Mahasiswa Bersuara: Antara Tuntutan Rakyat atau Perubahan Sistem


Oleh: Ai Dewi Mulyawati
 
28 Oktober 2026 lalu diperingati sebagai hari Sumpah Pemuda. Di hari yang seharusnya menjadi peringatan kebersamaan bangsa, ribuan pemuda dan warga sipil justru berkumpul di Bundaran HI, Jakarta. Mereka menyuarakan hal-hal mendesak yang hingga kini belum terselesaikan oleh pemerintah negeri ini.
 
Aksi yang digelar oleh Komite SADAR dengan tagar #IndonesiaSadar dimulai sekitar pukul 14.25 WIB. Massa yang sempat tertahan di barikade pengamanan akhirnya sampai di area Monumen Selamat Datang. Di sana, di bawah langit Jakarta, mereka menyampaikan apa yang selama ini dirasakan rakyat:
  • Tangani karhutla secara serius. Asap tebal masih menyelimuti Kalimantan dan wilayah lain, sementara data resmi sering kali berbeda jauh dengan kenyataan di lapangan. Rakyat berhak mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas izin-izin yang mengorbankan hutan dan kehidupan masyarakat.
  • Turunkan biaya hidup. Harga kebutuhan pokok terus naik, sementara daya beli rakyat semakin melemah. Beban ini ditanggung setiap hari oleh keluarga-keluarga di seluruh negeri.
  • Jalankan amanah dengan jujur. Janji-janji kampanye seolah terlupa setelah menduduki jabatan. Rakyat meminta pemerintahan yang berpihak pada kepentingan umum, bukan kelompok tertentu.
  • Jaga ruang berpendapat. Menyuarakan kebenaran bukan kejahatan. Demokrasi memerlukan ruang yang aman agar suara rakyat bisa didengar.
Sebagian besar aksi berlangsung damai. Namun sekitar pukul 19.10 WIB, hujan deras turun. Di tengah hujan itu, terjadi insiden, pembatas jalan di depan UOB Plaza terbakar, disertai suara ledakan yang belum terkonfirmasi sumbernya. Wakil Kepala Polda Metro Jaya turun langsung mengajak massa pulang dengan aman. Sekitar pukul 20.10 WIB, lokasi kembali tenang dan lalu lintas berjalan seperti biasa.
 
Pemerintah DKI Jakarta menyatakan tidak ada kerusakan fasilitas umum yang signifikan. Petugas kebersihan bekerja hingga dini hari membersihkan lokasi, jalan pun bersih kembali, namun pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan rakyat belum terjawab.
 
Amnesty International Indonesia mengingatkan, ruang aman berpendapat adalah hak warga negara. Kepolisian pun mengimbau agar penyampaian aspirasi tetap dalam jalur hukum.

Dua Tahun Pemerintahan dan Teriakan Mahasiswa 
 
Bertepatan dengan dua tahun pemerintahan presiden saat ini, mahasiswa turun ke jalan menyuarakan derita rakyat. Ini kabar baik, Rasulullah Saw. bersabda: "Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, dengan lisannya; jika tidak mampu juga, dengan hatinya. Itulah selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim no. 49).

Kepedulian mahasiswa terhadap persoalan umat semakin meluas. Namun pertanyaan yang penting untuk kita renungkan adalah kemana sebenarnya arah perubahan ini?
 
Tuntutan yang diajukan masih berputar pada perbaikan di dalam sistem yang sama. Tekan penguasa, ganti pejabat, perbaiki regulasi — semuanya masih memakai kacamata demokrasi. Padahal, akar persoalannya lebih dalam dari sekadar siapa yang memegang jabatan.
 
Akar dari masalah ini adalah sistem itu sendiri. Kapitalisme sekuler meletakkan kedaulatan dan hukum di tangan manusia. Hasilnya, aturan sering kali dibuat menurut hawa nafsu dan kepentingan segelintir pihak yang berkuasa.
Allah SWT. berfirman:
اِÙ†ِ الْØ­ُÙƒْÙ…ُ اِÙ„َّا Ù„ِÙ„ّٰÙ‡ِ
"Hukum hanyalah milik Allah." (QS. Yusuf: 40).

Pergantian pemimpin tidak akan mengubah keadaan secara mendasar jika fondasi bangunan yang rusak itu tidak diganti.


Perlu Adanya Lompatan Kesadaran
 
Pergerakan mahasiswa seharusnya naik level — dari sekadar gerakan praktis-pragmatis menjadi gerakan sistemis-ideologis yang jelas arahnya. Islam bukan sekadar ritual pribadi, tetapi memiliki sistem pemerintahan dan ekonomi yang bersumber dari Wahyu Allah SWT. Sistem Islam adalah satu-satunya sistem yang benar-benar mampu menyelesaikan persoalan umat hingga ke akar-akarnya.
 
Para aktivis mahasiswa seharusnya mulai mengarahkan perjuangan ini pada perubahan mendasar, yaitu meninggalkan sistem Kapitalisme-Demokrasi yang terus menindas rakyat, dan berjuang menegakkan sistem Islam secara menyeluruh di bawah naungan Khilafah Islamiyyah. Karena hanya dengan kembali kepada aturan Allah, kita bisa mewujudkan keadilan yang tidak berat sebelah, kesejahteraan yang dirasakan seluruh rakyat, dan kebenaran yang didengar tanpa harus berdesakan di jalanan.
 
Semoga suara yang bergema di Bundaran HI tidak sekadar hilang terbawa hujan, tetapi menjadi awal dari kesadaran bahwa perubahan sejati dimulai ketika kita berani beralih dari sistem buatan manusia menuju sistem yang ditetapkan oleh Pencipta manusia.

Wallahu'alam bishshawab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar