Oleh : Ni’mah Fadeli
Bulan Ramadan yang dinanti telah tiba. Berlomba-lomba Muslim mempersiapkannya. Dari segi keimanan, fisik, dan hati semua ditata. Ibadah puasa sebulan penuh yang akan dijalani diharapkan dapat menata ulang iman yang sedang goyah juga memperbaiki kesehatan yang mungkin jarang terkontrol akibat asupan makan tiada henti. Gizi cukup tentu sangat diperlukan untuk kelancaran ibadah Ramadan.
Makan Bergizi Gratis (MBG) pun dipastikan tetap berjalan di bulan Ramadan. MBG yang biasanya dibagikan ketika jam makan siang, selama bulan Ramadan akan dikemas untuk dibawa pulang siswa dan dinikmati di rumah. Menurut Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana, MBG selama Ramadan akan diberikan berupa menu kering tahan lama seperti telur rebus, abon, kurma, susu, buah, dan berbagai makanan lokal. (tvOnenews.com, 16-02-2026).
Banyak kritik terkait kebijakan ini, baik dari masyarakat awam maupun para ahli. Seperti yang diungkap oleh Eliza Mardian selaku Pengamat Pertanian dari Center of Reform on Economics (CORE). Eliza menyebut jika pemberian MBG dengan penyesuaian menu di bulan Ramadan akan menyimpang dari tujuan awal program ini dibuat, yaitu mencukupi gizi anak. Makanan kering cenderung mengandung garam, gula dan bahan pengawet yang tinggi. Sementara susu dan kurma tidak selalu dikonsumsi karena preferensi selera sehingga kurang tepat sasaran. (ekonomibisnis.com, 16-02-2026).
Cuan is Number One
Dari awal MBG muncul, kuat kesan bahwa ini adalah program yang dipaksakan. Tidak ada persiapan yang cukup, menghabiskan dana besar, menimbulkan korban keracunan dimana-mana, menu tak memenuhi gizi, dan menghasilkan sampah makanan yang luar biasa setiap hari. Sederet kekurangan program ini membuat kritikan tajam meluncur dari segala sisi. Namun, tetap saja program MBG berjalan seolah tanpa beban.
Belakangan terkuak bahwa MBG adalah salah satu program yang harus terus berjalan karena banyaknya cuan yang dihasilkan. Seorang pejabat bahkan bisa memiliki beberapa puluh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Setiap hari dapur SPPG memproduksi ribuan porsi menu tanpa berpikir kerugian tidak laku karena telah jelas siapa "pembeli"nya. Penyuplai bahan dapur pun relasi para pejabat sendiri. Sungguh bisnis yang sangat menguntungkan bagi para kapital.
Negara penganut kapitalisme jelas memberi ruang luas untuk para kapital mencari untung. Cuan is number one, keselamatan dan kesejahteraan rakyat tidak pernah menjadi perhatian. Pemimpin abai terhadap rakyat, fokusnya hanya bagaimana bisa bertahan menjadi pejabat negara dan menambah pundi-pundi kekayaan.
Islam Peduli Gizi
"Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut..." (QS. Al-Baqarah : 233)
Setiap asupan makanan yang masuk ke tubuh telah mendapat perhatian besar dalam syariat Islam. Allah Swt. memerintahkan ibu menyusui anaknya selama dua tahun awal kehidupannya. Melalui penelitian para ahli, ternyata memang tiada nutrisi terbaik selain asi bagi bayi.
Seorang ayah memiliki kewajiban menanggung nafkah bagi istri dan anaknya. Pemenuhan gizi keluarga menjadi tanggung jawabnya. Maka negara wajib memastikan setiap kepala keluarga memiliki pekerjaan dengan hasil yang cukup untuk kesejahteraan keluarga. Lapangan pekerjaan dibuka seluas-luasnya, izin membuka usaha bagi wira usaha juga dipermudah. Negara akan memberi modal dan pelatihan sehingga setiap kepala keluarga memiliki penghasilan.
Negara juga memastikan makanan yang beredar adalah halal dan baik. Makanan dengan kandungan yang berbahaya dan tidak bermanfaat bagi tubuh serta menimbulkan efek negatif akan dihilangkan. Makanan non halal memiliki peredaran khusus hanya di lingkungan non Muslim saja dengan pengawasan yang ketat.
Fungsi negara sebagai pengurus rakyat akan dilaksanakan dengan maksimal. Pemimpin memahami bahwa rakyat adalah amanah yang akan menjadi pemberat hisab kelak di akhirat jika diperlakukan dengan zalim.
Khatimah
Setiap kebijakan dalam Islam berdasar pada syariat. Dilakukan untuk kemaslahatan rakyat tanpa tendensi bisnis dan sejenisnya. Negara hadir sebagai pelayan rakyat dalam segala sisi kehidupan. Kebijakan yang diambil dipersiapkan secara matang. Dana telah terkonsep dengan jelas tanpa pajak dan utang. Kesejahteraan rakyat pun dapat terpenuhi ketika Islam diterapkan karena sumber pemasukan murni dari sumber daya alam yang dikelola negara dengan amanah.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar