visi peradaban Islam. 


Menuju Kebangkitan Hakiki

Kebangkitan umat bukanlah sekadar peralihan kekuasaan yang instan, melainkan sebuah perjuangan ideologis yang mendasar. Kita menyadari bahwa saat ini, belenggu sekularisme kapitalisme tengah mencengkeram tatanan kehidupan. Ia melahirkan kebijakan yang menjauhkan manusia dari syariat dan menjatuhkan marwah umat ke titik terendah. 

Untuk itu, kebangkitan sejati harus dimulai dari perubahan cara pandang yang berlandaskan akidah Islam. Ini semua harus diupayakan dengan membentuk kesadaran umat secara jemaah agar merubah cara pandang sekularisme kapitalisme menjadi Islam. Sebab kebangkitan hakiki adalah kembalinya umat kepada Islam secara kaffah serta menjadikan Alquran dan Sunnah sebagai pedoman dalam seluruh aspek kehidupan.

Oleh karena itu, mari jadikan Ramadan sebagai momentum yang Allah berikan untuk membangkitkan ruh iman dan perjuangan. Ia bukan sekadar bulan ibadah, tetapi madrasah pembinaan agar umat menjadi lebih bertakwa, berani menegakkan kebenaran, dan siap berjuang demi kemuliaan Islam. 

Sungguh merugi jika kita melewati Ramadan tanpa peningkatan ketakwaan dan tanpa tekad untuk menjadikan Islam sebagai pedoman hidup secara menyeluruh dan memperjuangkannya. Semoga Ramadan kali ini bukan hanya menghadirkan pahala berlipat, tetapi juga melahirkan kesadaran kolektif menuju kebangkitan Islam yang hakiki. Wallahu a’lam bish-shawab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar