Oleh : Ulianafia (Pemerhati Keluarga & Generasi)
Ramadhan merupakan bulan yang agung dalam Islam. Ia dikenal sebagai bulan keberkahan, kemuliaan, dan ampunan. Banyak pula sebutan lain yang dilekatkan padanya, menunjukkan betapa tinggi kedudukan Ramadhan dalam syariat Islam. Di bulan ini terdapat amalan-amalan yang pahalanya langsung diberikan oleh Allah, pahala yang dilipatgandakan, serta dibukanya pintu-pintu surga dan ditutupnya pintu-pintu neraka. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika umat Islam menyambut datangnya Ramadhan dengan penuh kegembiraan dan antusiasme.
Namun, bentuk penyambutan Ramadhan di tengah masyarakat sangat beragam. Sebagian dilakukan melalui aktivitas yang dianggap sakral, sementara sebagian lainnya justru berbentuk hiburan semata. Berbagai tradisi dikenal luas, seperti sadranan, megengan, padusan, nyekar (ziarah kubur), pawai dan arak-arakan di jalan, tausiyah, wisata kuliner, hingga aktivitas rekreasi dengan dalih “mumpung sebelum puasa”. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah seluruh bentuk aktivitas tersebut benar-benar mencerminkan rasa syukur yang sesuai dengan tuntunan Islam?
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa umat begitu antusias, bahkan rela mengorbankan waktu, tenaga, dan harta demi menyukseskan berbagai kegiatan tersebut. Ada yang menempuh perjalanan jauh untuk melaksanakan tradisi tertentu, begadang hingga larut malam, mengeluarkan biaya besar, bahkan menyelenggarakan pesta makan dengan menyembelih hewan. Tidak jarang pula ditemukan aktivitas yang berlebihan dan berisiko, seperti penggunaan perangkat hiburan besar di ruang terbuka tanpa mempertimbangkan dampak kerugian dan mudarat yang ditimbulkan.
Jika ditelaah lebih jauh, fenomena ini mencerminkan kondisi umat yang masih membutuhkan penguatan pemahaman terhadap ajaran Islam. Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa bulan Sya’ban—bulan yang mengantarkan menuju Ramadhan—sering dilalaikan oleh manusia. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa pada bulan tersebut amal-amal diangkat kepada Allah, dan Rasulullah ﷺ menyukai amalnya diangkat dalam keadaan berpuasa.
Peringatan ini menunjukkan pentingnya kesadaran spiritual dan persiapan yang benar dalam menyambut Ramadhan. Realitas yang terjadi hari ini menunjukkan bahwa banyak aktivitas umat justru tidak menyentuh esensi kesakralan, kemuliaan, dan kehormatan bulan-bulan mulia. Yang diagungkan sering kali bukan nilai Islamnya, melainkan tradisi yang telah mengakar dalam masyarakat. Akibatnya, Islam dipersepsikan sebatas agama ritual, sementara Islam sebagai sistem kehidupan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia justru terpinggirkan.
Padahal, Islam mengajarkan persaudaraan umat dan mewajibkan pemeluknya untuk memahami, mengamalkan, menerapkan, serta mendakwahkan ajaran Islam agar benar-benar terwujud sebagai rahmat bagi seluruh alam. Islam hadir untuk menghapus berbagai bentuk kezaliman dan kerusakan, baik dalam aspek individu, keluarga, masyarakat, maupun negara. Beragam persoalan seperti korupsi, kemiskinan, kerusakan moral, pergaulan bebas, perdagangan manusia, penyalahgunaan narkoba, keretakan keluarga, hingga penjajahan dan penindasan terhadap kaum muslimin di berbagai belahan dunia merupakan bukti nyata absennya penerapan ajaran Islam secara menyeluruh.
Ironisnya, di tengah kompleksitas persoalan tersebut, umat sering kali berada dalam kondisi kebingungan dan ketidakberdayaan karena tidak mengetahui langkah yang harus diambil. Pada titik inilah umat seharusnya kembali kepada agamanya, yakni menjadikan Al-Qur’an dan Rasulullah ﷺ sebagai rujukan utama dalam kehidupan. Seluruh kerusakan yang terjadi pada hakikatnya bersumber dari pengabaian terhadap aturan hidup yang sempurna serta kegagalan meneladani Rasulullah ﷺ sebagai sosok manusia terbaik.
Satu-satunya jalan kebangkitan umat adalah kembali kepada Islam secara utuh dan menyeluruh. Umat dituntut untuk mengkaji Islam secara mendalam, bukan sekadar mengambil bagian-bagian tertentu yang dianggap sesuai dengan kepentingan sesaat, sementara ajaran lainnya diabaikan. Oleh karena itu, mendekatkan diri kepada majelis-majelis ilmu yang mengkaji Islam secara menyeluruh menjadi kebutuhan mendesak. Sebab, perubahan sejati hanya akan lahir dari perubahan pemikiran dan pemahaman..
Dengan demikian, umat yang selama ini terjebak dalam tradisi parsial perlu bergeser menuju pemahaman Islam yang komprehensif. Dari sanalah akan tumbuh kecintaan yang tulus terhadap kesempurnaan Islam, keimanan yang kokoh kepada Rasulullah ﷺ sebagai pembawa risalah, serta keyakinan yang mendalam kepada Allah sebagai Pencipta dan Pengatur kehidupan.
Inilah gambaran sosok muslim seutuhnya. Sejarah telah membuktikan bahwa ketika Islam ditegakkan sebagai sistem kehidupan, para sahabat dan generasi setelahnya tampil sebagai umat yang bermartabat, disegani, bahkan dijadikan teladan oleh bangsa-bangsa lain.
Ramadhan adalah bulan yang mulia: bulan ampunan, bulan perjuangan, bulan Al-Qur’an, bulan keberkahan, bulan pembentukan takwa, bulan pembebasan, dan bulan rahmat. Seluruh kemuliaan ini seharusnya dijadikan momentum untuk melakukan perubahan dan kebangkitan umat Islam. Namun, perubahan tersebut harus diawali dengan perubahan pemahaman.
Jangan sampai pemahaman umat terhadap Islam stagnan dari tahun ke tahun, sementara kondisi kehidupan justru semakin memburuk. Oleh karena itu, diperlukan azam yang kuat untuk mengkaji Islam secara serius, mendalam, dan menyeluruh. Inilah pondasi utama. Tanpa landasan ini, perubahan yang hakiki tidak akan pernah terwujud.
Selanjutnya, ketika telah berada di jalan ini, kewajiban berikutnya adalah menjaga istiqamah bersama orang-orang saleh yang telah lebih dahulu mencintai Islam. Dalam kebersamaan inilah akan lahir mekanisme saling menasihati, mengingatkan, memotivasi, dan menguatkan dalam ketaatan.
Setidaknya, inilah langkah yang seharusnya ditempuh umat. Agar ketika Ramadhan kembali hadir pada tahun-tahun mendatang, kondisi umat tidak lagi sama seperti sebelumnya, atau setidaknya telah terjadi perubahan nyata, khususnya dalam tingkat pemahaman dan cara pandang terhadap Islam.
Wallāhu a‘lam.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar