Oleh : Ummu Aulia (Muslimah Pejuang Peradaban)
Derita anak-anak dan perempuan Gaza tak kunjung usai. Di tengah klaim gencatan senjata dan diplomasi international laporan demi laporan penyerangan terhadap warga di jalur Gaza semakin brutal, bahkan terbaru Israel menggunakan senjata yang membuat tubuh korban seolah menguap tanpa jejak.
Israel diyakini menggunakan senjata termal dan termobarik untuk membunuh ribuan warga di jalur Gaza, Palestina. Senjata ini membuat jasad seoalah menguap atau hilang tanpa jejak.
Dalam laporan investigasi Al Jazeera berjudul "The Rest of the story" Setidaknya ada 2.842 warga Palestina yang hilang sejak agresi dimulai pada Oktober 2023.
Secara biologis, hilangnya ribuan nyawa tanpa sisa ini dijelaskan oleh Dr Munir al-Bursh, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza. Dia memaparkan bahwa tubuh manusia terdiri dari sekitar 80 persen air.
"Titik didih air adalah 100 derajat celcius. Ketika tubuh terpapar energi yang melebihi 3.000 derajat disertai tekanan besar oksidasi, cairan akan mendidih seketika. Jaringan tubuh menguap dan berubah menjadi abu Secara kimiawi, itu tidak terelakkan, " ujar Al-Bursh dalam investigasi tersebut.
Investigasi tersebut mengidentifikasi beberapa jenis amunisi buatan Amerika Serikat (AS) yang digunakan dalam serangan. (Kompas.com).
Serangan terus dilakukan meski dalam masa gencatan senjata, laporan kemanusiaan menyebutkan bahwa mayoritas korban dari serangan israel adalah anak-anak dan perempuan. Ini membuktikan bahwa Israel tidak hanya menyasar infrastruktur militer, tetapi juga populasi sipil.
Penggunaan senjata termobarik oleh Israel menunjukkan kebiadaban modern dan tak berperikemanusiaan. Semakin jelas bahwa yang dilakukan oleh Israel adalah genosida.
Berbagai serangan mematikan yang dilakukan Israel menyasar warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. Dunia tahu hal ini melanggar Hak Asasi Manusia (HAM), namun tidak pernah ada yang benar-benar mau menghentikan.
Berbagai rencana penyelamatan sering kali hanya berupa kecaman dan berhenti di meja diplomasi tanpa solusi yang pasti untuk benar-benar menghentikan agresi.
Kejahatan Israel tidak dapat ditolerir dan diberikan solusi damai atau gencatan senjata. Karena berkali-kali gencatan senjata berkali-kali pula mereka mengingkari.
Kerusakan yang dilakukan oleh Israel sungguh sangat melampaui batas. Palestina akan terus terjajah tanpa adanya khilafah, Israel harus dihentikan dengan jihad oleh tentara kaum muslimin.
Memerangi Israel yang telah membantai kaum muslimin adalah wajib. Tidak boleh ada upaya berdamai, mengalah, apalagi solusi dua negara yang mana memberikan jalan bagi Israel untuk menguasai negeri kaum muslimin.
Islam sangat menghargai nyawa seorang muslim Rosulullah Salallahu alaihi wasalam bersabda: "Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak. "(HR.Nasai 3987,Turmudzi 1455,dan dishahihkan Al-Albani).
Hadits ini menunjukkan bahwa betapa islam sangat menghargai nyawa seorang mukmin, apalagi di Palestina bukan hanya satu orang yang terbunuh tetapi ribuan mukmin terbunuh tanpa hak.
Dalam hadits lain Rosulullah Salallahu alaihi wasalam bersabda: "Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi di antara mereka adalah ibarat satu tubuh, Apabila ada salah satu yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya)." (HR Muslim No 4685).
Umat muslim Palestina menderita seharusnya kita juga ikut merasakan sakit, kita tidak bisa begitu saja jihad sendiri ke Palestina. Oleh karena itu dibutuhkan kesatuan kekuatan kaum muslimin seluruh dunia.
Tegaknya kepemimpinan islam dalam naungan khilafah islamiyah sangat dibutuhkan untuk menyatukan kekuatan kaum muslimin dia seluruh dunia.
Hanya khilafah yang dapat membebaskan Palestina dari derita pembantaian yang tak kunjung usai. Khilafah dapat mengirim pasukan tanpa sekat nasionalisme, karena selama mereka muslim mereka adlah saudara.
Penting untuk ikut jamaah islam ideologis yang bersama-sama mencerdaskan umat agar umat sadar dan tak lagi tertidur, agar islam menjadi rahmatan lil'alamin.
Wallahu alam bissawab
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar