Tiga Tahun Thufan Al-Aqsha, Palestina Kehilangan 20.748 Pelajarnya


Oleh : Nikmatus Sa’adah 

Thufan Al-Aqsha merupakan nama resmi yang diluncurkan kelompok pejuang Palestina di Gaza, terutama Hamas untuk operasi militer dan pertempuran besar sejak tanggal 7 oktober 2023. Tujuan dari Thufan Al-Aqsha ini tidak lain sebagai bentuk perlawanan terhadap pendudukan Israel, melindungi Masjid Al-Aqsha dari berbagai ancaman dan penghancuran serta merespon blockade dan agresi di Gaza. Dari peristiwa ini, memicu perang besar dan serangan balasan massif dari Israel ke Gaza yang menimbulkan dampak kemanusiaan yang sangat besar dan kekerasan yang tidak lagi bisa dibenarkan sampai hari ini. 

Kementarian Pendidikan Palestina, pada Rabu, 7 oktober 2026 merilis data bahwa sebanyak 20.748 pelajar Palestina dan 1.058 tenaga pendidikan serta administrasi tewas di jalur Gaza dan Tepi Barat selama tiga tahun konflik terjadi (metronews.com/18/10/2026). Selain itu, puluhan institusi mengalami kehancuran atau menjadi sasaran serangan. Gedung-gedung strategis dan pelayanan umum telah dihancurkan oleh Israel. Tidak hanya pelajar, 293 bayi terlahir premature dan 123 anak meninggal akibat malnutrisi dan dehidrasi. 

Dalam kurun waktu yang sama, pasukan dan warga Israel meningkatkan serangan di Tepi Barat. Sebanyak 1.210 warga Palestina tewas, sekitar 13.350 lainnya luka dan lebih 24.600 orang ditahan (metronews.com/18/10/2026). 


Genosida dan Perampasan Wilayah 

Serangan brutal yang telah dilakukan selama ini sesungguhnya sengaja dilakukan dengan tujuan genosida dan perampasan wilayah Palestina. Hal ini merupakan paradigma orang kafir yang menganggap bahwa perang yang dilakukan tidak lain untuk menjajah dan merampas sebuah wilayah. 

Pelajar dan sekolah yang seharusnya steril dari dampak ini, bahkan menjadi sasaran serangan brutal oleh Israel. Hal ini adalah bukti kejahatan perang yang dilakukan orang kafir. Bahkan anak-anak dan perempuan yang tidak berdaya juga menjadi sasaran utama. Hal ini bertujuan untuk menhabiskan generasi pejuang Palestina. 

Disisi lain, belum ada pertolongan yang benar-benar menghentikan penderitaan ini. Para pemimpin negara adidaya, lembaga internasional dan penguasa negeri-negeri meslim nyatanya tidak berdaya dan gagal menghentikan kejahatan tersebut. Bantuan yang bisa dilakukan masih dalam cakupan logistic dan kecaman. 

Sebenarnya untuk menghentikan kejahatan ini memang tidak bisa jika hanya dilakukan oleh satu atau negara muslim. Dibutuhkan kekuatan global baru yang mampu membebaskan Palestina.


Jihad Wajib Dilakukan 

Dalam pandangan Islam, jihad adalah membebaskan manusia dari kekufuran. Hal ini berbeda jauh dengan perang dalam paradigma orang kafir, Dimana mereka menganggap perang adalah untuk melakukan penjajahan bahkan genosida secara brutal.
 
Ketika kondisi Palestina hari ini dijajah secara fisik, maka sesungguhnya jihad juga wajib dilakukan untuk melawan penjajahan dan membela kehormatan umat muslim. Kewajiban ini ada dipundak seluruh umat muslim. Namun, kondisi hari ini dengan adanya nationstate, umat muslim tidak bisa bersatu untuk melakukan jihad fi sabilillah. 

Syariat Islam dalam mengatur peperangan juga sangat manusiawi. Dalam Islam wajib melindungi warga sipil, Perempuan, anak-anak dan lansia. Hal ini menunjukkan betapa mulianya Islam dalam mengatur kehidupan manusia. 

Maka, sudah saatnya umat muslim diseluruh dunia hari ini bersatu untuk menegakkan Islam kembali dalam bingkai Khilafah. Karena hanya dengan Institusi Khilafah, umat Islam bisa bersatu dan menghentikan kejahatan perang Zionis Israel dan negara-negara kafir dengan melakukan Jihad fi sabilillah. Selain bisa melakukan jihad, Institusi Khilafah juga memiliki misi dakwah untuk menebar rahmat bagi manusia seluruh dunia. Wallahu’alam




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar