Oleh : Asilka
Oktober telah tiba, ruang publik dipenuhi dengan gegap gempita perayaan Hari Santri Nasional. Data Kementerian Agama RI per Oktober 2026 mencatat ada sekitar 4.634.406 santri yang terverifikasi By Name By Address (BNBA) di puluhan ribu pondok pesantren di seluruh Indonesia. Dengan jumlah yang banyak ini, tidak heran jika negara menaruh harapan besar. Tema-tema besar pun digaungkan, mulai dari versi Kemenag yang mengusung “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, hingga Nahdlatul Ulama (NU) yang membawa narasi “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri”.
Namun, di balik kemeriahan upacara, jalan sehat sarungan, dan aneka kompetisi seni serta olahraga yang rutin digelar, ada yang perlu kita renungkan: ke mana sebenarnya arah pembinaan jutaan santri ini hendak dibawa?
Di masa sekarang santri dituntut untuk menjadi generasi yang produktif, kreatif, adaptif, dan juga mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mandiri secara ekonomi. Kalimat ini terdengar ideal bagi masa depan sebuah bangsa. Namun jika ditelaah lebih dalam, ada bahaya yang mengintai. Dorongan agar santri aktif dalam pembangunan justru memiliki resiko di mana hal tersebut akan mereduksi peran utama mereka. Pesantren didirikan bukan untuk mencetak buruh industri, korporat, atau mesin ekonomi kapitalis. Peran utama asli santri adalah menjadi kader ulama—pilar utama yang menjaga keilmuan Islam dan menjadi kompas moral umat.
Ketika perayaan Hari Santri hanya sekadar ajang seremonial tahunan atau festival keterampilan, esensi spiritual dan intelektualnya mulai mengabur. Lebih jauh lagi, integrasi pengamalan nilai agama yang dipaksakan melekat pada batas-batas geopolitik tertentu dikhawatirkan mengiring santri pada pemahaman nasionalisme spiritual yang sempit. Padahal, Islam diturunkan bukan untuk disekat oleh garis batas imajiner buatan manusia.
Dua per tiga malam para santri diisi dengan doa bagi kebaikan seluruh umat manusia, bukan sekadar untuk kepentingan segelintir kelompok di dalam batas negara. Ikatan universal yang mengikat para penuntut ilmu ini adalah akidah Islam, sebuah ikatan yang melampaui sekat-sekat nasionalisme. Oleh karena itu, konstruksi berpikir santri harus dikembalikan pada jalurnya yang visioner. Santri tidak boleh hanya dipersiapkan menjadi pengikut dalam sistem global yang ada saat ini, melainkan harus dipersiapkan menjadi pemimpin masa depan yang berjuang mengembalikan kejayaan peradaban Islam di panggung dunia.
Untuk membangun kembali peradaban yang mulia itu, umat tidak bisa bergerak secara parsial dan terpecah-pecah dalam ego kebangsaan masing-masing. Islam yang kaffah secara konseptual dan historis menghendaki adanya kesatuan umat. Penetapan Islam yang benar dalam kancah global berada di bawah satu kepemimpinan yang berdaulat, yaitu seorang Khalifah, di dalam satu institusi politik universal, yakni Khilafah.
Sejarah telah membuktikan bahwa hanya melalui institusi global inilah, potensi intelektual, ekonomi, dan spiritual para santri dan ulama terdahulu mampu melahirkan zaman keemasan yang menaungi dunia dengan rahmat dan keadilan. Sudah saatnya kita menyudahi reduksi peran santri sekadar sebagai penopang kemandirian lokal atau pelengkap narasi geopolitik kontemporer. Jutaan santri di Indonesia adalah modal global yang sangat berharga. Saatnya mendidik mereka dengan kesadaran penuh: bahwa di pundak merekalah kepemimpinan umat dunia dan tegaknya kembali peradaban Islam berada.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar